
Malam itu club terlihat sangat ramai. Seperti biasa, Alden melayani orang-orang dengan cekatan. Dia memang sudah menguasai pekerjaan di sini. Baginya, pekerjaan ini tampak lebih mudah daripada duduk di kantor atau mengurus rumah sakit Keluarganya. Berkat pelayanan Alden yang memuaskan, tak jarang juga konsumen memberikan tips untuk Alden. Dari situlah Alden bisa mendapatkan tambahan di luar gaji pokoknya.
"Hey, kamu kelihatan tampan sekali malam ini." seorang wanita duduk di depan Alden.
Alden mencium bau alkohol yang cukup keras dari tubuh wanita yang berpakaian minim itu.Dia pasti sudah mabuk.
"Anda ribut dengan suami anda lagi?" tanya Alden sambil membuat minuman yang lain.
"Yah, Laki-laki memang mata keranjang." "Tapi, sepertinya kamu tidak." Wanita itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Alden sehingga bagian pribadinya dapat terlihat.
"Aku membutuhkanmu, Alden."
"Cih. Dasar murahan." Alden melengos. Dia sudah sering menemukan pelanggan seperti ini. Jadi, dia sudah tidak terkejut atau menanggapi dengan berlebihan.
Jika sudah seperti ini, Alden harus sedikit kurang ajar. Dia mengambil ponsel wanita itu di meja, lalu meminta dia untuk membukanya. Setelah ponsel terbuka, Alden segera menelepon suami dari wanita yang mulai menggodanya.
"Istrimu sedang merayuku. Cepat jemput dia kemari."
"Hey, kenapa kamu telepon suamiku." ucapnya kesal.
Alden tersenyum sinis. Dia meletakkan sebotol air di hadapan wanita itu.
"Cepat minum dan sadarkan dirimu sebelum dia datang."
Alden menyingkir pergi ke counter lain supaya tidak membuat wanita itu berbuat nekat lagi.
'PRANG' suara itu mengundang perhatian beberapa orang, termasuk Alden. Dia melihat Milka sedang menunduk ketakutan menghadapi beberapa customer pria.
"Sial." Alden memutar topinya, lalu dia bergegas menuju ke arah Milka.
Alden melihat beberapa pecahan botol di sekitar mereka. Kejadian seperti ini juga sebenarnya sudah sering terjadi. Hanya soal waktu dan siapa yang akan mengalaminya.
"Ada apa ini?" tanya Alden yang langsung menarik Milka ke belakangnya.
__ADS_1
"Dia tidak becus melayani kami." protes salah satu pria dengan tubuh penuh tatto.
"Mereka ingin kurang ajar padaku." bisik Milka.
"Kalau kamu tidak mau disentuh, jangan bekerja di bar." bentaknya yang mendengar ucapan Milka.
"Maaf, pak. Kami bekerja untuk menyediakan minuman, bukan untuk hal yang lain." Bela Alden.
Pria tadi tidak terima. Dia langsung mencengkram kaos Alden hingga Alden tertarik ke depan.
"Kamu hanya pelayan, jangan mengajari saya."
'BUG' Sebuah bogem mentah melayang dan langsung membuat Alden jatuh.
Alden bangun kembali. Dia mengelap sudut bibirnya yang terluka. Ada sorot mata kemarahan pada Alden, tapi Alden tidak bisa membalas mereka karena dia bisa terkena SP. Yang bisa Alden lakukan saat ini adalah bicara baik-baik dan segera menyelesaikan persoalan ini sebelum manager datang.
"Kamu pergi saja, Mil." usir Alden.
Milka tampak enggan meninggalkan Alden, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Akhirnya Milka menyingkir sebelum masalah tambah besar. Dia yakin Alden bisa menyelesaikan masalah ini.
"Stop! Jangan pukul suamiku."
Di tengah kegaduhan itu, Valen muncul bak seorang pahlawan ke samping Alden.
Alden membelalakkan matanya melihat Valen di club. Kenapa wanita itu bisa ada di sini dan kenapa dia berani-beraninya membela Alden?
"Kenapa kamu di sini!" bentak Alden. Dia sebenarnya ketakutan karena Valen muncul disaat yang tidak tepat.
"Oh, jadi ini istrimu? Dia jauh lebih cantik dari wanita tadi." Pria itu hendak memegang tangan Valen, tapi Alden menahannya.
"Tolong jangan sentuh istri saya." ancam Alden. Dia bahkan mencengkram begitu kuat sampai pria tadi kesakitan.
"Aku akan laporkan kamu ke manager." ucap pria itu dengan lantang.
__ADS_1
"Silahkan. Tapi, anda juga harus bersiap-siap karena telah berhadapan dengan Seorang keluarga Sebastian." kata Alden tenang.
"Se-bas-tian?" pria itu mulai tergagap.
Alden menghempaskan tangan pria itu dengan kasar, lalu dia membawa Valen untuk segera pergi ke tempat yang lebih aman.
*
*
*
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan pergi ke club!" bentak Alden tanpa basa-basi. Ada rasa takut bercampur kesal jadi satu.
Mereka saat ini berada di parkiran dan tidak ada yang mendengarkan mereka. Valen ketakutan melihat amarah Alden yang sudah memuncak.
Padahal, tadi dia sudah bersiap untuk melabrak Alden karena di goda oleh pelanggan dan juga karena membela Milka. Tapi kini ketika berhadapan langsung dengan Alden yang sedang emosi, dia jadi menciut. Valen bahkan tidak berani menatap wajah Alden.
"Valen, jangan buat aku semakin marah!"
"Aku.. aku hanya mengikuti mu. Aku takut kamu selingkuh dan meninggalkan aku." Valen mengakui perbuatannya selama satu hari ini.
"Astaga Valencia!" Alden mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku sungguh tidak mengerti dirimu." "Aku ke sini untuk bekerja bukan ingin selingkuh! Apa kamu tidak mengerti?!" suara Alden terdengar semakin keras.
"Den, aku minta maaf.." sesal Valen. Tadinya dia tidak ingin mendekat, tapi berhubung Valen sakit hati suaminya di pukul seperti itu, akhirnya Valen memberanikan diri untuk ke sana.
"Kamu tau tidak, kalau seperti ini terus aku tidak bisa bekerja dan akan segera di pecat."
"Iya, aku tau. Tapi pekerjaanmu ini membuat aku curiga dan takut."
"Valen, apa yang kamu inginkan dari suamimu?" Alden memepet tubuh Valen ke tembok, lalu mengurung istrinya itu. "Kamu ingin suami yang bekerja kantoran? Atau kamu ingin suamimu jadi dokter seperti Sam?"
Valen tidak menjawab. Dia malah menangis.
__ADS_1
"Dengar, Valen. Aku bukan mereka. Aku akan tetap bekerja di sini. Jadi, suka tidak suka, kamu harus terima." ingat Alden. "Jika kamu tidak mau terima, aku menyerah."
Alden melepaskan kungkungannya. Dia berjalan dengan gontai meninggalkan Valen menangis seorang diri.