Valen For You

Valen For You
Sosialita


__ADS_3

Valen masuk ke dalam restoran Korea di dekat rumahnya. Mata Valen menjelajahi ke seluruh ruangan, dan pandangannya berhenti pada sekumpulan wanita muda yang sedang asyik tertawa.


"Zoe.." panggil Valen sambil melambaikan tangannya.


Zoe berdiri dan membalas lambaian tangan Valen. Mereka berdua bertemu di tengah, lalu cipika cipiki seperti kebiasaan jika mereka bertemu. Zoe sedikit heran dengan perubahan Valen. Dia tampak lebih berisi dan chubby. Selain itu, Valen juga tidak memoleskan make up, membuat wajahnya sedikit kusam.


"Lama banget sih ga ketemu sama kamu, Beb." ucap Zoe heboh. Sudah beberapa bulan ini, tepatnya sejak pacaran dengan Alden, Valen jarang berkumpul dengan kelompok sosialitanya. Dia lebih suka jalan berdua Alden.


Zoe membawa Valen untuk duduk, di mana teman-teman sosialita yang lain sudah menunggu.


"Hey, Val.." sapa Sandra.


Valen hanya tersenyum kecil. Dia memilih duduk di pojok, supaya mereka tidak menyadari keberadaannya. Jika sudah berkumpul seperti ini, mereka pasti membicarakan harta dan barang-barang branded. Valen harus sadar, jika sekarang dia tidak memiliki apapun. Bahkan AC saja tidak punya.


"Val, gue ke klinik lo, tapi kok tutup sih?" tanya salah seorang yang duduk di sebelah Zoe.


"Itu, aku pensiun menjadi dokter." jawab Valen gugup.


"What? Kamu kenapa melepas karir? Kamu mau menikah?" sahut Sandra dengan wajah terkejut. "Dengan yang kemarin..." Sandra mencoba mengingat nama pacar Valen. "Alden Sebastian!" pekiknya.


"Alden Sebastian? Tunggu dulu.." Zoe menginterupsi mereka. "Maksudmu adik dari Samuel Sebastian?" teriaknya kaget. Dia tidak menyangka jika Valen pacaran dengan Alden yang notabene salah satu penerus dari keluarga Sebastian.


"Pantas saja kamu tutup kliniknya." Zoe menyandarkan badan di kursi. Jika Valen menikah dengan salah satu keturunan Sebastian, hidupnya sudah dapat dipastikan nyaman dan bergelimang harta.


"Memangnya siapa keluarga Sebastian itu?" tanya teman mereka yang lain.


"Asal kalian tau saja, mereka punya banyak rumah sakit. Belum bisnis lainnya." "Bukannya mantan suami Sandra juga sepupu Alden?" jelas Zoe dengan semangat.


"Hey, jangan cerita masa lalu.. aku sudah move on." protes Sandra.

__ADS_1


"Eh, tapi kenapa Alden bekerja di club bukan di perusahaan ayahnya?" Sandra tiba-tiba teringat akan pertemuannya dengan Valen beberapa hari yang lalu.


"Oh.. itu.. Dia hanya bosan saja..Biasalah.." jawab Valen sambil tertawa kecil.


Entah kenapa, Valen menikmati kebohongan ini. Dia malu untuk bercerita jika dia di usir dari rumah dan harus hidup susah sekarang.


"Wah, kamu sungguh beruntung, Val. Tidak dapat kakaknya, adiknya pun jadi." ucap Zoe senang karena Valen begitu beruntung mendapatkan Alden.


"Ya, untuk merayakan ini, semua biar aku yang bayar." "Kalian boleh pesan sepuasnya." Valen menyilangkan kaki sambil mengibaskan rambutnya.


"Wah, terimakasih nyonya Sebastian."


"Mari kita bersulang untuk bestie kita, Valencia Bramantyo." Sandra mengangkat gelas soju nya.


Valen menolak untuk minum, tapi mereka memaksa Valen untuk ikut minum juga. Valen tidak punya pilihan lain. Dia terpengaruh teman-teman nya untuk ikut minum juga. Dia berdalih dalam hati jika minum sedikit mungkin tidak apa-apa.


Seperti biasa, mereka melanjutkan acara makan mereka sambil berbincang tentang barang-barang yang baru mereka beli. Kehidupan sosialita memang selalu seperti ini.


"Aku ke belakang dulu Zo.." Valen terburu-buru ke belakang sebelum dia memuntahkan isi perutnya di sana.


"Tunggu Val..aku ikut." Zoe mengambil tasnya lalu mengikuti Valen.


'Hoek' Valen memuntahkan semua isi perutnya di dalam closet. Zoe membantu Valen dengan memijit lehernya.


"Kamu kenapa sih Beb?" tanya Zoe khawatir.


"Perutku mual sekali."


"Kamu seperti orang hamil saja. Mual-mual." Zoe tertawa cekikikan.

__ADS_1


"Zo, aku memang sedang hamil." aku Valen.


"Val, Lo gila ya." Zoe menatap Valen dengan pandangan kosong. Jadi, Valen terlihat lebih chubby dan berisi karena dia sedang hamil?


"Lo hamil anak Alden?"


Valen mengangguk lemah. Zoe adalah sahabat terbaiknya, jadi dia tidak ingin menyembunyikan ini dari Zoe.


"Valencia, lo bener-bener gila." Zoe keluar dari toilet karena ingin mencari udara segar.


Valen mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Dia lalu pergi untuk menemui Zoe lagi.


"Terus, orang tua lo gimana, Val?" tanya Zoe dengan nada sedikit tinggi. Dia tahu betul, Valen adalah kesayangan Bram dan Ester. Bagi orang tua Valen, anaknya itu bagaikan berlian yang sangat mereka jaga.


"Mereka udah usir gue dan Alden."


"Jadi, sekarang lo gimana?" Zoe mulai frustasi dengan cerita Valen.


"Aku sudah menikah dengan Alden." aku Valen sambil menunduk.


"Syukurlah. Setidaknya kamu punya tempat tinggal yang nyaman di keluarga Sebastian."


"Alden juga di usir dari rumahnya. Dan kami sekarang mengontrak sebuah rumah kecil."


Zoe kini sudah tidak bisa berkata kata lagi. Dia memeluk Valen sambil mengusap punggungnya. Malang sekali nasib Valen. Bagaimana dia bisa menjadi kehidupan ke depannya?


"Gue pinjem duit lo dulu ya.. untuk bayar makanan malam ini. Nanti gue ganti kalau Alden udah gajian." ucap Valen pada Zoe yang masih memeluknya.


"Ya gue transfer ke rekening lo. Sisanya lo simpen aja untuk beli keperluan. Dan gue ga akan ceritain ini ke siapapun." Zoe melepaskan pelukannya. Dia menatap sohibnya dengan sedih.

__ADS_1


"Thanks Zoe..Lo memang sahabat terbaik gue."


__ADS_2