Valen For You

Valen For You
Rencana jahat


__ADS_3

"Aku berangkat dulu, sayang. Hari ini Tuan Steve mengadakan pesta di rumahnya, jadi mungkin aku akan pulang malam." Alden mengecup dahi Valen sambil berpamitan padanya.


"Oke.Aku mungkin akan pergi sebentar untuk melihat-lihat pakaian baby."


"Ya, hati-hati dan jangan matikan ponselmu." pesan Alden sebelum benar-benar pergi dari hadapan Valen.


Valen beranjak dari kursi untuk membereskan piring-piring yang baru saja mereka gunakan untuk sarapan. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat pesan masuk di ponselnya. Wanita itu langsung mengambil ponsel untuk memastikan jika dia tidak salah melihat notifikasi. Itu WA dari Ester, alias Mommy nya!


Val, Mom ingin bertemu kamu siang ini. Mom sangat kangen padamu.


Valen kembali duduk, dan langsung membalas pesan dari Ester.


Oke Mom. Kebetulan Valen juga ingin keluar. Miss you too, Mom.


Kehidupan Valen sekarang saat ini berangsur membaik. Dia sudah bisa mengatur perasaannya dan juga bisa menerima keadaan. Mom nya pun sepertinya melunak. Akhirnya pikiran Valen bisa sedikit lebih tenang menghadapi kehamilan yang hanya 3 bulan lagi.


"Iya, baby.. Mom juga senang.. sebentar lagi kita akan bertemu dengan Oma." Valen bicara sendiri dengan baby di perutnya yang sangat aktif. Terkadang Valen merasakan gerakan yang membuatnya geli. Dia juga sudah mulai sakit pinggang, karena badannya yang ramping harus menopang si Baby yang sudah semakin besar.


Sementara itu, di rumah Bram dan Ester tampak seorang pria yang duduk di depan mereka. Pria itu tersenyum setelah Ester bilang oke.


"Berangkatlah dengan istriku." ucap Bram seraya berdiri dari duduknya.


"Lho, kenapa kamu tidak ikut?" tanya Ester bingung.


"Aku ada acara makan malam di tempat Billy Stevenson." Bram berbalik lalu masuk ke kamar, meninggalkan Ester dan pria muda itu berdua saja.


"Maaf, Om memang seperti itu." "Dia masih belum bisa memaafkan Valen." Jelas Ester yang tidak enak pada pria yang sejak tadi lebih banyak diam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tante." "Om Bram tampaknya sangat menyayangi Valen."


"Ya, gara-gara pria kurang ajar itu hidup kami jadi berantakan." ucap Ester kesal. Setiap kali mengingat Alden, emosi Ester kembali memuncak. Susah payah Ester menjaga Valen. Tapi, dia malah melakukan perbuatan terlarang dengan Alden.


"Sudahlah, Jas. Ayo kita berangkat." Ester mengambil tas di sebelahnya, lalu mengajak pria itu untuk pergi.


"Tapi, apakah Valen akan menerima penawaran ini?" tanyanya ragu.


"Jason. Kamu adalah pria yang paling cocok untuk Valen. Seharusnya kamu bertemu dengan Valen sebelum dia mengenal Alden." Ester menghela nafas panjang. Ini sudah ke sejuta kalinya Ester mengeluh dan menyesal. Untung saja Jason datang ke rumah mereka dan mengatakan perasaannya untuk Valen.


Ya, kedatangan Jason seminggu lalu langsung disambut dengan baik oleh Bram dan Ester. Mereka senang karena sudah menemukan solusi untuk masalah Valen. Mereka sudah punya rencana untuk menceraikan Valen dari Alden setelah anak mereka lahir. Dan Jason adalah calon yang cocok untuk menjadi suami Valen nantinya. Entah ide gila darimana, tapi mereka sudah tidak punya pilihan. Mereka tidak mungkin membiarkan Valen hidup susah seterusnya.


Kali ini Bram dan Ester sudah tidak mengingat dosa dan perbuatan kejam mereka untuk memisahkan Valen dari Alden.


