
"Alden.. bagaimana keadaanmu?" Steve masuk ke dalam ruangan VVIP bersama dengan Zoe. Dia meletakkan parcel buah di nakas, lalu duduk di kursi samping ranjang. Sedangkan Zoe berdiri di samping ayahnya.
"Baik, Tuan. Besok mungkin saya akan pulang." Alden mencoba untuk bangun dan bersandar pada head board.
Zoe yang berada dekat Alden tentu saja membantu Alden dengan hati-hati.
"Den, kamu masih sakit. Tidak apa-apa. Kamu istirahat dulu saja." ucap Steve dengan pandangan yang mengarah pada perut Alden. Tadi Steve sudah bicara pada Dokter sebelum ke kamar ini. Luka Alden mendapatkan 12 jahitan dan itupun masih melihat apakah ada infeksi atau tidak.
"Saya baik-baik saja, Tuan."
"Den, jangan keras kepala. Dad bisa menyewa orang untuk sementara."
Alden menengok ke samping, tepatnya ke arah tangan Zoe yang masih memegangi lengannya.
Zoe tersadar, kemudian dia segera melepaskan tangan dengan spontan.
"Mana istrimu?" tanya Zoe yang teringat pada Valen. Tadi dia meninggalkan Valen karena Valen dibawa oleh Sam entah kemana.
"Dia istirahat di rumah. Aku tidak ingin dia kelelahan karena mengurusku."
Zoe mengangguk. Alden memang terlihat sangat bar-bar, tapi dia sebenarnya pria yang begitu perhatian pada wanita, terutama istrinya.
"Permisi." seorang perawat masuk dengan troli yang berisi makanan pasien.
"Bagaimana keadaan anda, Tuan? Apakah badan anda panas?" tanya perawat itu sembari menaruh makanan pada nakas.
"Saya merasa biasa saja." jawab Alden singkat.
"Syukurlah." "Anda memang sungguh beruntung karena selalu lolos dari maut." ucap perawat yang sudah mengenal Alden.
Percakapan Alden dan perawat itu tentu saja mengundang rasa penasaran Steve.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Alden selalu keluar masuk rumah sakit karena..." perawat itu melirik ke arah Alden yang sudah mulai kesal.
"Dia selalu berkelahi?" lanjut Steve sambil membenarkan posisi duduknya untuk menghadap perawat.
"Jangan dengarkan dia, Tuan. Dia hanya tidak suka jika saya bolak balik masuk rumah sakit." Alden memberi kode pada perawat itu untuk diam. Alden tidak suka jika kekurangannya diungkit oleh orang lain.
"Kamu mau makan, Den?" Zoe sudah mengambil piring makan malam Alden.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Den, infus mu bisa lepas." ingat Steve.
Alden memandang jarum yang berada di tangan kanannya. Dia lupa jika tangan kirinya sudah tidak dapat di infus karena sudah terlalu sering di masukkan jarum infus.
"Oke, Dad harus keluar dulu untuk menemui Dokter Lukas. Kamu tidak apa-apa di sini?" Steve berdiri dari bangkunya. Dia menepuk pundak Alden dengan pelan, lalu pergi keluar begitu saja.
"Kamu gak ada jadwal, Zo?" tanya Alden sembari mengunyah makanannya.
"No..hari ini aku ingin bersama Dad." ucap Zoe sambil tersenyum. Sebenarnya ini alasan klasik. Zoe membatalkan beberapa jadwal syuting supaya bisa menemani Steve untuk menemui Alden.
"Thanks Zo." "Valen benar, ternyata kamu memang sahabat yang baik."
Lagi-lagi Zoe tersenyum. Tapi, ada rasa sedikit kecewa karena Alden menyebutkan kata Valen.
'Zoe, pasti kamu sudah gila.' batin Zoe setelah menyadari apa yang sedang dia pikirkan.
"Ayahmu begitu kaya dan dia kerepotan. Kenapa kamu justru malah menjadi artis?" Alden mengajak Zoe bicara lagi, karena melihat wanita itu melamun.
"Aku tidak suka kerja kantoran." jawab Zoe santai. "Bukankah kamu juga begitu?" "Tuan Sebastian punya banyak rumah sakit. Kenapa kamu tidak meneruskannya?"
__ADS_1
Alden tersenyum sinis mendengar apa yang Zoe tanyakan. Gadis itu sungguh pintar. Membalik pertanyaan dengan pertanyaan. Zoe persis dengan Valen.
"Zo, aku bukan anak Ben Sebastian." "Aku hanya anak angkat saja." aku Alden.
"Whaaaat?!" Zoe hampir saja menjatuhkan piring di tangannya jika Alden tidak dengan sigap memegangnya dengan tangan kiri.
"Serius, Den?"
"Kamu ingat, Bi Mira?"
Zoe mencoba mengingat nama yang disebutkan Alden. Dia ingat babysitter yang selalu mengikuti Alden kemanapun. Dia bertubuh mungil dan sangat cantik. Jika tidak menggunakan pakaian khas babysitter, Zoe pikir itu adalah salah satu keluarga Sebastian yang sering main di sana.
"Dia ibu kandungku." kata Alden datar.
"Astaga.. i can't believe this." Zoe merasakan kepalanya tiba-tiba pusing. Alden hanya anak seorang pembantu?
"Jadi, aku punya alasan yang tepat jika aku tidak ingin mengurus usaha keluarga Ben Sebastian." jawab Alden yang kini memandang Zoe dengan intens. " Beda dengan kamu." "Bukankah dunia artis itu sangat menyedihkan?"
"Apa maksudmu, Den?"
"Zo, mereka tampaknya hidup dengan senang, tapi kenyataannya tidak seperti itu." "Mereka hanya hidup bermuka dua." Alden tersenyum sinis.
Dia sudah mengetahui rahasia banyak artis di kota ini. Perselingkuhan, hutang, depresi karena tuntutan kerja. Itu semua mereka ucapkan ketika sedang mabuk di depan Alden.
Alden hanya merasa kasihan pada Zoe karena Zoe adalah anak bosnya sekaligus juga teman istrinya.
"Den.. tapi aku suka.."
"Alden.." suara Valen mengejutkan mereka berdua, khususnya Zoe.
Valen berdiri mematung di depan pintu melihat kebersamaan Alden dan Zoe. Apalagi posisi Zoe duduk di pinggir ranjang Alden.
__ADS_1