
Billy Stevenson? Alden mengerutkan dahinya karena merasa pernah mendengar nama Billy Stevenson.
"Kenapa, Den?" tanya Steve tampak bingung karena Alden tiba-tiba diam.
"Tidak apa-apa Om.. ini masih lurus?" Alden menunjuk ke arah jalan yang sudah memasuki kawasan perumahan elite.
"Ya. Rumah Om ada di pojok."
Alden menghentikan mobil sesuai dengan arahan Steve. Dia tidak heran pada rumah mewah bergaya Eropa yang terpampang di hadapannya. Dari potongan Steve, dia memang terlihat seperti crazy rich. Pria itu itu bahkan sangat gaya dengan menggunakan jam tangan mewah berharga miliaran.
"Mampir dulu, Den. Om masih ingin bercerita denganmu."
"Emm.. mungkin lain kali, Om. Saya harus menemui istri saya dulu." tolak Alden.
"Kamu sudah punya istri?"
"Ya, kami menikah belum lama ini."
"Siapa nama istrimu?" tanya Om Steve makin kepo.
"Valen. Om mungkin kenal dia karena dia anak Keluarga Bramantyo." ucap Alden dengan nada yang sedikit sedih.
"Valen? Sepertinya Om pernah dengar nama itu." Om Steve mencoba mengingat kembali nama yang tidak asing itu. "Oo.. Om ingat. Dia wanita yang cantik dan enerjik." "Dan sepertinya dia sangat menyayangi suaminya sampai dia mengikutimu bekerja." jelas Om Steve sambil tersenyum. Setiap mengingat wajah Valen, Steve juga teringat seseorang yang berharga dalam hidupnya.
Alden juga baru menemukan benang merah sekarang. Jadi kartu nama di tas Valen adalah pemberian dari Billy. Alden sudah mencurigai Valen jika Billy itu adalah fans istrinya. Sama seperti Jason.
"Den, kamu harus jaga istrimu dengan baik." pesan Om Steve.
"Yah, itu sulit Om." Alden menghela nafas panjang. Selama ini kehidupan pernikahannya hanya sebatas cemburu, curiga dan marah-marah. Jika mereka mesra, itu mungkin hanya 0,01% saja.
"Kenapa sulit?"
"Sebelum menikah, Valen sudah banyak pria yang mengincar dia. Setelah menikah pun, masih ada yang mendekati dia." jawab Alden kesal. Dia jadi teringat pada Jason yang memperlakukan Valen bak putri kerajaan.
__ADS_1
"Tapi, Om lihat kalian pasangan yang cocok. Dan kamu adalah keturunan Keluarga Sebastian. Semua sudah sempurna. Valen pasti tidak menyesal memilihmu."
"Om.. sebenarnya, keluarga kami sudah membuang kami berdua karena kami melakukan kesalahan. Valen hamil di luar nikah dan sekarang kami hidup susah. Ini tidak seperti yang om bayangkan."
'Dan yang mendekati Valen juga salah satu crazy rich yang bisa mengabulkan semua permintaan Valen.' lanjut Alden dalam hati.
Om Steve terkejut mendengar penjelasan Alden. Ternyata Alden memiliki kisah yang hampir sama dengannya. Jika Steve waktu itu memilih menikah dengan pacarnya, pasti kehidupannya akan berakhir sama dengan Alden.
"Om, saya harus pamit dulu." Alden sudah membuka pintu mobil untuk bersiap pergi.
"Alden, tunggu." panggil Steve.
"Om sedang mencari sopir pribadi. Apakah kamu sedang mencari pekerjaan?" tanya Steve to the point.
Alden menaikkan alisnya. Mereka baru pertama kali bertemu, tapi Steve sudah percaya bahkan menawarinya pekerjaan? Ini sungguh aneh.
"Maaf, Om. Mungkin lain kali."
"Saya akan berikan gaji, sesuai dengan permintaanmu. Bagaimana?" tawar Steve lagi.
Kali ini tawaran Steve cukup menarik. Alden memang menginginkan gaji yang lebih besar daripada bekerja di club.
"Om yakin?" tanya Alden sekali lagi untuk memastikan.
"Yakin, bahkan jika harus menggaji mu 500 juta sebulan."
Alden tersenyum senang. Ternyata Billy Stevenson orang yang sangat royal. Jika seperti ini, apakah Alden akan menolak? Masalahnya dengan Valen bahkan bisa selesai jika Alden menerima tawaran ini. Dan Valen juga tidak perlu lagi menemui Jason atau bekerja dengan pria itu.
"Deal. Aku Terima tawaran dari Om."
"Bagus." ucap Steve senang. Dia merasa nyaman berbincang dengan Alden dan akan sangat bagus jika Alden menjadi sopir pribadinya. "Bawa saja mobilnya, dan besok datang ke sini jam 7 pagi untuk membuat kontrak kerja kita."
Steve menepuk pundak Alden, lalu dia masuk ke dalam gerbang yang terbuka otomatis.
__ADS_1
Alden memandang pria yang sudah menghilang dari balik gerbang itu.
*
*
*
"Daaaaad.. darimana saja?"
"Zoe.. Kamu bikin kaget saja." Steve memukul lengan anaknya dengan pelan.
"Dad pasti pergi sendirian lagi ya?" omel Zoe. "Dad, Zoe mohon. Dad carilah sopir atau bodyguard. Zoe gak mau kehilangan Dad." Zoe memeluk Steve dengan erat.
"Tenang Zo.. Dad sudah menemukan sopir pribadi." ucap Steve sambil tersenyum.
"Really?" Zoe melepaskan pelukannya. Dia memandang wajah Steve, memastikan apakah Daddy nya itu tidak berbohong.
"Ya. Dia sangat tampan dan gagah." "Sayang sekali dia sudah punya istri." "Jika tidak, Dad akan nikahkan dia denganmu."
"Ish.. Dad." "Zoe tidak mau ya menikah dengan rakyat jelata. Nanti hidup Zoe susah." Zoe bergidik saat bayangan Valen melintas di kepalanya. Wanita itu hidup susah karena salah memilih suami.
"Kamu jangan seperti itu, Zo. Kehidupan ini berubah. Kamu bisa saja mengalami hal yang tidak terduga." Steve menceramahi Zoe karena tidak suka sifat Zoe yang sombong.
"Iya.. iya Dad.." "Sekarang, Dad tidur saja dan jangan lupa minum obat." Zoe mendorong Steve menuju ke kamar pribadinya.
"Besok kamu harus lihat, sopir itu. Dia itu cocok sekali dengan tipemu." kata Steve yang masih teringat dengan Alden.
"Dad, tadi Dad bilang, dia sudah menikah. Jadi, Dad suruh Zoe jadi pelakor?" tanya Zoe kesal.
"Ya enggak. Maksudnya, jadikan pria itu sebagai patokan untuk mencari calon teman hidupmu nanti." "Jangan gonta ganti pacar terus. Dad butuh seorang penerus yang kompeten." protes Steve.
Selama ini Steve hanya memiliki satu anak wanita yang sulit di atur. Padahal Steve sangat berharap jika dia memiliki seorang anak laki-laki untuk meneruskan usaha miliknya.
__ADS_1