Valen For You

Valen For You
Vitamin


__ADS_3

Alden sudah sadar sepenuhnya. Dia menatap Valen yang tengah mengelap wajah Alden menggunakan handuk dan air hangat.


"Apa kamu butuh sesuatu sayang?" tanya Valen sambil menatap wajah Alden yang masih pucat.


Alden mengangguk lemah. "Kemari.." Alden menarik tangan Valen supaya mendekat.


'Cup.' sebuah ciuman mendarat di bibir Valen.


"Alden." Valen memukul pelan tubuh Alden yang masih saja sempat-sempatnya genit dengan kondisi tubuh yang masih lemah.


"Sayang, aku butuh vitamin yang manjur." ucap Alden lagi.


"Iya.. iya.. aku akan kasih kamu banyak vitamin." Valen menangkap wajah Alden dengan tangannya, lalu menghujani Alden dengan ciuman.


"Sudah belum?" tanya Valen setelah puas mencium Alden.


"Makasih sayang." Alden tersenyum lebar. Jelas saja energinya bisa cepat pulih jika mendapatkan vitamin seperti itu.


"Aku sangat khawatir tadi." Valen duduk di pinggir ranjang tanpa mengalihkan pandangan dari Alden.


"Lain kali aku akan lebih hati-hati." Alden memegang tangan Valen.


"Tadi kamu mengigau tentang Mom. Apakah kamu rindu pada Mom?"


Alden mengangguk. "Bahkan jika Mom Mira hanya seorang pembantu, aku akan lebih senang tinggal bersama Mom ku." pikiran Alden kembali pada kebersamaan dengan Mira dulu. Meskipun hanya sebentar, tapi itu sungguh berarti untuk Alden.


"Tolong ambilkan dompetku, Val." Alden melirik ke arah nakas.


Valen mengambil dompet Alden. Dia membuka dompet itu dan mengeluarkan sebuah foto lama.

__ADS_1


Alden memberikan foto itu pada Valen. Valen memandang foto yang sudah kusam dan sobek separuh itu sambil tersenyum. Alden jelas mewarisi wajah Mira. Mata dan hidung mereka sangat mirip.


"Sayang sekali aku tidak bisa mengenal Mom kamu."


"Mom sangat baik dan sabar."


"Kamu tidak pernah mencari siapa Daddy kamu?" tanya Valen penasaran. Alden sama sekali tidak pernah bercerita tentang Daddy nya.


"Untuk apa aku mencari tau tentang dia? Dia yang meninggalkan kami." kata Alden dengan suara tercekat.


"Tapi, siapa tau dia menyesal. Kamu kan tidak tau cerita yang sebenarnya." Valen mencoba memberi pengertian pada Alden. "Apa kamu punya fotonya?"


Alden menggeleng. Mira sama sekali tidak memberitahu Alden siapa laki-laki itu. Kalaupun Alden tau, Alden sudah pasti akan menghajarnya habis-habisan.


"Sayang, kamu istirahat saja dulu." Valen mengambil dompet Alden, lalu memasukkan kembali foto itu ke dompet suaminya. Dia bangun dari ranjang dan menyelimuti Alden yang terlihat sedih setelah membicarakan keluarganya.


"Kamu pulang saja. Dan istirahat di rumah." perintah Alden.


"Val... kamu sedang hamil. Di sini sangat tidak nyaman. Aku tidak ingin berdebat denganmu." Alden sudah menyampaikan ultimatum nya pada Valen.


"Tapi..."


"Aku baik-baik saja." "Besok aku akan minta pulang." Alden mengusap lembut tangan Valen.


"Aku akan kembali nanti malam sekalian membawa mobilmu." Valen akhirnya menyerah.


"Oke. Hati-hati sayang."


Sebelum pergi, Valen kembali mencium bibir Alden.

__ADS_1


"Hubungi aku jika ada apa-apa." ucap Valen yang sebenarnya tidak rela pergi meninggalkan Alden.


*


*


*


Valen memandang sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dia jelas tau siapa pemilik mobil itu. Pertanyaan nya, kenapa pemilik mobil itu kemari?


"Val.. tunggu." suara bass Jason menghentikan langkah Valen yang sudah akan masuk ke dalam rumah.


Sedetik kemudian, Jason sudah berada di depan Valen. Pria itu memandang Valen tanpa berkedip. "Apa kamu baru saja menangis? Apa gara-gara Alden lagi?" Jason menginterogasi Valen sambil meneliti ekspresi wanita itu.


"Jas, sudahlah. Ini urusanku dengan Alden." Valen sudah sangat lelah mengurusi Jason. Dia pikir Jason akan menyerah setelah Valen keluar kerja. Tapi, Jason kembali muncul dan masih begitu memperhatikannya.


"Mana suamimu?"


"Dia sedang di rumah sakit. Aku hanya ingin beristirahat dan nanti kembali ke sana." jelas Valen sambil lalu.


Jason menahan pintu, tepat saat Valen akan menutupnya.


"Aku akan temani kamu di sini." ucap Jason dengan yakin.


"Kamu sudah gila ya?"


"Val, kalau terjadi sesuatu padamu, Alden pasti akan sedih." "Aku akan tetap menemani kamu. Kalau kamu keberatan, aku akan tunggu di mobil."


"Terserah kamu saja lah. Aku lelah dan ingin tidur."

__ADS_1


Valen benar-benar menutup pintunya tanpa mengijinkan Jason masuk. Dia tidak mau tetangga akan menggunjingnya atau bahkan menggrebeknya seperti yang ada di film-film.


Jason tersenyum pahit. Baru beberapa hari tidak bertemu Valen, dia sudah sangat rindu pada wanita itu. Biarlah ini jadi kebodohan Jason yang menjaga istri orang. Sekarang yang penting Jason bisa menjaga Valen untuk sementara menggantikan Alden.


__ADS_2