
Alden merasakan tiba-tiba perasaannya tidak enak. Dia mencoba menghubungi Valen, tapi ponselnya tidak aktif. Apakah wanita itu sedang tidur? Akhir-akhir ini Valen memang lebih banyak tidur. Mungkin dia kelelahan karena harus mengurus banyak pekerjaan rumah tangga. Tapi, tidak biasanya Valen menonaktifkan ponselnya. Atau batre Valen habis sewaktu jalan-jalan?
Dalam pergumulannya, Tiba-tiba Zoe masuk ke kamar tamu dan mengagetkan Alden.
"Den, Dad mencari mu." ucap Zoe sambil memandang Alden tanpa berkedip.
Ya, Alden saat ini sudah menggunakan setelan Jas lengkap. Dia juga tampil beda karena rambutnya di spike. Yang jelas di mata Zoe, Alden begitu mempesona.
"Saya keluar dulu."
"Tunggu dulu, Den." Zoe menahan pergelangan tangan Alden. Dia mendekat, lalu tangannya meraih dasi Alden. "Ini tampak miring."
Alden refleks menepis tangan Zoe. Dia sangat tidak nyaman dengan perlakuan Zoe yang bertindak berlebihan seolah Alden ini kekasihnya.
Alden sudah cukup tau modus-modus wanita di sekitarnya yang kerap menggoda dia. Seumur hidup Alden, hanya ada 3 wanita yang tidak suka menggoda. Rea, Valen dan Milka. Karena itulah Alden bisa dekat dengan mereka.
"Maaf, Nona. Saya sudah di tunggu oleh Tuan Steve." Alden segera pergi keluar dan tidak mau hanya berduaan saja di kamar dengan Zoe.
Rumah Steve sudah makin ramai. Alden sedikit kesulitan mencari keberadaan pria tua itu.
Alden tidak tau kenapa Steve membuat acara di rumah dan dia juga tidak tau tentang tujuan acara ini. Steve bisa saja mengadakan acara di hotel yang tempatnya lebih luas. Tapi kenapa dia justru memilih rumah untuk mengundang koleganya yang begitu banyak?
'BRUK' seseorang menabrak Alden hingga minumannya membasahi pakaian Alden.
"Sorry." ucap pria itu. Tapi begitu melihat Alden, ekspresi pria itu langsung berubah menjadi tegang. "Kenapa kamu ada di sini?" ucapnya sinis.
__ADS_1
"Saya sedang bekerja, Om." jawab Alden tanpa melepaskan pandangannya dari pria itu.
"Alden, kamu darimana saja?" Steve menepuk pundak Alden. "Lho, Bram. Kamu kenal Alden juga?" Steve beralih pada Bram yang terlihat kurang ramah pada Alden.
"Tidak. Aku tidak sengaja menabraknya." Bram tersenyum pada Steve. Dia harus mengontrol emosinya di depan Steve. Akan sangat lucu jika Steve membatalkan kerjasama yang selama ini terjalin hanya gara-gara seorang Alden. "Siapa dia?" tanya Bram penasaran.
"Ini, Alden. Sopir pribadi kesayanganku." Steve memperkenalkan Alden pada Bram.
Baik Alden maupun Bram tidak ada yang mengulurkan tangan. Bukan hanya Bram yang sibuk mengontrol emosinya, tapi juga Alden. Mertuanya ini sangat keterlaluan.
"Oh, sopir." "Ya, cocok sih." ucap Bram sambil tertawa.
Alden sudah mengepalkan tangannya. Dia bertemu dengan Bram 2x dan semua pertemuan itu memberikan kesan yang buruk untuk Alden. Pertama, Bram sudah menghina status Alden yang hanya anak angkat dari seorang pembantu. Kedua, dia menghina pekerjaan Alden.
"Ya, hati-hati saja kalau menerima orang asing."
"Alden, bisa ambilkan minuman ke belakang?" Alih-alih menanggapi Bram, Steve meminta Alden untuk pergi mengambilkan minuman. Dia tau jika Alden tidak suka pada Bram, begitu juga sebaliknya.
Sepeninggal Alden, Steve lalu membawa Bram untuk duduk di sofa untuk mengobrol dengan lebih nyaman.
"Jadi, sudah berapa lama dia bekerja denganmu?" Bram yang masih penasaran dengan Alden kembali bertanya pada Steve.
"Belum lama ini. Dia sedang mencari pekerjaan, dan aku menerimanya bekerja."
"Sebaiknya kamu jangan terlalu percaya padanya." hasut Bram. "Aku lihat dia orangnya emosian dan kurang ajar."
__ADS_1
Steve tertawa lebar. Meskipun Bram berkata 1000 kejelekan Alden, dia tidak akan terpengaruh dengan itu.
"Aku sangat menyukainya. Kalau saja dia belum menikah, aku ingin menjodohkan dia dengan anakku." kata Steve setelah berhenti tertawa.
Bram sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Tentu saja semua yang dikatakan Bram itu hanya asal-asalan saja. Dia tidak terlalu mengenal Alden selain dari masa lalunya dan pekerjaan Alden di club. Jujur saja, Bram sangat tidak suka pada Alden karena dia sudah berbuat kesalahan yang mengakibatkan kehidupan anaknya jadi susah dan menderita.
"Lupakan soal itu." "Aku penasaran, kenapa kamu membuat acara makan malam seperti ini secara mendadak?" Bram mengalihkan pembicaraan yang tidak berhubungan dengan Alden.
"Sebenarnya aku sedang mendapatkan jackpot."
"Apakah ada kerjasama baru? Dengan perusahaan mana?" tanya Bram kepo.
"Ini jauh lebih berharga daripada kerjasama dengan perusahaan nomer 1 di dunia." Steve memberikan kode supaya Bram sedikit mendekat. "Aku sudah menemukan calon penerusku." bisik Steve.
"Apa???" "Apakah Zoe akan menikah?"
Steve menggeleng. Dia memberikan senyum penuh arti pada Bram.
Bram menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia makin bingung dengan Steve. Apa yang lebih berharga untuknya?
Ponsel Bram dalam saku bergetar sehingga memaksanya untuk berhenti berpikir. Dia mengangkat telepon dari istrinya setelah meminta ijin pada Steve.
"Sayang, Valen pingsan dan sekarang kami ada di rumah sakit." ucap Ester sambil menangis.
"Tenang sayang. Aku akan segera ke sana." Bram menutup teleponnya, lalu buru-buru pergi dari rumah Steve.
__ADS_1