
"Den, lo kenapa? Lagi bete?" Milka yang baru saja datang langsung menepuk bahu Alden yang sedang melamun di loker.
"Biasa. Marahan sama Valen." Jawab Alden sambil menggunakan seragamnya.
Baru kali ini Milka melihat Alden melamun dengan raut wajah begitu sedih. Akhir-akhir ini memang Alden tampak tidak bersemangat dan sering melakukan kesalahan. Pasti kali ini masalahnya dengan Valen begitu berat.
"Mungkin bawaan bayi, Den." hibur Milka. Sebenarnya diapun tidak tahu bawaan bayi itu seperti apa. Hamil saja belum pernah.
"Kamu benar tidak ada kenalan yang mau cari kerja, Mil?" tanya Alden mengalihkan pembicaraan. Jika berbicara soal Valen, pasti tidak akan ada habisnya. Sekarang yang ada dalam pikiran Alden selain Valen adalah mencari pekerjaan sesuai dengan permintaan istrinya.
"Gue? Kenalan?" Milka tertawa sinis. "Kamu tau kan aku ini anak yang terbuang. Aku hidup sendirian dan kamu bisa hitung berapa temanku." Ucap Milka sambil menggunakan topinya.
Alden mengutuki dirinya sendiri karena salah bicara. Dia pasti menyinggung perasaan Milka.
Ya, Milka juga sebatang kara seperti Alden. Nasib mereka benar-benar persis. Hanya bedanya, Alden tidak diakui lagi oleh keluarga angkatnya alias Keluarga Sebastian, sedangkan Milka tidak diakui oleh keluarga kandungnya sendiri.
"Ayolah, kita kerja saja." Alden menarik tangan Milka untuk segera membereskan meja dan kursi karena sebentar lagi club akan buka.
Alden berkeliling untuk mengepel ruangan, sedangkan Milka mengelap meja. Mereka melakukan ini berdua karena karyawan lain belum datang.
Alden-Milka adalah duo trouble maker. Selama bekerja, mereka yang paling sering berselisih dengan pelanggan. Tapi, di balik kerusuhan yang sering mereka buat, Alden-Milka lah yang paling rajin dari antara semua. Mereka punya dedikasi tinggi untuk pekerjaan yang biasa dianggap orang adalah pekerjaan rendahan.
"Oh iya, Den. Besok malem, lo bisa temenin gue gak?" tanya Milka di sela-sela pekerjaannya.
"Ke mana?"
__ADS_1
"Gue di kasih voucher makan malem di hotel Emerald. Tapi gue malu kalau dateng sendiri." Milka mendekat pada Alden. "Kalau sama lo kan gue ga malu, karena face lo face orang kaya." candanya.
"Hotel Emerald?" ulang Alden lagi. Hotel Emerald adalah Hotel milik sepupunya.
"Ya,, tapi kalau lo gak bisa juga gak apa-apa. Nanti istri lo tambah marah, gue yang berabe."
"Bisa kok." Alden mengiyakan permintaan Milka. Dia kasihan pada Milka yang selalu saja ke mana-mana sendiri. Jarang sekali Milka meminta bantuan dari Alden atau orang lain. Lagipula Alden pasti akan suntuk di rumah karena Valen masih ngambek padanya.
"Thanks Den."
"You're welcome."
Milka tersenyum pada Alden. Mereka melanjutkan lagi kegiatan mereka untuk bersih-bersih.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu, Mil?" Alden menghentikan kegiatannya.
"Ya, kali aja bokap lo itu kaya raya dan lo bisa memperbaiki hubungan lo dengan Valen." Milka berimajinasi dengan baik.
"Hahaha.. lo pikir ini drama korea?" "Lagian, kenapa gue harus cari orang yang udah buang gue sama nyokap gue?" Alden tertawa miris.
"Den, lo kan gak pernah ngerti bokap lo kan? Nyokap lo juga ga pernah cerita tentang bokap lo, kan?" "Siapa tau mereka itu hanya salah paham." Milka bicara dengan sedikit ngegas.
"Santai, Mil. Kenapa lo yang jadi emosi?"
"Ya, sorry.." Milka duduk di bangku depan Alden. Cerita Alden benar-benar mirip dengannya. Mereka anak broken home. Mereka tidak tau apa yang dinamakan dengan keluarga. Terlebih Milka baru saja kehilangan Ibunya 1 tahun lalu.
__ADS_1
"Kita gak usah ngomongin keluarga. Lebih baik kita seperti ini saja, Okey?" Alden memegang bahu Milka dengan kedua tangannya sambil menatap lekat wanita itu.
"Ehem." Manager mereka datang, menghentikan percakapan mereka berdua.
"Jangan pacaran di tempat kerja." tegurnya.
"Bapak pengen juga ya?" goda Milka.
Manager mereka itu jomblo abadi alias perjaka tua. Jadi, jika melihat orang bermesraan, dia akan sensi, iri dan dengki.
"Truk aja gandengan pak.. masa bapak enggak??" tambah Alden. Setelah itu, dia buru-buru pergi ke lantai 2 dengan membawa Milka ikut serta.
"Aldeeeeen.. awas kamu." "Saya akan potong gaji kamu bulan depan." teriaknya kesal.
"Kasian sekali Pak Rendi." Milka menengok ke bawah dan menyaksikan Pak Rendi masih bercak pinggang dengan ekspresi kesal.
"Heh, lo juga masih jomblo." Alden mentoyor kepala Milka. "Cepet nikah, nanti jadi perawan tua." ejek Alden.
"Biarin deh jadi perawan tua. Daripada gue nikah tapi gak bahagia, kayak lo." balas Milka tak kalah pedas.
"Siapa bilang gue gak bahagia?"
"Kalian masih pacaran lagi yaaaa?! Milka.. Alden.. kerja yang betul." teriak Pak Rendi dari bawah.
Alden langsung kembali mengurus pekerjaannya. Begitu juga dengan Milka. Mereka tentu tidak mau pembicaraan random ini akan berakhir dengan sebuah surat SP.
__ADS_1