Valen For You

Valen For You
Aku sudah menikah


__ADS_3

Sudah sebulan ini Valen bekerja dengan sembunyi-sembunyi dari Alden. Dia juga sudah mendapatkan gaji yang cukup besar, bahkan Valen bisa melunasi hutang yang sempat membuat Alden pusing. Valen juga heran kenapa dia bisa mendapatkan gaji yang besar, padahal kerjanya hanya mengurus outfit dan make up para artis.


Semua berjalan lancar sesuai dengan rencana Valen. Dia bersyukur karena bisa membantu Alden. Valen juga sudah berusaha untuk tidak cemburu pada Milka, karena memang pikirannya sibuk dengan pekerjaan.


"Beb. Lo makin gendut aja." sindir Zoe ketika Valen sedang menata rambutnya.


"Namanya juga orang hamil." Jawab Valen ketus. Dia sudah berusaha menutupi kehamilannya dengan selalu menggunakan kaos oversize dan juga masker untuk menutupi pipi chubbynya.


Selama ini mungkin orang-orang memperhatikan Valen, tapi mereka tidak berani bertanya padanya.


"Tapi, lo sehat kan?" Zoe sebenarnya tidak ingin mengejek Valen. Dia hanya suka ceplas ceplos saja kalau bicara.


"Mana gue tau. Gue belum ke doker lagi."


"Lo memang gila."


Valen terdiam. Dia diam karena seseorang sedang memperhatikan percakapan mereka saat ini.


Ya, entah bagaimana caranya, Jason menjadi host tetap juga di acara Zoe. Jadi, setiap hari Jason bertemu dengan Valen. Dan dia tidak ragu-ragu menunjukkan kebucinannya di depan yang lain.


Pernah suatu kali Jason datang dan membawa sebuket bunga untuk Valen. Tentu saja itu membuat semua kru heboh. Belum lagi, setiap hari Jason datang dan menawarkan tumpangan untuk Valen.


Valen sebenarnya sangat risih dengan perlakuan Jason. Dia sudah berulang kali memarahi Jason untuk tidak memperlakukan dia dengan spesial. Tapi, Jason tidak mau mendengarkan.


"Zo, kok dia bisa sih jadi host?" bisik Valen pada Zoe yang sedang selfie.


"Bisa lah. Dia kan sudah bucin akut sama lo." jawab Zoe santai.


"Jangan keras-keras, nanti dia denger." omel Valen.


"Beb. Gue sih lebih setuju lo sama dia, daripada lo sama Alden. Kalau sama dia, lo gak akan hidup susah." terang Zoe to the point.


Valen mentoyor kepala Zoe. Seenaknya saja Zoe bicara seperti itu, seolah Valen masih single.

__ADS_1


"Dia kan ga tau gue udah nikah. Kalau tau juga dia mundur."


"Beb, lo ga tau sih pengorbanan dia buat deket sama lo." Zoe meletakan ponselnya untuk bicara lebih serius dengan Valen.


"Apaan sih Zo? Mana gue tau. Gue aja selalu ngehindar dari dia."


"Ya.. Dia beli stasiun televisi ini. Jadi, dia bebas mau jadi host kek, mau jadi sutradara kek."


"What?!" teriak Valen.


Dan teriakan itu cukup kencang sehingga membuat seluruh ruangan menengok, termasuk Jason.


Jason berdiri dari bangkunya, lalu menghampiri mereka berdua.


"Ada masalah, Val? Apa Zoe menyakitimu?"


"Hey. Dia yang menyakiti telinga kita dengan teriakannya." protes Zoe.


"Cepat pindah, Zo. Ini giliranku untuk make up." usir Jason.


"Val, apakah kamu sakit? Kenapa kamu terlihat pucat?" tanya Jason begitu Zoe pergi.


"Enggak, Jas." Valen mulai memberikan bedak pada wajah Jason. Dia harus menyelesaikan tugas ini dengan segera, karena Valen merasa tidak nyaman. Tentu saja perlakuan khusus Jason ke Valen membuat semua orang iri padanya. Ada saja yang tidak menyukai kedekatan mereka.


"Apa kita perlu ke dokter, Val?"


"Jason, please. Stop seperti ini. Kamu sudah sangat berlebihan." keluh Valen. Dia memandang Jason dari cermin. Begitu juga dengan Jason.


"Val, bukankah seharusnya kamu bersyukur karena ada yang memperhatikanmu?" Jason mengerutkan dahinya. Baru kali ini ada wanita yang sangat sulit ditaklukan seperti Valen.


"Bukan aku tidak bersyukur Jas. Tapi aku ini sudah.."


"Sepertinya kita kehabisan waktu dan harus mulai sekarang." Jason tiba-tiba berdiri setelah melihat jam tangannya. Dia lalu pergi meninggalkan Valen yang masih terpaku karena tidak bisa melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku sudah menikah." jawab Valen dalam hati. Dia selalu ingin menjelaskan statusnya sekarang pada Jason. Tapi, pria itu selalu saja mengelak. Itu sebabnya Valen lebih baik menghindari Jason sebisa mungkin, karena hasilnya tetap nihil.


*


*


*


Proses syuting berjalan dengan lancar. Valen masih berada di ruang make up dan dia sedang beristirahat sebentar. Pada usia kehamilan 4 bulan ini, Valen sering mengalami heartburn yang membuat dadanya sesak dan perutnya sakit.


Valen memang harus segera memeriksakan kandungannya ke dokter.


"Hey, ngapain lo santai-santai di sini." seorang senior Valen masuk dan langsung bercak pinggang melihat Valen duduk dengan santai di ruang make up.


"Bentar, gue lagi sakit nih." Valen berpegangan pada sofa sembari berdiri.


Tapi seniornya itu menarik Valen dengan kasar.


"Cepet, jangan kelamaan. Lo harus touch up mereka untuk segmen berikutnya." Dia masih memegang tangan Valen, lalu menariknya keluar.


"Jangan di pikir karena Jason suka sama lo, lo jadi seenaknya sendiri."


"Lo karo iri bilang dong. Jangan main tarik-tarik gini." Valen yang tidak suka diperlakukan dengan kasar, melawan balik seniornya.


Senior Valen berhenti. Dia berbalik dan memandang Valen dengan sinis. "Lo anak baru aja udah belagu banget ya." senior itu tampak marah. Dia mendorong bahu Valen cukup kuat sampai membentur tembok.


"Aw" pekik Valen yang merasa kesakitan.


"Halah, manja banget. Gitu aja lebay." Senior itu kembali menarik Valen menuju ke lokasi syuting.


Valen di tengah kondisinya yang kurang baik dan juga karena benturan yang cukup kuat pada punggungnya, akhirnya pingsan tepat ketika sampai di lokasi.


"Valencia!" Jason yang melihat kejadian itu langsung berlari untuk menolong Valen.

__ADS_1


Dia menggendong Valen tanpa mempedulikan tatapan-tatapan mata orang yang penasaran.


"Zo, cepat cari tau kenapa Valen bisa pingsan!" teriak Jason seraya membawa Valen pergi.


__ADS_2