
Alden terbangun karena dia sangat haus. Dia terlebih dulu duduk di pinggir ranjang untuk mengumpulkan nyawa dan mengingat apa yang terjadi. Dia ingat jika Zoe dan Milka membawanya ke rumah. Dia juga ingat wajah kecewa Valen ketika berdiri di depan pintu.
Ya, Valen. Alden tidak melihat Valen di ranjang. Kemana dia?
Alden segera beranjak dan mengecek keluar. Langkahnya terhenti karena melihat Valen sedang tertidur di sofa. Istrinya itu meringkuk di balik selimut. Perlahan Alden mendekat. Dia memperhatikan wajah Valen yang begitu kelelahan.
"Kasihan sekali dia." ucap Alden lirih. Dia menggendong Valen dan memindahkan wanita itu ke dalam kamar.
Alden berbaring di sebelah Valen, masih sambil memandangi Valen.
"Maafkan aku, Val. Aku tidak menyangka kalau kisah kita akan menjadi seperti ini." ucap Alden sambil membelai dengan lembut rambut panjang Valen.
Valen yang merasakan kehangatan Alden langsung bereaksi. Dia menyusup masuk dalam dada Alden, lalu memeluknya bagai memeluk guling.
"Nyaman sekali." igau Valen.
Alden tersenyum. Sudah lama sekali dia tidak merasakan pelukan Valen. Selama bersitegang, mereka hanya tidur saling membelakangi.
"Den.." Valen yang mendapatkan ciuman di kepalanya segera terbangun. Dia memandang Alden tanpa melepaskan pelukannya.
"Tidur lagi, sayang." kata Alden sambil menepuk lembut punggung Valen.
"Aku minta maaf." Valen rupanya ingin memanfaatkan moment ini untuk meminta maaf pada Alden.
__ADS_1
"Buat apa, sayang?"
"Karena sudah pergi tanpa ijin dan sudah menemui pria lain." jelas Valen penuh penyesalan.
"Aku yang minta maaf karena tidak becus menjadi seorang suami yang baik untukmu." Alden juga mengakui kesalahannya dengan gentle.
'Cup.' Valen mengecup bibir Alden.
Sebuah perkataan maaf saja sudah cukup membuat mereka berbaikan.
Alden mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka saling bersentuhan. Dia lalu mencium Valen kembali dengan penuh kasih. Hormon mereka bekerja dengan baik jika sudah seperti ini. Baik Valen dan Alden tidak lagi mempedulikan permasalahan yang terjadi di antara mereka. Saat ini mereka hanya ingin menyalurkan perasaan rindu satu sama lain lewat ciuman.
"Tidurlah, sayang." "Kamu pasti sangat lelah." Alden menghentikan kegiatan mereka sebelum kebablasan. Dia sekarang harus lebih baik menjaga Valen dan anaknya yang masih baru jalan 3 bulan. Bayi itu masih rentan dan sejak awal kehamilan, Valen selalu mendapatkan guncangan.
Valen mengangguk. Dia akhirnya bisa tidur nyaman malam ini sambil memeluk Alden.
*
*
*
"Pagi, istriku." sapa Alden ketika Valen membuka mata.
__ADS_1
Valen terdiam cukup lama, menikmati pemandangan yang terpampang di depannya itu. Alden Sebastian adalah pria tampan yang selalu membuat Valen berdebar.
Rasanya Valen begitu lega karena mereka bisa berbaikan tanpa banyak drama lagi.
"Pagi, suamiku." jawab Valen setelah puas memandangi Alden.
"Aku sudah menyiapkan makan pagi untukmu." kata Alden sambil merapikan rambut Valen.
"Kamu rajin sekali. Aku sampai malu." Valen menyadari jika dirinya tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah. Sejak kecil, Valen hanya berfokus pada belajar, jadi Ester tidak mengijinkan dia untuk menyentuh pekerjaan rumah. Tapi, akhirnya sampai saat ini Valen tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah.
"Kamu istirahat saja, sayang. Tidak perlu melakukan apapun. Lagipula rumah ini kecil dan tidak butuh perawatan."
"Alden..." Valen terharu mendengar ucapan suaminya yang begitu pengertian. Kalau sedang seperti ini, Alden terlihat sangat dewasa. Meskipun dia lebih muda dari Valen, tapi Alden justru sangat kebapakan.
"Ayo, kita makan dulu. Aku akan berangkat lebih pagi karena ada perlu." Alden menggendong Valen dengan mudahnya. Dia ingin memanjakan Valen setelah mereka bertengkar akhir-akhir ini.
Alden benar-benar membuat Valen tercengang. Di meja makan sudah tersedia cream soup kesukaan Valen. Dia memang ingin memakan itu sejak kemarin, tapi Valen tidak jadi beli karena harus terburu-buru pergi bekerja.
"Oh iya, Val. Apa Daddy mu menelepon kamu akhir-akhir ini?" tanya Alden sambi menuangkan air putih untuk mengisi gelas di depan Valen.
"Hmm,, tidak. Kenapa?" Valen terpaksa berbohong lagi karena tidak mau bertengkar lagi dengan Alden.
"Tidak apa-apa. Sepertinya mereka memang belum memaafkan kita. Sama dengan Daddy ku."
__ADS_1
Valen memakan soup nya tanpa banyak bicara. Apa jadinya jika Alden tau jika Bram sudah menyiapkan sebuah rencana untuk memisahkan mereka. Kehidupan ini sungguh begitu rumit. Valen hanya bisa berharap dia bisa membantu keuangan Alden sehingga kehidupan mereka bisa lebih baik.