Valen For You

Valen For You
Anak Mira


__ADS_3

Sementara itu, Steve pergi ke ruangan Dokter Lukas yang notabene adalah kenalan lamanya. Sebenarnya, Steve hanya ingin menyapa pria itu. Tapi, langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang dokter lain di ruangan Dokter Lukas. Steve memutuskan untuk menunggu di depan pintu yang sedikit terbuka itu sambil mendengarkan percakapan mereka.


"Kamu bicara apa, Sam?" tanya Dokter Lukas yang sedang bersandar pada kursinya.


"Om tau sesuatu tentang orang tua asli Alden?"


"Kamu sudah tau tentang Mira. Kenapa kamu bertanya lagi?" tampaknya kali ini Dokter Lukas kewalahan sampai terlihat gugup di depan Sam.


"Suster bilang, tadi ada orang yang golongan darahnya cocok dengan Alden." "Apa om tau sesuatu tentang Ayah kandung Alden?"


Dokter Lukas terdiam. Dia bisa membodohi semua orang, tapi tidak dengan seorang Samuel Sebastian.


"Bukankah kamu sudah tidak peduli pada Alden? Kenapa kamu jadi penasaran tentang dia?" ucap Dokter Lukas dengan mengintimidasi. Dia tidak boleh membuat kesalahan lagi dengan menyebarkan rahasia yang seharusnya Sam tidak perlu ketahui.


"Om pasti tahu sesuatu." tuding Sam tanpa menyerah.


"Meskipun langka, tapi bukan tidak mungkin ada beberapa orang yang bisa memiliki golongan darah seperti Alden. ( AB- )Kamu juga pasti tau itu."


Sam menggebrak meja karena tidak sabar. "Kalau om masih betah di rumah sakit ini, Om harus kasih tau yang sebenarnya. Sam akan berikan waktu 24 jam." Sam berjalan keluar dari ruangan Dokter Lukas dengan gontai. Dia tidak bisa berlama-lama di situ karena ada jadwal operasi yang harus dia lakukan.


Setelah Sam pergi, Dokter Lukas berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu untuk mencari sosok yang dia lihat tadi berdiri di depan ruangannya.


"Keluarlah, Steve." ucap Lukas dengan nada sedikit tinggi.


Pria itu muncul dengan wajah pucat.


Lukas membuka pintunya lebih lebar supaya Steve masuk ke ruangannya.


Steve langsung terduduk di kursi pasien, sedangkan Lukas kembali duduk di kursinya setelah mengunci pintu ruangannya.

__ADS_1


"Kamu dengar semua?" tanya Lukas dengan tatapan prihatin.


"Ya, itu terdengar begitu jelas." Ucap Steve dengan suara bergetar.


"Apa kamu ingin dengar cerita yang lebih lengkap?"


Steve tidak menjawab.


Lukas menarik nafas panjang. Sudah pasti Steve shock dengan percakapannya dengan Sam. Lukas sendiri baru tahu hal ini setelah 10 tahun berlalu. Dia tidak sengaja menemukan surat di laci istrinya yang adalah dokter kandungan. Surat itu ditulis oleh Mira dan tidak ada seorangpun yang tau.


"Apakah Alden anak Mira?" kali ini Steve berinisiatif untuk membuka percakapan setelah hening untuk beberapa saat.


"Ya. Alden adalah anak Mira. Dia menitipkan surat untuk istriku sebelum pergi dari rumah sakit." "Kami tidak tau kemana Mira pergi membawa Alden. Beberapa tahun kemudian, aku bertemu dengannya yang sudah sakit. Dia menjadi pelayan di keluarga Sebastian."


"Astaga, Lukas! Kenapa ini bisa terjadi?" "Kenapa kamu tidak beritahu aku?" Steve mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku juga tidak menyangka jika Alden itu.." Lukas menghentikan ucapannya karena tidak mampu melanjutkan. "Sudahlah Steve,, aku tidak bicara karena kamu sudah punya keluarga yang harmonis. Kamu punya istri yang begitu baik dan juga Zoe."


"Maksudmu, Mom Zoe sudah meninggal?" Lukas terperanjat. "Aku ikut sedih mendengarnya."


"Itu sudah lama."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Lukas yang penasaran dengan tindakan Steve selanjutnya setelah mengetahui semua ini.


"Entahlah. Dia sangat membenci ayahnya dan tidak ingin bertemu dengan ayahnya." Steve mengelap air mata yang menetes keluar dari sudut matanya dengan punggung tangan.


"Steve.Pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya." Lukas menepuk pundak Steve sebagai tanda solidaritasnya.


"Aku akan melihat anakku dulu." Steve beranjak bangun dari kursinya. Dia harus kembali ke ruangan Alden.

__ADS_1


*


*


*


"Alden.." Steve masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Alden hanya menengok karena Valen sedang tertidur sambil memeluknya.


Alden tidak bisa bergerak ataupun bicara dengan keras.


"Sorry, saya hanya mencari Zoe." Kata Steve lirih.


"Dia sudah pulang, Tuan."


Steve mengangguk. Dia memandang Alden dengan intens. Setelah di perhatikan, Steve baru menyadari jika Alden sangat mirip dengan Mira, terutama matanya.


"Apa ada yang anda perlukan lagi, Tuan?" tanya Alden yang bingung karena Steve malah melamun sambil memandanginya.


"Tidak. Kamu istirahat saja. Cepat sembuh, Den." Steve mencoba tersenyum pada Alden.


"Terimakasih Tuan. Besok saya akan berangkat."


"Kamu istirahat seminggu saja. Gajimu tidak akan saya potong."


"Saya akan bosan jika lama-lama di sini Tuan."


"Ya, masuklah kalau kamu sudah sehat. Aku menunggumu, Nak." suara Steve terdengar bergetar. Dia langsung berbalik dan meninggalkan Alden sebelum air matanya kembali jatuh.


"Nak?" Alden mengulang kembali perkataan Steve yang terakhir. Itu terdengar sangat aneh.

__ADS_1


"Sayang,, kenapa?" Valen membuka sebelah matanya karena mendengar suara orang di sekitarnya.


"Tidak apa-apa.. Aku hanya sedang berpikir." "Kamu tidur lagi saja." Alden mengusap punggung Valen supaya wanita itu kembali tidur.


__ADS_2