
Alden mencegat Bram di kantornya. Dia sudah bertekad untuk meminta ampun dari Bram supaya Bram mau mempertemukan dia dengan Valen.
Bram cukup terkejut ketika Alden sudah menunggu di bawah dengan pakaian yang cukup rapi. Tapi kebalikan dari Alden, Bram juga tidak mau menerima Alden sebagai menantunya. Dia sudah bersepakat dengan Ester untuk membawa Valen keluar negeri jika Valen dan bayinya lahir dengan selamat. Bram sudah tidak mau berhubungan dengan Alden lagi.
"Pagi Om." "Apa om sehat hari ini?" sapa Alden ramah. Dia langsung mengikuti kemana Bram pergi.
"Saya gak mau bicara dengan kamu. Sebaiknya kamu pergi dari sini." jawab Bram ketus.
"Saya akan tetap tunggu om setiap hari." Alden mencoba tersenyum pada mertuanya yang selalu menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Cih. Itu gak akan berguna." Bram hanya membalas dengan senyuman sinis.
"Om, Alden minta maaf. Tapi, ijinkan Alden bertemu Valen, Om." Alden memasang badan menghalangi Bram untuk tidak pergi melaluinya.
"Sejak awal aku sudah tau jika masa depan Valen akan suram karena kamu." Bram menunjuk Alden tepat di dadanya.
Sebagai pria, Alden tentu sakit hati dengan perlakuan Bram ini. Bram selalu saja menghina Alden karena status sosial mereka berbeda. Tapi, demi Valen, Alden meredam semua kekesalannya. Dia harus mengendalikan dirinya supaya tidak berkata atau bertindak kasar pada Bram meskipun kata-kata yang keluar dari mulut Bram selalu saja menyakiti Alden.
"Kamu yakin ingin bertemu Valen?" Bram memicingkan matanya. "Tapi aku gak yakin kamu bisa memenuhinya."
"Apapun yang om minta." Alden merasakan hasil dari kesabarannya.
__ADS_1
"Kamu bekerja jadi cleaning service di sini selama satu bulan tanpa di gaji. Gimana?"
Alden sudah tau ini tidak akan mudah. Dia menarik nafas panjang, lalu satu kata yang dapat Alden ucapkan saat ini adalah.. "Oke."
"Alden tidak akan bekerja jadi cleaning service." suara Steve memecah ketegangan di antara Alden dan Bram.
"Steve.. kenapa kamu di sini?" tanya Bram yang langsung menyalami Steve.
"Maaf, aku dengar percakapan kalian sejak tadi." Steve mendekati Alden. Dia memandang wajah Alden yang sekuat tenaga menahan emosi.
"Bukankah dia menantu mu?"
"Dari mana kamu tau, Steve?" kata Bram gugup. Dia takut karyawannya mendengar ucapan Steve.
"Tuan, aku akan tetap jadi cleaning service di sini. Karena aku ingin bertemu Valen."
"Tapi,Den.." Steve sangat kecewa dengan ucapan Alden. Tentu saja Steve tidak ingin jika anaknya dihina seperti ini. Seharusnya Alden adalah pemilik dari usahanya, bukan jadi cleaning service.
"Tuan, aku harus buktikan pada Tuan Bram yang terhormat jika aku bisa memenuhi permintaannya."
"No, aku tidak akan ijinkan." Steve berkeras untuk melarang Alden. Dia sangat ingin mengatakan jika Alden adalah anaknya. Tapi, rasanya lidah Steve kaku. Dia harus memikirkan akibat yang akan terjadi nantinya jika dia mengungkapkan fakta ini pada Alden. Alden bisa makin stress.
__ADS_1
"Tuan, anda tidak perlu ikut campur urusan pribadi ku. Aku harus mendapatkan Valen kembali." Alden menyingkirkan tangan Steve yang memegang pergelangan tangannya.
"Alden.."
"Apa yang harus saya kerjakan sekarang, Om?" Alden beralih pada Bram yang sejak tadi menunggu sambil bersedekap.
"Sepatuku berdebu. Jadi, kamu lap sepatuku." Bram memajukan salah satu kakinya.
Steve menegang. Dia belum sepenuhnya pulih dari penyakitnya, tapi sudah melihat pemandangan mengerikan seperti ini.
Alden berjongkok tepat di depan kaki Bram. Ini ketiga kalinya dia berlutut pada Bram.
"Bram, kamu sungguh keterlaluan." ucap Steve geram. "Aku tidak suka dengan sikapmu seperti ini. Aku rasa kerjasama kita gak bisa dilanjutkan." Steve sudah tidak tahan lagi. Dia melenggang pergi setelah mengatakan itu pada Bram.
Bram kaget, tapi dia tidak mengejar Steve karena Alden kini tengah membersihkan sepatunya dengan saputangan miliknya. Tindakan Alden tampak lebih menarik daripada perkataan Steve soal kerjasama mereka.
Alden menyelesaikan dengan cepat, lalu dia berdiri. Dia memandang wajah puas Bram yang telah menindasnya.
"Untung saja istriku tidak mengikuti sifat bapaknya." ucapnya lirih.
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Enggak Om.. saya akan mulai kerja saja." Alden mengisyaratkan jarinya ke belakang tanda ingin segera pergi dari situ.
"Ya,, kerjakan semua dengan benar." Bram juga tidak mau ambil pusing. Dia tentu saja hanya menggertak Alden, tapi Alden malah menyanggupinya. Jadi tidak ada salahnya untuk sedikit bermain dengan Alden.