Valen For You

Valen For You
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Cafe Milan


Valen menatap ke sekeliling sambil sesekali mengaduk minumannya. Beberapa tahun yang lalu dia pergi ke sini untuk berkenalan dengan Samuel Sebastian alias kakak Alden. Sayangnya, Valen melewatkan pria itu dan sekarang pria itu sudah memiliki kekasih dan akan menikah. Seandainya Valen memilih Sam, mungkin kisah hidupnya tidak akan seperti ini.


"Maaf, lama menunggu." Aeris datang bersama dengan seorang pengawal.


Valen tersenyum. "Tidak apa-apa. Harusnya aku yang datang ke tempat mu, karena kamu sedang hamil sekarang." ucap Valen tidak enak.


"Ah, santai saja. Aku juga bosan di rumah." Aeris duduk bersandar dan mengambil posisi nyaman.


"Ada apa, Val?" tanya Aeris to the point.


"Aku ingin mengembalikan ATM mu." Valen menyodorkan black card Aeris ke depan wanita itu. "Alden menyuruhku untuk mengembalikannya."


"Lho, kenapa?" Aeris terperanjat. Dia benar ingin membantu Valen dengan yang tabungan bulanan miliknya.


"Yah, begitu lah Alden." "Dia keras kepala dan emosional." curhat Valen yang kemudian menghela nafas panjang.


Aeris cukup prihatin dengan Valen. Dia anak dari keluarga baik-baik dan pekerjaannya pun menjanjikan. Tidak seperti dirinya yang hanya lulusan SMA. Tapi, nyatanya kehidupan Valen sekarang cukup memprihatinkan akibat married by accident. Untung saja Aeris bisa menjalani pernikahan yang terhormat dan sekarang dia begitu bahagia karena Reno sangat menyayanginya.


"Val, kalau kamu butuh sesuatu, tolong kabari aku." Aeris menggenggam tangan Valen.


"Thanks, Ris. Sementara ini aku belum membutuhkan apa-apa." Valen tersenyum kecil pada Aeris.


"Lalu, apa rencana mu ke depan?"

__ADS_1


"Rencana?"


Valen terdiam. Jika dulu sebelum menikah, Valen bisa menjawab dengan cepat. Dia ingin membuka cabang klinik nya, juga untuk kembali sekolah di luar negeri.


"Aku tidak punya rencana." jawab Valen akhirnya. Lagipula dia sedang hamil muda. Jadi, Alden pasti tidak akan mengijinkannya untuk melakukan apapun.


"Ya, lebih baik seperti itu. Kamu harus banyak istirahat di awal kehamilan mu. Rasanya tidak enak sekali."


"Tapi apakah kamu jadi sebal dengan Reno?"' tanya Valen penasaran.


"Tidak.. aku malah menempel padanya sepanjang waktu." wajah Aeris bersemu merah karena mengingat apa saja yang dia lakukan terhadap Reno ketika sedang berdua di kamar.


Valen mengerucutkan bibirnya. Mungkin ini termasuk bawaan bayi juga. Atau dia memang kesal dengan pria itu?


*


*


*


"Hai Re.." Sapa Alden sembari duduk di bangku pasien depan Sam.


"Hai Den, selamat ya.." Rea tersenyum kecil pada Alden yang tampak kurang bersemangat.


"Untuk apa mengucapkan dia selamat?" komplain Sam dengan nada sinis.

__ADS_1


"Sayang, kamu jangan seperti itu." Rea menahan Sam yang sudah berdiri dari kursinya. Dia tau, Sam akan meledak sebentar lagi.


"Aku sudah cukup bersabar selama ini, Re.." Sam memijit pangkal hidungnya sambil bersandar pada kursi kebesarannya.


"Aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertanya keadaan Dad." kata Alden lirih.


"Kamu masih berani tanya keadaan Dad?" bentak Sam.


"Sam, sudah.. biar aku yang jelaskan." Rea mengambil alih pembicaraan mereka. Dia tidak ingin jika Sam juga emosi dan akhirnya membuat semua makin kacau. Perseteruan kakak beradik ini sejak dulu memang cukup sengit. Jadi, Rea tau apa yang harus dia lakukan.


"Den, Dad kena stroke.. dan dia tidak bisa berjalan sekarang."


"Jadi, Dad.."


"Ya, dia harus pakai kursi roda." Rea menghela nafas panjang.


"Aku menyesal, Re." hanya itu yang mampu Alden ucapkan.


"Percuma, Den. Itu karena kamu selalu melakukan suatu hal dan tidak pernah di pikir dulu. Sekarang, semua orang yang kena akibat dari perbuatan mu." Sam lagi-lagi menginterupsi.


"Den, pernikahan ku dengan Sam akan ditunda tahun depan."


"Re.." Alden terperangah. Dia makin tidak enak karena Rea dan Sam sudah menunggu pernikahan mereka cukup lama. Sekarang mereka berdua harus menunda lagi karena kesehatan Ben memburuk. Pantas saja Sam terlihat begitu emosi.


"Sudah lah. Aku tidak akan membantu mu lagi. Kamu harus mengurus hidup mu sendiri dan berusahalah supaya Dad memaafkan mu." Sam beranjak dari tempatnya. Dia membawa Rea ikut serta, meninggalkan Alden yang masih terdiam menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Alden mengusap wajahnya dengan kasar. Semua menjadi kacau karena sebuah kesalahan. Tapi, Alden tidak dapat mengulang waktu. Dia harus menelan kenyataan pahit ini dan menjalani hidupnya dengan Valen.


__ADS_2