Valen For You

Valen For You
Ingin terus bersama


__ADS_3

Steve kembali ke rumah dengan perasaan tidak karuan. Dia bahkan melewatkan Zoe yang tengah bersantai di ruang tengah.


"Dad..apa Dad sakit?" tanya Zoe yang langsung berdiri ketika melihat Steve berjalan dengan lesu.


"Dad ingin sendiri dulu, Zo." Steve memberikan tanda supaya Zoe tidak mendekatinya.


Steve masuk ke dalam kamarnya dan Zoe bisa mendengar suara pintu yang di kunci dari dalam.


"Kenapa dengan Daddy? Apakah dia ada masalah dengan Alden?" Zoe bertanya dalam hati. Tidak biasanya Steve terlihat muram seperti ini.


Zoe segera mengambil ponselnya untuk bertanya pada Alden. Dia menelepon Alden, tapi pria itu tidak mengangkatnya. Ya, tentu saja, Alden tidak mungkin mengangkat telepon Zoe karena dia sedang berduaan dengan Valen di rumah sakit.


Tapi, dugaan Zoe salah karena tak lama ponselnya berdering tanpa WA masuk.


Ada apa Zo? Tuan Steve sudah pulang ke rumah, kan?


Zoe dengan cepat membalas pesan dari Alden.


Ya, dia sudah pulang. Tapi, apakah terjadi sesuatu di sana? Dad terlihat sedih setelah pulang dari rumah sakit.


Tidak ada. Dia hanya menemui ku sebentar saja.


Ya sudah. Tidak apa-apa. Kenapa kamu belum tidur? Apakah kamu sedang mengobrol dengan Valen?


Alden tidak membalas lagi. Sudah pasti Alden tidak akan membalas pertanyaan konyol dari Zoe. Harusnya Zoe tidak perlu bertanya macam-macam. Zoe kembali duduk di sofa sembari menghela nafas panjang. Bayangan Alden malam itu terus menghantui pikiran Zoe. Alden menyelamatkan dan menggendongnya seperti dalam drama Korea. Zoe juga bisa merasakan kehangatan pria itu. Meskipun wajahnya sangat jutek, tapi harus Zoe akui jika Alden begitu tampan.

__ADS_1


"Zoe Stevenson, apakah kamu menyukai suami temanmu sendiri?" Zoe bermonolog sendiri. Dia membuka folder ponselnya, dan membuka foto Alden yang dia ambil secara Candid. Zoe menyunggingkan senyum ketika memandang wajah Alden.


*


*


*


Sementara itu di kamar, Steve sudah mengobrak abrik seluruh isi lemarinya. Dia mencari kembali sebuah kotak yang dia simpan selama puluhan tahun.


Kotak itu berdebu dan kuncinya sudah karatan. Steve membuka paksa kotak itu dengan tidak sabar. Di dalam, ada kumpulan fotonya bersama dengan Mira alias kekasih Steve sebelum menikah. Steve kembali menangis memandang kenangannya itu. Cinta pertamanya begitu tragis. Steve bahkan tidak tau jika Mira sakit parah dan sampai menyumbangkan jantungnya untuk Samuel Sebastian.


"Sayang, kenapa kamu begitu kejam? Kamu tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan anak kita." ucap Steve dengan suara bergetar. "Sekarang apa yang harus aku lakukan terhadap anak kita?" "Apa yang akan aku lakukan pada Zoe?"


"Mira.. apa kamu tau? Anak kita tumbuh begitu tampan dan kuat. Dia bahkan melindungi aku dari serangan orang asing. Aku begitu bangga padanya." Steve terus bermonolog sendiri sambil memandang foto Mira yang sudah kusam.


Telepon Steve tiba-tiba berdering memecah keheningan di kamar itu. Steve melihat layar cukup lama. Tapi, Steve akhirnya mengangkat telepon dari Samuel Sebastian.


"Halo, Dokter Samuel. Kenapa anda menelepon malam-malam seperti ini?" Steve mencoba tetap tenang.


"Saya tidak suka basa basi, Bapak Stevenson." "Saya hanya ingin bertanya, apakah anda benar kekasih Mira?" tanya Sam to the point.


"Ya,," jawab Steve singkat.


Suara Sam menghilang. Tapi, Steve jelas dapat mendengar suara ******* putus asa dari Samuel.

__ADS_1


"Apa kamu penerima donor jantung dari Mira?" Steve membuka percakapan ke arah yang lebih dalam.


"Benar. Saya mendapatkan donor jantung dari kekasih anda."


"Sam, kita harus bertemu sekarang." Steve tidak kuasa untuk menahan tangisnya lagi. Setidaknya, ada bagian dari Mira yang masih berada di dalam tubuh Sam. Dia sangat rindu dan ingin memeluk Mira.


"Saya berencana untuk tidak pernah menemui anda." jawab Sam dengan nada sinis. "Begitu juga dengan Alden." lanjut Sam.


"Tapi, Alden anak kandung Om."


"Ya, saya hanya ingin bilang pada Om, jika hidup Alden sudah cukup sulit." "Om sudah meninggalkan Alden dan sebaiknya Om konsisten dengan itu." "Jangan tiba-tiba kembali dan muncul seolah Om tidak tahu apa-apa. Padahal Om sendiri yang menyebabkan segala kesusahan dalam hidup Alden."


"Apa maksudmu, Sam?"


"Om saya harus bilang, sampai kapanpun Alden adalah keluarga Sebastian. Om tidak perlu membuat semua jadi lebih rumit."


"Tapi, kalian sendiri sudah membuang Alden dari keluarga Sebastian." sindir Steve secara telak.


"Dad akan memaafkan Alden."


"Saya akan tetap bicara pada Alden jika saya adalah Dad Alden yang sebenarnya.".


"Silahkan saja jika Om mau Alden membenci Om." Sam mematikan telepon secara sepihak.


Ucapan Sam yang terakhir itu sukses membuat Steve jadi berpikir. Jika Steve bicara pada Alden sekarang, pasti Alden tidak akan mau menemuinya lagi. Steve masih ingin terus bersama Alden sampai sisa hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2