Valen For You

Valen For You
Pekerjaan yang cocok


__ADS_3

Valen menemukan ide cemerlang untuk membantu Alden mengatasi keuangan mereka. Dia harus membantu Alden mencari uang. Rasanya tangan Valen sudah gatal untuk mendapatkan uang dari hasil kerja keras sendiri. Ya, sebelum ini Valen sangat rajin bekerja. Dia bisa membeli segala hal yang dia inginkan tanpa terkecuali.


Tapi, permasalahannya di sini adalah Valen sedang hamil. Perusahaan mana yang mau menerima ibu hamil seperti Valen? Meskipun perutnya belum terlihat buncit, tapi tetap saja statusnya ibu hamil.


Valen hanya punya satu pilihan untuk mengatasi perasaan galaunya. Call a friend alias menghubungi Zoe. Dia pasti punya ide untuk membantu Valen mencari pekerjaan yang cocok.


"Lo, mau kerja apa beb?" tanya Zoe bingung.


"Apa aja deh yang penting dapet duit." jawab Valen asal.


"Lo jadi manager gue ya?"


"Halah. Kasian manager lo yang sekarang." Valen menolak ide spontan dari Zoe.


Zoe diam untuk berpikir sebentar.


"Lo, kan fashionable ya, Beb. Gimana kalau Lo jadi stylish aja di program gue?" ucap Zoe senang.


"Apa kerjaan gue?"


"Ya itu, menata baju dan make up sekalian." terang Zoe dengan semangat.


"Deal." jawab Valen akhirnya. Dia hanya bekerja menata pakaian dan make up artis yang ikut dalam program acara Zoe. Itu bukan pekerjaan yang berat dan sulit.


"Yeay.. akhirnya kita bisa sering ketemu." teriak Zoe senang. "Tapi, suami lo gimana?"


"Itu soal gampang deh. Nanti gue pikirin lagi urusan dia."


"Oke deh. Aku jemput kamu jam 10 ya besok."


"Oke, see you beb." pamit Valen.

__ADS_1


Dia senang sekali akhirnya bisa mendapat pekerjaan yang sepertinya pas. Valen tidak mengharapkan gaji yang fantastis, tapi setidaknya dia bisa membantu Alden dan juga mengalihkan pikirannya supaya tidak terlalu stress.


*


*


*


Alden baru saja sampai di rumah. Kebalikan dari Alden, justru Valen sudah berpenampilan rapi dan siap keluar dari rumah.


"Mau ke mana? Kenapa begitu rapi? " tanya Alden sambil memandangi pakaian Valen dari atas ke bawah.


Istrinya itu menggunakan celana jeans street dan juga blouse longgar. Jika dilihat sekilas, Valen seperti anak muda dan tidak tampak seperti ibu hamil.


"Mau pergi dengan Zoe." jawab Valen hati-hati. Dia berencana untuk tidak memberitahu Alden dulu. Jika nanti dia sudah bekerja dan menghasilkan, baru dia akan bicara pada Alden.


"Oke." jawab Alden singkat, lalu dia pergi ke kamar.


Alden dan Valen masih menjaga jarak sampai saat ini. Tapi, itu membuat Valen jadi lebih tenang dan dia bisa bebas untuk melakukan apa yang dia inginkan. Valen yakin kalau sekarang dia bicara pada Alden, pasti Alden akan marah lagi. Jadi, seperti ini lebih baik dan menguntungkan untuk Valen.


Valen memakai maskernya begitu sampai di gedung. Dia harus waspada karena dulu langganan klinik miliknya rata-rata adalah Artis. Dia tidak ingin bertemu mereka di sini, lalu banyak bertanya tentang kehidupannya yang rumit sekarang.


"Gue tinggal dulu ya.. lo ke ruang ganti aja." Zoe melambaikan tangan pada Valen.


Valen berjalan sambil menengok kanan kiri. Dia melihat keadaan tempat kerjanya sebelum syuting di mulai. Mereka sudah sibuk kesana kemari sesuai dengan bagiannya. Valen masuk ke ruang yang telah ditunjukkan Zoe. Di ruang tunggu itu kosong, berbeda dengan yang ada di depan.


Hanya ada satu orang pria yang sedang tertidur di sofa.


"Apa ini artisnya?" ucap Valen sambil memperhatikan wajah pria blesteran itu dengan baik.


"Ya, saya artisnya." Tiba-tiba pria itu membuka mata.

__ADS_1


Itu jelas membuat Valen terlonjak kaget. Untung saja Valen dapat mengendalikan diri sehingga tidak jatuh.


"Maaf, kak. Saya tidak sengaja."


Pria itu bangun, lalu berdiri sambil meregangkan badannya yang pegal.


"Mana bajuku?" Pria itu melepas satu persatu jaket, dan kaosnya sehingga hanya bertelanjang dada.


Valen melengos. Dia melihat gantungan hanger di sisi kanan ruangan. Valen yang tidak tau konsep syuting mereka, segera memilih pakaian dengan asal. Dia memberikan kemeja batik lengan pendek tanpa menengok.


"Maaf, kak. Bilang saja kalau sudah selesai berganti pakaian." ucap Valen lagi.


Pria yang baru sadar itu langsung mengenakan dengan cepat kemejanya. Dia penasaran dengan Valen yang tidak mau melihatnya bertelanjang dada. Padahal semua wanita akan terhipnotis jika melihat dada bidangnya ini.


"Sudah." jawab pria itu singkat.


Valen menengok. Dia lega karena pria itu betul sudah berpakaian dengan rapi.


Pria tadi memperhatikan Valen yang kini tengah merapikan lagi kerah kemejanya. Dia merasa tidak asing dengan wajah Valen.


Dengan lancang, pria itu membuka masker milik Valen.


"Jangan seperti itu, kak." protes Valen yang merasa perbuatan pria di depannya kurang sopan.


"Kamu, Valencia?" tanyanya terkejut.


Valen berhenti protes dan memandang pria tinggi itu sambil mengingat siapa dia. Baru 5 menit berada di sini, sudah ada yang mengenalinya.


"Anda siapa ya?" Valen menyerah karena tidak dapat mengingat nama pria itu.


"Jason! Cepat." PD masuk ke ruangan untuk menarik pria bernama Jason.

__ADS_1


"Jason?"


Valen mengerutkan dahi mengingat apakah dia mengenal pria bernama Jason itu.


__ADS_2