
Valen segera mengikuti Alden setelah mobil suaminya jalan. Untung saja kemarin uang Zoe masih sisa, jadi dia bisa gunakan untuk membayar taksi mengikuti Alden. Valen menyempurnakan penyamarannya dengan topi dan kacamata hitam. Dia hanya ingin melihat apakah suaminya itu berbohong atau tidak. Ya, akibat pacaran kilat, Valen belum sempat menguji kesetiaan Alden. Valen cemas, karena setiap hari di club, Alden pasti melihat wanita-wanita yang pasti menggoda iman.
Mobil Alden berhenti di sebuah hotel bintang 5. Valen segera membayar taksinya, lalu buru-buru berjalan mengikuti Alden.
Dan, Alden ternyata tidak berbohong. Di sana memang ada acara untuk pelatihan bartender, dan rata-rata yang ikut adalah pria.
Valen masih mengamati dari kejauhan. Dia juga penasaran dengan gadis bernama Milka yang Alden sebutkan. Di antara kerumunan itu, memang ada satu gadis kecil yang berambut pirang yang sedang berbicara dengan Alden. Valen seperti pernah melihatnya tapi entah di mana.
Seandainya cukup dekat, ingin rasanya Valen mendengar apa yang mereka katakan. Alden terlihat cukup akrab dengan Milka dan sesekali dia tertawa. Valen tampak sedih karena Alden jarang sekali tertawa jika bersamanya.
'BRUK' ketika membalikan badan, Valen menabrak seorang pria sampai pria itu terjatuh. Pria itu berumur sekitar 60an. Tapi, badannya tampak masih bugar.
"Maaf, Om. Saya tidak sengaja." Valen membantu pria itu untuk berdiri.
Pria itu menepuk belakang celananya yang kotor. Dia lalu tersenyum pada Valen.
"Gak apa-apa. Sedang apa Nona ada di sini?" tanya pria itu sembari duduk di sofa yang ada di sampingnya.
"Nungguin suami, Om."
Pria itu mengangguk. Dia memandang Valen dari atas ke bawah. Ekspresinya berubah menjadi sendu dan ada raut kecewa di matanya.
"Om, baik-baik saja Om?" tanya Valen khawatir karena pria itu diam saja.
"Kamu mengingatkan saya dengan seseorang."
"Siapa om?" Valen akhirnya duduk untuk bisa lebih nyaman berbincang dengan pria tua yang telah dia tabrak itu.
__ADS_1
"Istri om waktu masih muda." Jawabnya dengan pandangan menerawang. "Sudahlah.. itu sudah lama berlalu dan dia sudah meninggal."
"Saya turut prihatin, Om. Pasti sedih ya kehilangan orang yang kita sayangi." ucap Valen dengan prihatin.
"Oh iya, yang mana suamimu?" tanya si Om sambil menengok ke kanan kiri.
Valen menunjuk pria dengan kemeja biru dengan rambut spike. Om itu menelisik suami Valen yang bertubuh kekar.
"Suamimu tampan." puji si Om sambil tersenyum.
"Yah, makanya saya tungguin, takut dia selingkuh." kata Valen sedih. Alden ibarat adalah pacar pertamanya, jadi mungkin wajar jika dia cemburu seperti ini.
"Ya, kamu harus jaga dia dengan baik." "Siapa nama anda, Nona?"
"Saya Valen, Om. Kalau, Om?" Valen balik bertanya.
'Hoek' Valen bukannya menyambut uluran tangan Om Steve, dia malah merasakan mual, hingga harus menutup mulutnya.
"Maaf, Om. Saya sedang hamil. Jadi, gampang mual." Valen menunduk tanda permintaan maaf karena tingkahnya yang kurang sopan.
Steve sangat senang dengan attitude Valen yang baginya justru itu sikap yang sopan. Jarang sekali menemukan orang seperti Valen. Dia sepertinya bukan dari kalangan biasa.
"Oke, Valen. Saya harus pergi. Ini nomer telepon saya. Siapa tau kamu butuh bantuan." Steve mengeluarkan kartu nama dari sakunya.
Valen menerima dan langsung menyimpan di tas. Dia sekali lagi membungkukkan badan untuk melepas kepergian orang yang telah di tabrak nya itu.
Setelah pergi, Valen kembali mengawasi Alden dengan Milka.
__ADS_1
*
*
*
Alden menyelesaikan pelatihan sampai sore hari. Dia tidak bisa kembali ke rumah, jadi Alden langsung memutuskan untuk langsung pergi ke club bersama Milka.
Dia tidak sadar jika sepasang mata terus mengamati kebersamaannya dengan Milka.
"Bentar, Mil. Gue telepon istri gue dulu. Kasih tau kalau gue langsung kerja." Alden menunda masuk mobil. Dia mengambil ponsel di saku. Karena terlalu fokus dengan pelatihan, Alden sampai lupa untuk menanyakan kabar Valen.
Telepon berdering. Alden sayup-sayup mendengar suara di dekatnya. Kenapa bunyi sering Valen ada di sini?
"Halo, sayang. Kenapa?" Valen segera menjawab dengan nada cemas.
"Kamu di rumah, kan?" tanya Alden curiga.
"Iya, ini di rumah. Aku mengantuk sekali." jawab Valen setengah bohong setengah jujur. Dia jujur karena saat ini dirinya begitu mengantuk.
"Aku baru selesai. Tapi sepertinya aku tidak bisa ke rumah dan akan langsung kerja."
"Hmmm.. oke sayang. Kerja yang rajin." Valen segera menutup teleponnya. Dia bernafas lega.
Untung saja Alden tidak curiga karena Valen lupa men silent ponselnya.
Valen kembali mengikuti mobil Alden dengan taksi online. Dia senang karena Alden jujur. Tapi, kenapa wanita itu juga ikut naik mobil Alden? Ini tidak benar.
__ADS_1
Sesampainya di club, Valen menunggu dulu di luar. Alden pasti saat ini sedang berganti pakaian. Sejujurnya, Valen malas menginjakkan kaki di club. Dia selalu berakhir dengan buruk jika pergi ke sini. Tapi, Valen memang ingin mencari tahu tentang Alden dan wanita yang cukup dekat dengannya. Jadi, Valen memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Dia menurunkan topinya supaya tidak ada yang mengenali dia di sana.