
Alden menurunkan Valen di ranjang. Selama perjalanan mereka berdua hanya diam dan tidak bicara apapun.
Alden berharap Valen meminta maaf padanya karena dia sudah melakukan 2 kesalahan besar.
Sementara, Valen ingin Alden menjelaskan semua hal tentang Zoe.
Pernikahan mereka belum ada satu minggu, tapi masalah semakin banyak saja.
"Aku ingin jelaskan, kamu bicara apa saja dengan Zoe?" Valen membuka mulutnya dengan nada yang kurang enak didengar.
"Itu bukan soal penting. Kamu istirahat saja, karena aku akan kembali bekerja." Alden melepaskan pakaiannya yang terkena jackpot dari Valen.
"Alden, aku mau tau." paksa Valen. "Apa kamu ada perasaan dengan Zoe?" "Kenapa kalian mencurigakan?"
Alden berbalik untuk menghadap Valen. Dia seharusnya senang karena Valen cemburu pada Zoe. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk merasa bangga karena Valen benar-benar mencintainya.
"Valencia! Aku sudah sangat bersabar denganmu." "Tolong, kamu gunakan otakmu, kenapa aku bisa bicara dengan Zoe." bentak Alden.
Suara Alden yang terdengar marah membuat Valen menangis. Entah karena dia takut, atau memang bawaan bayi, tapi Valen tidak bisa menahan air matanya.
Alden yang sudah tersulut emosi tidak peduli pada Valen dan tetap meluapkan perasaannya.
"Aku itu tau betul, kamu anak orang kaya. Tapi aku mohon kamu jangan bergaul lagi dengan mereka." "Gara-gara mereka, kamu hampir saja mencelakakan anak kita." "Dan tadi, aku minta Zoe untuk tidak mengajakmu pergi lagi."
"Tapi Den.. Aku sangat stress mengalami ini semua. Aku butuh hiburan."
Alden tidak menyangka Valen akan menjawab lagi seperti itu. Sepertinya dia memang tidak menyesal setalah apa yang terjadi hari ini.
Alden menangkap kedua bahu Valen dengan tangannya. Dia sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Valen.
"Dengar nona Valencia yang terhormat. Yang stress itu bukan kamu saja, tapi aku!" ucap Alden penuh penekanan. "Aku minta kamu untuk tetap di rumah saja. Jangan membantah."
Air mata Valen semakin mengalir deras. Tapi, Alden tidak peduli. Dia sudah cukup pusing malam ini.
"Telepon kalau terjadi sesuatu. Aku akan pulang jam 6 pagi."
Alden hanya pergi begitu saja, meninggalkan Valen yang kini sudah membenamkan wajahnya pada guling.
*
*
__ADS_1
*
Alden kembali ke club setelah kejadian tadi. Bagaimanapun juga dia harus bekerja untuk membiayai kehidupan mereka.
Milka sudah membereskan semua kekacauan yang ditinggalkan Alden. Dia selalu siap menjadi backingan Alden karena selama bekerja Alden juga siap menjadi backingan nya ketika ada orang genit yang menggoda Milka.
Alden duduk di bangku sambil berdecak kesal. Ini membuat Milka jadi tertarik untuk mendengarkan curhatan dari Alden.
"Kenapa bro? Wanita tadi kenapa?" tanya Milka yang tadi sempat menyaksikan Alden menggendong seorang perempuan cantik dari ruang VIP.
"Dia itu bini gue." Alden mengeluarkan bahasa informalnya. Dia memang lebih senang untuk bicara bahas informal dengan Milka.
"Serius lo? Jadi bini lo itu masuk kelompok elite?" Milka melongo mendengar pengakuan Alden.
"Dulu.. sebelum dia diusir dari rumah."
"Alden, apa yang lo lakuin sampai dia di usir?" Milka semakin semangat mendengar cerita Alden.
"Gue nikah sama dia karena kecelakaan, Mil."
"Wah, lo gila sih..Gue kira lo ga suka sama cewe." ejek Milka disela perasaan terkejutnya.
"Jadi, kenapa dia pingsan?"
"Lo mau denger cerita gue sampe subuh?" tantang Alden.
"Ya intinya aja lah.. Gue jadi kepo nih." Milka mengambil kursi juga, lalu duduk didekat Alden.
"Ya, gue sedih aja. Gue udah usaha keras untuk tanggung jawab, tapi dia sepertinya makin sulit di kendalikan."
"Ya, lo harus pahami perasaan perempuan, Den." pesan Milka.
"Ya, mungkin ini juga bawaan bayi." sahut Alden lirih.
"Maksudnya?"
"Dia sedang hamil."
"Wah, Alden.. lo memang..." Milka tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Pantas saja Alden begitu marah ketika membawa Valen tadi. Dia tidak menyangka jika Alden married by accident.
"Milka,, setidaknya gue udah punya istri, gak kayak lo yang jomblo akut." ejek Alden.
__ADS_1
"Kurang ajar. Lo emang kejam." Milka meninju Alden kembali. Alden hanya tertawa karena berhasil membuat Milka kesal.
Ya, inilah hiburan Alden. Dia bisa sedikit melepaskan stress nya jika bersama dengan Milka.
"Alden.. ada minuman yang datang dari ekspedisi." teriak seorang pria yang merupakan manager Alden.
"Gue angkut barang dulu. Lo jaga sini dulu ya." pesan Alden pada Milka.
Milka menjawab Alden dengan kode tangan OK. Dia kembali mengelap meja meneruskan kerjaan Alden.
Telepon Alden yang di letakkan di meja berdering. Valen calling..
Milka membiarkan saja karena tidak mau mengurusi rumah tangga temannya itu.
1x..2x..7x telepon Alden masih berdering.
Akhirnya karena takut terjadi sesuatu, Milka mengangkat telepon dari istri Alden itu.
"Halo, Den.. kamu kenapa lama sekali?" "Aku takut.. Di sini sepi sekali."
"Maaf.. Alden sedang di depan. Nanti aku sampaikan pada Alden."
"Kamu siapa? Kenapa kamu yang angkat telepon Alden?" tanya Valen setengah berteriak.
"Aku ini teman Alden."
'Tut.. tut..' telepon terputus.
Milka meletakkan kembali ponsel Alden dan tidak mengambil pusing. Dia akan segera memberitahu Alden jika pria itu sudah kembali.
"Den, tadi istrimu menelepon. Dia bilang, kalau dia takut sendirian di rumah." lapor Milka begitu Alden duduk di bangku sebelahnya.
Alden mengelap keringat yang mengucur dengan punggung tangan, lalu dia diam saja sambil memandangi ponselnya.
"Lo ga pulang?" tanya Milka heran. "Sepertinya dia marah karena gue yang angkat teleponnya."
"Biarkan saja." ucap Alden dengan cueknya.
"Ckckckck" "Kok dia mau sama lo ya? Kalau gue sih ogah." Milka berlalu dari Alden sebelum Alden curhat kembali padanya.
Alden akui, dia cukup tertekan dengan sikap Valen yang belum bisa beradaptasi dengan kehidupan keluarga mereka. Selain itu, Valen juga mulai cemburuan dengan Alden. Apakah Alden bisa sabar terhadap Valen? Alden takut jika dia emosi berlebihan dan akhirnya menyakiti Valen.
__ADS_1