
Seminggu sudah Alden dan Valen saling diam. Mereka juga tidur saling membelakangi. Baik Alden maupun Valen tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Pagi ini mereka makan bersama. Alden menyiapkan nasi, telor ceplok dan rebusan labu siam untuk Valen. Dia juga tidak lupa membuatkan susu ibu hamil untuk istrinya yang sedang mogok bicara itu.
Sejauh ini, Alden sudah berusaha keras untuk menunjukan pada Valen bahwa sebenarnya dia mempedulikan wanita itu.
Valen pun sebenarnya sudah mengikuti kemauan Alden. Dia tidak lagi berkumpul bersama kelompok sosialitanya. Dia juga tidak mencampuri pekerjaan Alden. Valen mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca buku dan juga belanja online.
Ya, belakangan ini mual-mual Valen sudah menghilang. Tapi gantinya dia jadi lebih banyak makan. Dia juga mulai menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. Tapi, karena tidak mau merepotkan Alden lagi plus malas bicara dengannya, akhirnya Valen memutuskan mencari sendiri lewat online.
"What?" teriak Alden tiba-tiba di sela sarapan mereka.
Alden mendekatkan ponsel ke wajahnya, dan dia komat kamit entah sedang menghitung apa.
Valen melirik sesaat, lalu dengan cueknya dia melanjutkan sarapannya.
"Val, kamu pakai akun online ku?" tanya Alden dengan nada curiga.
"Iya, kenapa?" jawab Valen santai.
"Kamu belanja apa sampai tagihannya segini banyak?" Alden menyodorkan ponselnya pada Valen.
Valen membaca tagihannya. "Baru 25 juta, Den."
"Baru 25 juta?" ulang Alden kaget. Begitu entengnya dia bilang 25 juta? Alden memejamkan mata mencoba untuk menenangkan diri. Tapi, sayangnya Alden tidak bisa. "Val, aku tidak punya uang sebanyak ini. Gajiku tidak akan cukup membayar tagihanmu." nada Alden sudah mulai meninggi.
"Ya ampun. Kamu kerja malam pulang pagi, tapi gak cukup juga? Sepertinya kamu salah tempat bekerja."
'BRAK' Jebol sudah pertahanan Alden. Dia kembali emosi.
__ADS_1
Valen memang anak seorang Bramantyo yang suka sekali menjatuhkan harga dirinya. Sebagai laki-laki yang sudah berjuang mencari nafkah untuk keluarga, tentu saja Alden merasa terhina dengan ucapan Valen.
"Aku akan berangkat dan mungkin tidak akan pulang sampai besok." Alden berpamitan dengan tidak baik-baik. Dia menyambar tasnya, lalu membanting pintu depan dengan cukup keras.
Valen membuang nafas panjang. Dia mengusap perutnya dengan perasaan cemas. Jujur dia khawatir jika anak mereka akan mengikuti Daddy nya yang sangat pemarah itu.
Telepon Valen berdering. Mom calling..
Ini pertama kalinya, Ester menelepon setelah mengetahui kehamilan Valen.
"Halo, Mom?" ucap Valen ragu.
"Sayaaang.. bagaimana kabarmu? Mom sangat khawatir kepadamu." suara Ester tampak bergetar menahan tangis.
"Valen baik mom. Alden sangat menyayangi Valen dan dia memenuhi semua kebutuhan Valen." Bohong Valen. Dia sebenarnya tidak tega untuk menceritakan apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangganya bersama dengan Alden.
"Apa kamu membutuhkan uang?" "Mom akan kirim kamu uang, ya?"
"Sayang, Mom mohon.."
"Ester! Apa yang kamu lakukan?!" suara bariton Bram mengejutkan Ester maupun Valen.
Ternyata Ester menelepon Valen secara diam-diam. Sekarang mereka ketahuan oleh Bram.
Valen meremas ujung pakaiannya karena takut berhadapan dengan Bram yang tegas dan tidak kenal ampun.
"Bagaimana rasanya hidup susah? Tidak enak, bukan?" tanya Bram dengan nada ejekan.
"Dad.. kenapa Dad bilang begitu? Valen tidak hidup susah." bela Valen.
__ADS_1
"Wah, sejak menikah dengan pria jahanam itu, kamu jadi pandai berbohong." "Jangan pikir, Dad tidak tau kehidupanmu sekarang."
Valen terdiam. Dia yakin Daddy nya itu pasti sudah menyuruh orang memata-matai dia.
"Valen minta maaf, Dad, Mom." kali ini Valen mengakui kesalahannya.
"Dad punya penawaran yang bagus untukmu." kata Bram kemudian. "Lahirkan anak itu, kemudian kamu bercerai saja dari Alden."
Deg.
Valen ingin berteriak mendengar perkataan jahat yang terlontar dari mulut Daddy nya, tapi lidah Valen seperti terkunci rapat.
"Dad dan Mom akan memaafkan kamu jika kamu menjalankan apa yang Dad perintahkan." tawar Bram.
Valen masih diam. Sebenarnya hatinya begitu senang karena ada jalan supaya Bram dan Ester memaafkan kesalahan Valen. Tapi, pikirannya mengatakan itu tidak benar.
Valen tidak ingin pernikahan dibuat seperti permainan.
"Daddy akan carikan kamu calon yang sederajat dengan kita dan juga yang menyayangi kamu apa adanya." imbuh Bram lagi.
"Dad.. sepertinya Valen tidak bisa menerima tawaran Daddy."
Giliran Bram yang terdiam. Sebenarnya dia sangat ingin menarik Valen pergi dari rumah kontrakan sempit itu. Tapi, dia ingin melihat seberapa kuat putrinya bertahan dengan pria seperti Alden. Bukan tidak mungkin jika nantinya Valen lah yang merengek ingin kembali ke rumah. Yang penting, Valen sudah mengerti rencana Bram untuk mengubah kehidupannya yang hancur karena Alden.
"Ya sudah. Pikirkan saja."
Bram menutup teleponnya.
Valen memandang kembali foto pernikahannya dengan Alden. Dia memikirkan alasan kenapa mereka bisa kebablasan dan sampai menikah. Tentu saja jawabannya karena Valen mencintai Alden. Dia hanya tidak bisa menerima pekerjaan dan sifat Alden yang suka meledak-ledak. Selebihnya, Valen menyukai pria itu sebagai suaminya, juga Daddy dari anaknya kelak.
__ADS_1
"Sayang, kenapa berat sekali menjalani ini semua?" ucap Valen pada foto Alden.