Valen For You

Valen For You
Akan ada di samping kamu


__ADS_3

"Val..." Alden memeluk istrinya yang masih berdiri membisu di depan pintu.


"Alden, gimana kamu tau aku di sini?" ucap Valen panik.


"Syukurlah kalian gak apa-apa." Alden tampak tidak mempedulikan pertanyaan Valen. Dia sungguh rindu pada Valen dan juga merasa lega sudah bisa bertemu dengannya. Alden menciumi pucuk kepala Valen sambil mengelus rambutnya.


Valen tidak menolak karena dia juga merasakan apa yang Alden rasakan juga. Valen jelas kangen Alden, sangat.


"Kenapa kamu baru cari aku sekarang. Apa kamu sibuk dengan Zoe?"


"Zoe?"


" Ya, aku liat kamu dengan Zoe sedang bermesraan." jawabnya dingin. Dia menatap Alden dari balik dada bidangnya.


"Dia justru bantu aku cari kamu." Alden balik menatap Valen. Dia bisa bertemu Valen karena Zoe mengikuti Bram setiap hari sampai akhirnya dia tau Valen disembunyikan dimana. Setelah tau, Alden tanpa banyak buang waktu segera menemui Valen ke apartemen ini.


"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan." lanjut Alden yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya.


"Kita bicara di kamar saja." Valen melepaskan diri dari Alden.


Alden setuju. Dia mengikuti Valen ke kamarnya. Alden cukup terkejut mendapati banyak peralatan kedokteran di kamar Valen. Ada infus, obat-obatan di meja, juga alat USG. Apa yang terjadi dengan Valen? Dia tampak sehat, hanya sedikit pucat saja.


Valen duduk di pinggir ranjang, sedangkan Alden mengambil kursi meja rias dan duduk di depan Valen.


"Sekarang, jelaskan kenapa kamu tiba-tiba kabur dan sembunyi." Alden mulai menginterogasi Valen.


"Aku..."


"Val, kita sudah sepakat untuk saling jujur."


"Aku tidak baik-baik saja. Aku dan bayi ini."


"Maksudnya?"


Valen menceritakan tentang penyakitnya yang serius pada Alden. Sindrom HELLP yang jarang ditemui oleh wanita hamil. Dan seperti biasa, Valen menjelaskan sambil menangis.

__ADS_1


"Jadi, aku gak mau kamu sedih kalau aku gak selamat." ucap Valen mengakhiri percakapannya dengan Alden.


"Astaga,Valen!" Alden menyeringai. Dia sudah tidak mengerti cara berpikir istrinya. "Aku itu suami kamu. Kita sudah janji akan bersama dalam keadaan apapun." "Kamu gak tau gimana frustasinya aku setiap malam karena memikirkan kamu dan anak kita?" "Aku bahkan sampai rela di permainkan Daddy mu selama satu bulan ini demi kamu." jelas Alden panjang lebar.


"Maaf..aku cuma takut.." ucap Valen menyesal. Dia memeluk Alden lebih dulu.


Melihat Valen yang begitu sedih dan mengingat kondisi Valen yang sedang sakit, tentu saja Alden mereda. Wajar jika dia kesal pada Valen yang begitu egois.


"Sekarang gimana kondisi kamu?"


"Semua bagus dan aku bisa segera di Caesar." kata Valen dengan terisak.


"Pasti kamu sangat berat menjalani ini semua." Alden memegang pipi Valen dan mengusapnya dengan lembut. "Maafkan aku."


"Makasih Den karena kamu udah mengerti kondisi ini."


"Aku mencari kamu seperti orang gila." tangan Alden mengusap bibir Valen yang pucat. Entah siapa yang memulai, tapi mereka menyalurkan rasa rindu mereka dalam sebuah ciuman mesra.


"Valeeen.." suara Bram terdengar di luar.


"Tuan, Nona sedang istirahat dan bilang tidak ingin di ganggu."


"Apa dia baik-baik saja?"


"Ya, sangat baik. Beberapa hari lagi kita akan melakukan tindakan untuk Caesar, jadi nona butuh istirahat."


"Oke, berikan ini untuk Valen."


Alden dan Valen menarik nafas lega begitu suasana kembali hening.


Kaki Valen sangat lemas. Dia meminta Alden untuk membawanya ke ranjang. Setelah memastikan Valen tidur dengan nyaman, Alden berputar ke sisi ranjang yang kosong dan dia tidur di sebelah Valen. "Malam ini sepertinya aku bisa temani kamu tidur."


'Ceklek' pintu kamar terbuka. Suster melongok kan kepalanya ke dalam.


"Nona saya hanya ingin kasih tau, kalau ada apa-apa saya jaga di depan ya.." Suster Valen tau jika Alden mengunjungi Valen. Tadi dia memergoki mereka berdua masuk ke kamar. Jadi waktu Bram datang, dia bisa mencegah ayah Valen itu untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Thanks Sus.." ucap Valen penuh arti.


Akhirnya mereka bisa kembali berdua. Mereka saling berpandangan intens. Sudah hampir 2 bulan mereka terpisah dan wajar jika mereka saling merindukan satu sama lain.


"Apakah aku jadi tambah jelek?" Valen meraba pipinya yang chubby.


Alden menggeleng. "Justru tambah cantik." Alden merapihkan rambut Valen. "Jangan bertindak seperti ini lagi."


"Tapi aku belum lewat masa kritis. Aku gak tau apa yang terjadi waktu persalinan nanti." Valen mendekatkan dirinya pada badan Alden. Dia memeluk badan kekar Alden layaknya sebuah guling.


"Apapun yang terjadi aku akan ada di samping kamu sayang. Meskipun aku harus melewati ayahmu yang galak itu."


"Apa yang telah Daddy lakukan padamu?"


"Tidurlah Val.." Alden menepuk nepuk istrinya pelan seperti sedang me-nina bobokan bocah kecil. Dia tidak ingin membahas Bram saat romantis seperti ini.


"Aku gak akan bisa tidur."


"Apa perlu aku nyanyi?Hmm?"


"Gak perlu.. suaramu jelek, Den."


"Jadi kamu meremehkan suamimu ini? Kamu harus di beri pelajaran." Alden menangkap wajah Valen dengan kedua tangannya. Dia kembali mencium Valen dengan semangat. Tentu saja Alden hanya bisa melakukan itu dan tidak bisa lebih mengingat kondisi Valen yang harus stabil dan juga harus bed rest total.


*


*


*


Valen membuka matanya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah dada bidang Alden. Jadi semua bukan mimpi. Valen memperhatikan wajah lelah Alden yang sudah tertidur pulas. Dia bersyukur karena Alden bisa datang dan membuat moodnya jauh lebih baik. Ternyata keputusan Valen untuk kabur dan bersembunyi itu salah. Dia tidak bisa jauh dari Alden dan begitu pula sebaliknya.


Ponsel Alden berdering di nakas. Valen menggapainya dengan perlahan supaya Alden tidak terbangun. Zoe calling..


"Zoe?"

__ADS_1


__ADS_2