Valen melambaikan tangannya ketika Ester masuk ke dalam cafe. Dia sangat rindu pada Mommy nya. Rasanya sudah puluhan tahun Valen tidak bertemu dengan Ester.


"Mom.." panggil Valen seraya memeluk Ester.


Ester tidak bisa membohongi dirinya jika dia juga merindukan Valen. Mommy Valen itu mengusap punggung putrinya dengan perasaan sedih sekaligus senang. Ester sedih karena dia sudah mengabaikan Valen begitu lama. Tapi, dia senang bisa melihat Valen dan kandungannya baik-baik saja.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Ester dengan suara tercekat. Dia memegang perut Valen yang terlihat besar. Ester yakin jika anak Valen nanti adalah perempuan.


"Jalan 6 bulan, Mom." ucap Valen senang. Dia merasakan bayinya bergerak lagi sewaktu Ester mengusap perutnya.


Setelah momen kangen-kangenan dan emosi mereka sudah stabil, akhirnya mereka bisa duduk dengan santai.


"Apakah semua berjalan dengan baik?" Ester memulai percakapan lagi.

__ADS_1


"Awalnya Valen sangat stress, Mom. Valen tidak bisa hidup susah." "Tapi lama kelamaan Valen bisa beradaptasi dengan baik." "Hubungan Valen dengan Alden baik-baik saja. Dan sekarang kami bahagia." cerita Valen dengan semangat. Dia berharap jika Ester bisa menerima Alden sebagai menantunya dan memaafkan tindakan Alden.


"Syukurlah, Val. Mom sangat khawatir padamu." Ester mengambil tangan Valen yang berada di meja.


"Mom,, aku baik-baik saja Mom." "Kami sadar jika jalan kami salah dan kami harus menanggung perbuatan kami. Sekarang kami sedang memperbaiki kesalahan kami." Valen tersenyum pada Ester.


Tapi, senyum Valen segera pudar ketika melihat Jason masuk dan berdiri di belakang Ester. Valen merasakan firasat yang kurang baik.


"Hai Valen." sapa Jason ramah.


"Duduk sini, Jas." Ester mempersilahkan Jason untuk duduk di sampingnya.


"Mom, ada apa ini?" tanya Valen curiga. Setau Valen, Jason tidak mengenal Ester. Kenapa mereka tampak begitu akrab?


"Val.. Mom sudah tau ceritamu dan Jason." kata Ester dengan lirih. "Mom ingin kamu bisa berteman baik dengan Jason sambil menunggu kamu dan Alden bercerai."


"Mom!" bentak Valen. Suaranya begitu keras sampai mengundang pusat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Tapi, Valen tidak peduli. "Mom sudah kehilangan akal sehat." "Ini sungguh gila dan di luar nalar!"


"Val, Mom mohon dengarkan dulu." Ester mulai menangis. "Mom tidak ingin kamu susah terus seperti ini, Val. Tolong pikirkan baik-baik."


"Mom yang seharusnya pikir baik-baik. Mana ada orang tua yang ingin anaknya bercerai." Valen begitu kecewa pada Ester. Dia pikir tawaran Bram waktu itu hanya gertakan saja. Ternyata Bram dan Ester sudah punya rencana matang. Dia bahkan bisa memilih Jason sebagai calon mantunya. Ini sungguh sebuah plot twist untuk Valen.


"Kalau Mom cuma ingin mengatakan ini saja, sebaiknya Valen pergi." "Valen tidak masalah jika Mom tidak anggap Valen anak lagi." Valen menarik kursinya. Dia sudah tidak ingin melanjutkan percakapan ini dan memutuskan untuk pergi. Tapi baru beberapa langkah, Valen merasakan sakit luar biasa di perutnya. Tubuh Valen juga sangat lemas dan kakinya tidak bisa menopang badannya lagi.


'Bruk'


"Valen!" teriak Ester dan Jason bersamaan setelah melihat Valen pingsan.

__ADS_1


__ADS_2