
Bram berlari di sepanjang koridor untuk mencari ruangan dimana Valen di rawat. Dia sangat panik ketika mendapat telepon kedua dari Ester yang mengatakan jika Valen tidak baik-baik saja. Bram bisa menemukan ruangan dengan cepat karena suara tangisan Ester terdengar sampai keluar.
Di dalam, Ester tampak menangis meraung-raung. Sedangkan Jason berdiri tak jauh dari Ester, sedang menatap kosong ke arah Valen. Valen sendiri juga sedang menangis tanpa suara.
"Valen, kamu kenapa?" Bram mendekati Valen dan langsung duduk di sampingnya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Valen, akhirnya Bram bisa memandang putri kesayangannya itu.
Valen tidak menjawab dan malah memandang Bram dengan pandangan yang sulit dijelaskan.Bram membantu Valen bangun, lalu memeluk putrinya.
"Dad di sini, Val."
Begitu mendengar suara Bram di telinganya, tangis Valen pecah. Dia menangis seseunggukan dalam pelukan Bram. Hati Bram sangat teriris mendengar tangisan Valen dan Ester. Dia makin bingung dengan keadaan ini.
"Kondisi Valen sedang tidak baik, Om." Jason mengambil inisiatif untuk menjelaskan. Saat ini Valen dan Ester masih shock. Jadi, pasti mereka tidak bisa menceritakan apa yang terjadi dengan Valen.
"Valen mengidap sindrom HELLP." Jason lalu menjelaskan tentang sindrom langka yang di derita ibu hamil. "Sindrom itu berbahaya untuk Valen dan bayinya. Tadi dokter sudah melakukan pemeriksaan pada janin. Seharusnya langkah terbaik adalah mengeluarkan janin itu segera. Tapi, dokter tidak bisa melakukan itu karena fungsi paru-paru janin belum matang. Jadi, mereka akan menunggu sampai semua organ janin berfungsi dengan baik, baru akan dilakukan operasi Caesar."
Bram bagai tersambar petir. Dia sudah tidak bisa berkata apapun selain menahan air matanya. Sekarang dia tau kenapa Ester-Valen begitu sedih sampai menangis seperti itu.
"Dad.." panggil Valen lemah.
"Ya, sayang."
"Aku setuju untuk bercerai dengan Alden." ucap Valen lemah.
__ADS_1
Bram melepaskan pelukannya. Dia menatap Valen yang tampak sudah tidak bertenaga. Pandangannya pun kosong.
"Valen, maafkan Dad." kata Bram penuh penyesalan. Dia memang tidak ingin Valen bersama Alden, tapi kata-kata Valen barusan terdengar begitu menyakitkan. "Jangan pikirkan itu dulu, Val." "Kita fokus saja dengan kesehatan kamu dan bayi kamu."
"Jas, apa ada solusi lain?" tanya Bram tanpa menengok ke arah Jason.
Jason terdiam sesaat. "Tidak ada. Kalau Valen ingin mempertahankan bayinya, itu satu-satunya cara. Tapi, Valen harus menjaga kondisi tubuhnya dengan baik."
"Val, kenapa nasibmu seperti ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" erang Bram.
Valen menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya sudah tidak dapat berpikir setelah dihantam dengan badai seperti ini. Dia tadi juga mendengarkan penjelasan dokter yang mengatakan jika dia mempertahankan bayinya, nyawanya yang bisa terancam. Atau bahkan yang lebih buruk, keduanya bisa tidak bisa selamat.
"Dad, yang penting jangan bilang ini pada Alden." pinta Valen yang sejak tadi memikirkan keadaan Alden.
"Iya, Val. Apapun yang kamu mau, kami akan turuti." ucap Bram dengan suara tercekat.
Jason menunggu beberapa saat sampai keluarga itu tenang. Mereka sedang melakukan pengaturan bagaimana dan apa yang harus mereka lakukan untuk pengobatan Valen.
Ester dan Bram akhirnya setuju untuk melanjutkan perawatan Valen di rumah dengan membawa satu orang perawat yang akan menjaga Valen 24 jam.
"Kami akan urus dan bicara pada dokter lagi. Kamu temani dulu Valen di sini." ucap Bram pada Jason yang sejak tadi menemani mereka selama berjam-jam.
Jason mendekat ke arah Valen. Biasanya ada banyak sekali hal yang ingin dia ucapkan pada Valen, tapi kini Jason diam seribu bahasa. Pikirannya kosong sama seperti Valen.
__ADS_1
"Jas, kamu sudah dengar kan? Jadi kenapa kamu masih berada di sini?" Valen memulai pembicaraan.
"Val, sorry. Aku sungguh menyesal telah memikirkan rencana yang kejam untuk memisahkan kamu dengan Alden." Jason menyadari kesalahan yang dia buat dengan Ester dan Bram.
"Tidak apa-apa, Jas. Sekarang aku sadar, sepertinya memang kami harus berpisah."
"Val, jangan seperti itu. Justru saat seperti ini kamu membutuhkan dukungan suamimu." Jason sedikit meninggikan suaranya supaya Valen sadar dan tidak bicara sembarangan. "Ini semua di luar kendali kita, Val." "Aku tidak akan mengganggu kamu dengan Alden lagi, aku janji itu. Tapi, bertahanlah demi anak dan suamimu."
"Aku tidak bisa, Jas. Entah apa yang akan terjadi sebulan atau 2 bulan ke depan."
"Val, kamu sedang kacau. Kamu tidak akan bisa membuat keputusan yang baik." "Sekarang, kamu perlu jaga kondisi kesehatan kamu dan juga kamu harus tetap semangat. Kalau kamu sedih, nanti itu akan berpengaruh pada kondisi kesehatanmu." ceramah Jason.
Valen tertawa kecil mendengarkan Jason yang memberinya nasehat. Semua ucapan Jason benar. Semua di luar kendali Valen. Dia hanya harus bertahan menjalani semua ini.
"Jas, tapi aku tidak ingin Alden tau hal ini." "Tolong jangan beritahu dia tentang keadaanku."
"Oke Val."
"Kamu juga tidak perlu menjagaku dan menghabiskan waktu untuk mengejar ku lagi." "Carilah wanita yang menyukaimu." "Jangan sia-siakan jika sudah mendapatkannya." "Dan, ingat. Jangan melakukan kesalahan yang aku dan Alden lakukan." "**** di luar nikah itu tidak benar dan akibatnya akan rumit seperti ini." giliran Valen yang menceramahi Jason.
"Iya, Valencia. Jika ada yang menyukaiku, aku akan segera menikahinya." janji Jason.
Valen mencoba tersenyum. Ceritanya dengan Jason sudah selesai dengan baik. Tinggal cerita Valen dengan Alden. Meskipun Valen sangat ingin Alden ada di sini sekarang, tapi Valen akan tetap merahasiakan ini dari Alden. Valen takut jika bayinya sampai meninggal, atau bahkan dirinya yang meninggal.
__ADS_1