
Kini Valen sudah turun dari mobil, dan gilirannya untuk bicara pada Jason soal keputusan nya dengan Alden.
Sebenarnya Jason sudah tau apa yang akan dibicarakan oleh Valen karena dia sudah mendengar semua pembicaraan mereka.
"Jas, aku minta maaf karena aku tidak bisa bekerja lagi di sana." ucap Valen dengan penuh penyesalan.
Jason menyembunyikan rasa kecewanya dengan memberikan Valen sebuah senyuman lebar.
"Gak apa-apa, Val." "Justru kalau kita tidak ada hubungan kerja, kita bisa berteman jauh lebih enak."
Valen tau maksud Jason. Dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Valen. Pria itu memang bodoh to the max. Entah apa yang dia lihat dari diri Valen sampai sudah di ujung tanduk pun, dia masih saja mengejar Valen.
"Terima kasih, Jas. Untuk segala hal yang sudah kamu kasih untuk ku."
"Ya, kapanpun kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk telepon aku."
Alden yang mulai cemburu lagi, mendekati mereka. Dia menunjukkan kepemilikan dengan merangkul pinggang Valen.
"Den, tanganmu." Valen yang menengok ke arah pegangan tangan Alden, baru sadar jika tangan suaminya berdarah karena memukul kaca tadi di hotel.
"Jas, pulanglah. Ini sudah malam. Hati-hati ya." Valen beralih pada Jason dengan mengusirnya secara halus.
Kali ini Jason tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Dia tidak berkata apapun dan langsung masuk ke mobil.
"Cepat, aku obati dulu." Valen memegang tangan Alden dengan hati-hati sembari berjalan masuk ke rumah. "Apakah ini sakit?"
"Tidak." Alden tidak berhenti memandang Valen yang tampak panik. Dia jadi teringat, dulu Valen pernah mengobati tangannya juga.
Pada saat itu Valen sangat perhatian dan sangat telaten mengobatinya. Baru pernah ada orang yang merawat Alden seperti Valen. Wanita itu memang yang terbaik.
"Kamu sebentar lagi jadi Daddy, tolong jangan seperti ini lagi. Kamu harus kontrol emosi dan kurangi bertengkar dengan orang." omel Valen yang sudah duduk bersama dengan Alden di sofa ruang tengah.
__ADS_1
"Justru aku akan melindungi kalian meskipun aku harus mempertaruhkan nyawaku." ucap Alden bangga.
'PLAK' Valen memukul punggung Alden sampai pria itu mengaduh.
"Aku tidak ingin anakku meniru jadi pemarah dan suka berantem seperti Daddy nya." teriak Valen.
Pandangan Alden beralih pada perut Valen. Dia mengecup dengan lembut anak yang masih di dalam perut istrinya.
"Kamu harus tumbuh menjadi anak yang kuat mental yah, baby."
"Alden, geli." Valen menyingkirkan kepala Alden yang mulai mengusel di perutnya.
"Aku ingin menengok baby kita." Alden menatap Valen yang masih sibuk menempel perban di tangan Alden.
"Kamu mesum sekali." Valen tersenyum pada Alden yang terlihat seperti cacing kepanasan.
Sebenarnya Valen juga rindu dengan sentuhan-sentuhan Alden. Hormonnya yang sedang tinggi tentu saja menginginkan seorang Alden.
"Cepat gendong aku ke kamar." Valen menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia merentangkan tangan minta di gendong oleh Alden.
"Aku merindukanmu, Valencia." ucap Alden dengan nafas yang tidak beraturan. Dia meletakkan Valen perlahan di ranjang.
"Setiap hari kita bertemu." Valen memegang dada bidang Alden dengan jarinya.
"Tapi tidak dalam situasi yang baik."
"I'm sorry Baby.." "Malam ini, aku akan memanjakan mu." ucap Valen penuh arti.
*
*
__ADS_1
*
Setelah selesai melakukan olahraga malam mereka, Alden dan Valen kembali mesra. Alden mengecup dahi Valen yang masih menatapnya tanpa berkedip.
"Kenapa, sayang? Apa aku begitu tampan?" goda Alden.
"No. Kamu sangat jelek dan jahat."
"Maksudnya?"
"Aku selalu menginginkanmu meskipun tempramen mu sangat buruk." kata Valen jujur.
"Bukan kah bad boy memang lebih menarik?"
"Maafkan aku yang sering membuatmu kesal dan marah." Valen kembali memeluk Alden dengan erat.
Alden tersenyum, membuat wajah asianya terlihat tampan.
"Ngomong-ngomong, apa pekerjaan barumu? Kamu membawa pulang mobil mewah. Apa kamu bekerja jadi manager?" tanya Valen penasaran.
"Ya, Bos ku bilang untuk bawa mobilnya." "Aku kerja jadi..."
Telepon Valen berdering sebelum Alden menyelesaikan ucapannya.
Zoe calling...
"Ya, Beb." jawab Valen setelah cukup lama berpikir. "Ya, aku keluar dari kerjaan, karena Alden sudah dapat pekerjaan yang bagus." "Kamu kenapa sih? lagi bete?" Valen terlihat asyik bicara dengan Zoe.
Alden yang merasa terganggu akhirnya menjahili Valen dengan menciumi perutnya lagi.
"Alden, stop. Jangan ganggu dulu." "Gimana Zo? Lo di suruh nikah sama bokap lo?"
__ADS_1
"Alden.." teriak Valen karena Alden lagi-lagi membuat hormonnya naik.
Alden merebut ponsel Valen, lalu menutup telepon dari Zoe. Dia sudah kembali mencium bibir Valen yang sangat membuatnya kecanduan. Valen juga tidak protes dan bahkan lupa akan Zoe yang sedang curhat masalah keluarganya.