
Valen cukup terkejut ketika melihat Zoe duduk di tepi ranjang dengan memegang piring yang sudah kosong. Itu artinya Zoe yang menyuapi Alden. Tapi, kenapa Zoe bisa berdua saja dengan Alden di kamar rumah sakit ini? Apa hubungan Zoe dengan Alden? Dan Valen baru ingat jika yang memberitahunya Alden masuk ke rumah sakit adalah Zoe. Kenapa orang-orang menelepon Zoe padahal Valen ada di daftar nomer darurat ponsel Alden?
Valen sebenarnya sangat ingin marah, tapi dia urungkan karena Valen tidak tega melihat kondisi Alden yang masih pucat. Valen sudah berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak langsung bicara pada Alden jika sedang emosi.
"Val, sorry.." Zoe yang merasakan tatapan dingin dari Valen langsung berinisiatif untuk minta maaf.
Valen membalas Zoe dengan senyuman. "Hai, Zo. Kamu di sini?" sapanya dengan ramah seperti biasa.
"I.. iya. Aku mengkhawatirkan kamu." ucap Zoe terbata.
"Aku baik-baik saja, Zo. Aku memang kemalaman karena tadi ketiduran."
"Sayang, aku ingin minum." Alden menarik Valen untuk mendekat kepadanya.
"Oke.." Valen mengambil gelas dengan sedotan yang ada di nakas, lalu mengarahkan ke dekat Alden.
Tidak ada 1 menit, Alden sudah menghabiskan minumnya.
"Kamu sepertinya sangat haus." kata Valen sambil menatap Alden dengan intens.
"Malam ini, temani aku tidur di rumah sakit." pinta Alden yang juga memandang Valen tanpa berkedip.
"As you wish, baby. Aku akan belajar untuk menurutimu." Valen memegang pipi Alden, lalu mengusapnya dengan pelan. "Apakah kamu masih sakit?"
Alden menggeleng. "Aku tidak sakit karena kamu ada di sini." gombalnya. Alden sedikit bergeser, lalu dia menepuk bagian kosong ranjangnya. Itu adalah kode supaya Valen naik ke atas ranjang. "Aku ingin bicara dengan baby kita."
"Den, malu..Ada Zoe di sini." ucap Valen lirih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Beb. Aku bantu kamu ya." Zoe memegangi Valen ketika Valen naik ke ranjang Alden.
Ranjang itu begitu pas untuk mereka berdua. Alden tidur menghadap Valen. Dia langsung mengusap perut Valen dengan lembut.
"Hay, anak Daddy. Kamu lagi apa?" Alden mulai berinteraksi dengan anaknya.
Valen merasakan bayi di dalam perutnya bergerak. Dia belum terbiasa dengan hal ini, tapi dia sangat senang karena bayinya merespon Alden.
"Sayang, dia menendang-nendang." kata Alden kagum. Alden bahkan tersenyum begitu lebar saat melihat secara langsung pergerakan di perut Valen setelah Valen sedikit membuka kaosnya.
Zoe terpaku di tempat melihat kedua orang itu bermesraan. Dia merasa seperti orang bodoh yang sedang berada di tempat yang salah.
"Ehm.. sepertinya gue harus pergi dulu. Cepat sembuh, Den.." "Val, gue balik ya." pamit Zoe pada Valen dan Alden.
"Thanks Zo. Hati-hati di jalan." jawab Valen. Sedangkan Alden tampak tidak terlalu peduli pada Zoe karena dia sibuk dengan bayi yang ada di perut Valen.
"Sayang, boleh aku bicara?" tanya Valen dengan lembut.
"Kenapa Val?" Alden menutup kaos Valen, lalu berfokus pada wanita itu.
"Tadi Jason ke rumah. Aku sudah mengusirnya, tapi dia tetap ingin menunggu ku di ruang tamu." jelas Valen secara jujur.
Alden cukup terkejut dengan pengakuan Valen. Kenapa Valen tiba-tiba bicara soal Jason?
"Aku tau, Den. Aku bukan sedang ingin memancing emosimu. Aku hanya ingin bersikap jujur padamu." Valen memegang tangan Alden yang jauh lebih besar dari tangannya. Dari ekspresi Alden, sudah pasti pria itu sedikit emosi.
"Bukankah suatu hubungan akan berjalan dengan baik jika saling jujur?" "Jadi aku ingin jujur padamu." "Jadi, memang Jason menunggu. Tapi, ketika aku ke rumah sakit, dia juga pergi. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku juga tidak bicara apapun padanya."
__ADS_1
"Hmm.. lalu?" Alden tampak menaikkan satu alisnya. Dia masih belum mengerti akan alur cerita dari Valen.
"Itu saja. Aku hanya ingin laporan padamu." Valen diam sejenak. "Aku harap kamu juga jujur padaku tentang Zoe."
"Zoe?"
"Ya. Zoe itu seharian ini tampak begitu aneh. Dia yang memberitahuku soal kejadian ini. Selain itu, dia tadi ke sini dan menyuapi mu. Aku sedikit khawatir."
Alih-alih menjawab, Alden malah tertawa. Dia mengeratkan pegangan tangannya dengan Valen.
"Jadi, kamu curiga pada Zoe?"
Valen mengangguk lemah.
"Sayang,, aku tidak akan mungkin melakukan hal yang aneh dengan Zoe. Aku jamin 1000%. Aku memang bad boy, tapi aku tidak akan mempermainkan perasaan perempuan." "Kamu tau sendiri berapa kontak perempuan di ponselku."
Valen masih terdiam mendengar penjelasan Alden. Kontak Alden memang sangat sedikit. Valen hanya menemukan beberapa kontak perempuan dan itu tidak sampai 10 biji. Yang Alden save hanya Valen, Mom Lidia, Milka, Zoe dan petugas asuransi.
Tapi, tetap saja Alden menyimpan nomer Zoe.
"Sayang, sampai kapanpun, aku akan berjuang untuk pernikahan kita ini. Aku sangat bahagia memilikimu sebagai istriku." imbuh Alden.
"Gombal." kata Valen sambil tertawa.
"Terimakasih karena kamu bisa bertahan dengan orang susah seperti aku." "Setelah gajiku keluar, aku janji akan membawa kamu pindah ke apartemen yang lebih baik."
Valen memeluk Alden dengan hati-hati. Baginya ucapan Alden tadi sudah cukup meyakinkan jika Valen tidak salah memilih suami. Meskipun pada awalnya mereka sering bertengkar, tapi nyatanya hubungan mereka sampai saat ini semakin dekat. Valen juga sudah bisa mulai memahami Alden dan kondisinya. Dia juga mulai terbiasa hidup sederhana. Semoga hubungan mereka bisa tetap hangat seperti ini.
__ADS_1