Valen For You

Valen For You
Draft


__ADS_3

Alden lupa dengan janjinya. Dia terlalu senang dan ingin segera menemui Valen. Sudah pasti Bram tidak mengijinkan dia untuk masuk dan menengok Valen. Dan Alden yakin jika setelah ini Bram ingin supaya Valen bercerai dengannya. Itu memang rencana awal Bram. Dia mendekatkan Valen dan Jason dengan harapan jika Valen akan bersanding dengan pria itu setelah menceraikan Alden.


"Maaf, Om." ucap Alden lesu. "Tolong jaga anakku..dan kalau boleh aku ingin memberikan nama untuknya. Aku ingin nama anakku Alana karena dia sangat kuat melewati ini semua." Alden sudah pasrah. Dia berbalik untuk pergi dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.


"Alden.. siapa yang bilang kamu untuk pergi?"


Alden menghentikan langkahnya.


"Cepat kemari." panggil Bram.


Alden berbalik untuk menghampiri mertuanya.


Bram memandang Alden yang bahkan tidak menggunakan sandal ke rumah sakit. Dia pasti begitu panik karena Valen.


Bram diam sejenak lalu dia menghela nafas panjang.


"Alden, mungkin ini terdengar sangat konyol. Tapi, aku akan memberikan Valen untukmu. Aku tidak akan menghalangi kalian lagi."


"Om.." Alden tidak dapat berkata-kata lagi karena ucapan yang baru diucapkan oleh Bramantyo.


"Panggil saja, Daddy atau Papi." ralat Bram.


Alden jatuh tersungkur di kaki Bram. Dia kembali sujud pada Bram untuk keempat kalinya, tapi kali ini dengan rasa penuh syukur.


"Maafkan Aku, Alden. Sudah, kamu jangan seperti ini. Ayo bangun dan temui Valen." Bram membantu Alden untuk berdiri.


"Boleh aku memeluk Daddy dan Mom?" tanya Alden dengan pandangan nanar. Dan tanpa menunggu jawaban dari Bram, Alden lebih dulu memeluk mertuanya bergantian.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, kamu masih harus di didik olehku." bisik Bram.


"Ya, Alden akan lakukan apapun termasuk kalau Dad minta Alden membersihkan kaca jendela kantor." janji Alden senang.


"Kita bicarakan itu nanti. Sebaiknya kita masuk dulu dan lihat kondisi Valen."


*


*


*


Ruangan itu begitu hening. Tidak ada suara apapun kecuali alat EKG yang menampilkan aktivitas detak jantung Valen. Sementara itu, Valen masih tertidur dengan wajah yang pucat. Dokter bilang jika Valen kehilangan banyak darah, tapi untung mereka bisa menambah trombosit Valen.


Ya, Valen berjuang untuk tetap hidup dan Alden berterima kasih karena Valen sudah bertahan sejauh ini. Alden duduk di kursi sambil memegang tangan Valen, sedangkan Bram dan Ester berdiri di belakang Valen.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Alden mencium tangan Valen saking senangnya. Dia juga membelai rambut Valen dengan lembut.


"Aku belum mati, kan?" ucapnya sambil memandang Alden.


"Kamu baru saja melahirkan anak yang cantik." kata Alden menenangkan Valen.


"Anak? Aku sudah melahirkan?" Valen menengok ke arah perutnya. Valen tidak merasakan apapun karena sebagian badannya terasa mati rasa.


"Ya, namanya Alana Sebastian."


"Alana? Sebastian?" Valen menirukan ucapan Alden barusan. Dia seperti teringat sesuatu, tapi Valen lupa apa persisnya.

__ADS_1


"Apa namanya jelek? Kamu tidak suka?" tanya Alden hati-hati.


"Nama yang cantik."


"Val, mulai saat ini, Dad dan Mom sudah janji akan menerima Alden sebagai suamimu." ucap Ester yang sejak tadi hanya diam dan menangis.


"Dad,,benar?" Valen beralih dari Alden untuk memandang wajah Bram.


"Ya,, Dad masih berupaya, tapi Dad gak akan menghalangi kalian lagi. Maafkan Daddy, Val. Kamu ternyata memang untuk Alden. Dad gak bisa memisahkan kalian." jelas Bram dengan penuh penyesalan.


"Thanks, Dad, Mom.." air mata Valen meluncur keluar karena dia terharu. Akhirnya perjuangan mereka terbayarkan.


"Kamu harus cepat pulih, sayang." Alden menghapus air mata Valen sambil tersenyum. Sekarang yang perlu Alden lakukan adalah memberikan Valen semangat supaya dia cepat sembuh dan mereka akhirnya bisa memulai kehidupan mereka sebagai suatu keluarga yang utuh bersama dengan Alana.


"Kalau gitu, beri aku vitamin C."


"Kami akan lihat Alana dulu. Kalian nikmati saja." Bram mengajak Ester keluar karena dia tau apa yang ingin mereka lakukan.


Sekarang di ruangan hanya ada Alden dan Valen. Mereka saling tatap dalam diam.


"Apa masih sakit?" Alden memulai pembicaraannya.


Valen menggeleng lemah. "Asal kamu di sini, aku akan baik-baik saja."


"Aku akan selalu di sini untukmu, sayang." Alden mengecup kening Valen, lalu berpindah ke bibirnya.


"Aku mencintaimu, Val."

__ADS_1


"Me too.." Valen tersenyum senang sambil terus memandangi suaminya. Apa yang ditakutkan Valen sudah terlewati. Siapa sangka hati Bram ikut melunak sehingga bisa menerima Alden. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan untuk Valen.


__ADS_2