
Steve menengok ke arah Alden yang sedang menyetir. Wajah Alden membuat Steve teringat akan seseorang. Tapi, Steve buru-buru mengenyahkan pikirannya.
"Apa anda sakit, Tuan?" tanya Alden yang sadar jika Steve melamun sambil melihatnya.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." ucap Steve sambil tersenyum kecut.
"Berpikir apa?"
"Apakah kamu tau di mana orang tua mu?" "Maksud saya, orang tua aslimu?"
"Ya.Ibu saya sudah meninggal. Dan saya tidak tau di mana pria yang sudah membuang kami berdua." jawab Alden dengan nada sinis.
"Jadi, ayah mu membuang mu?"
"Ya.Pria tidak bertanggung jawab itu mungkin malu karena ibu saya hanya seorang pembantu yang miskin."
"Pria macam apa yang tega seperti itu." Steve emo saya perluendengar cerita Alden.
Alden menanggapi dengan tersenyum. "Itu hanya masa lalu, Tuan. Aku yakin sekarang pria itu menyesal seumur hidup karena dia bersembunyi seperti pengecut." kata Alden dengan santai.
Steve tidak banyak bicara lagi karena takut Alden jadi teringat masa lalunya. Dia berfokus dengan berkas-berkas yang sejak tadi di buka tapi tidak di baca.
..."Alden, seandainya aku punya anak sepertimu, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu." ucap Steve lirih....
"Apa yang anda katakan, Tuan?" tanya Alden yang tidak mendengar perkataan Steve.
"Tidak..kamu nanti harus berkeliling di kampus milik saya."
"Baik."
Alden merasa ekspresi Steve berubah menjadi begitu sedih. Apa yang Steve pikirkan?
*
*
*
Semua membungkuk ketika Steve datang. Jelas sekali mereka sangat menghormati Steve sebagai atasan mereka. Steve berjalan dengan berwibawa tanpa menunjukan senyuman.
Alden mengikuti Steve dari belakang. Dia mendengarkan dengan baik bagaimana Steve menerangkan sejarah dari sekolah yang dia dirikan. Dia juga memberitahu Alden beberapa ruangan yang penting di kampus ini. Alden tidak mengerti, kenapa Steve memberitahukan itu semua.
__ADS_1
Perjalanan mereka berakhir pada ruangan pribadi Steve di lantai teratas. Steve memiliki ruangan yang rapi dan sangat bersih. Begitu masuk, Steve langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Duduk, Den." perintah Steve.
Alden duduk di depan Steve. Dia menatap pria tua itu yang kini sibuk menatap berkas.
"Apa anda tidak punya sekretaris, Tuan?" tanya Alden penasaran.
"Untuk apa? Mereka hanya membuat saya emosi saja." " Yang saya butuhkan adalah anak laki-laki, bukan sekretaris." jawab Steve tanpa memandang Alden.
"Anda tinggal menikahkan Zoe dan semua akan beres." saran Alden.
"Kamu tau kan, Zoe seperti apa?" Steve melirik ke arah Alden. Zoe sangat tidak bisa diharapkan. Dia sangat berjiwa bebas dan sering bergonta ganti pasangan.
"Anda tidak mencari anak dari pacar anda?" tanya Alden penasaran. "Siapa tau anak anda laki-laki."
"Sudah. Tapi, aku tidak menemukan jejaknya sama sekali." "Aku juga tidak tau apakah dia masih hidup atau tidak."
Steve memandang pigura yang terletak di mejanya. Dia lalu mengambil pigura itu dan mengusap layaknya foto di depannya itu adalah nyata.
"Apakah itu pacar anda?" Boleh aku melihatnya?" Alden yang makin penasaran mencoba meminta pigura itu pada Steve.
Tapi baru saja Steve menyodorkan piguranya, Ponsel Alden berdering.
"Ada apa, sayang? Apa ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya ingin tanya, apakah kerjaan mu lancar?"
"Ya.. bos ku sangat baik. Kamu sudah bersama Zoe?"
"Ya, kami sedang makan."
"Jadi, kenapa menelepon?"
"Aku hanya kangen padamu, sayang."
"Me too. Miss you more, baby."
"Ya sudah.. kerja yang rajin ya sayangku. Aku tunggu kamu di rumah." Valen mengakhiri teleponnya dengan memberi kecupan di telepon pada Alden.
Alden tersenyum kecil melihat kelakuan istrinya itu. Tidak biasanya Valen jadi begitu perhatian dan manja. Mungkin karena mereka memang baru saja baikan.
__ADS_1
"Den.. kita pergi sekarang saja." Steve tiba-tiba muncul di belakang Alden, membuat pria itu terkejut.
"Mau kemana Tuan?"
"Berkuda."
Alden buru-buru memasukkan ponselnya ke saku, lalu mengikuti langkah Steve yang sudah keluar lebih dulu.
*
*
*
Sementara itu di mall, Valen baru saja mematikan teleponnya dengan Alden.
"Kenapa dengan Alden, Val?" tanya Zoe sambil mengunyah kentang gorengnya.
"Entahlah. Perasaanku tidak enak." jawab Valen lirih.
"Tenang saja, dia mendapatkan bos yang baik."
"Bagaimana kamu tau?" tanya Valen curiga.
Zoe menyeruput es nya dengan ekspresi bingung. Dia lupa kalau Valen tidak tau Alden bekerja dengan ayahnya.
"Kan tadi aku dengar percakapan kalian." elak Zoe.
Valen mengangguk. Dia juga mulai makan hidangan yang ada di meja dengan kurang bersemangat.
"Bagaimana hubunganmu dengan Alden?"
"Baik. Dia begitu perhatian dan membuatkan ku makan pagi." "Malamnya dia selalu mengusap punggung dan perutku." cerita Valen dengan ekspresi datar.
"Alden masak? Orang kekar seperti itu?" tanya Zoe tidak percaya.
"Ya, dia biasa hidup sendiri setelah keluar dari rumah Keluarga Sebastian." "Aku sungguh beruntung punya suami seperti dia." Valen tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang telah Alden lakukan belakangan ini.
"Ya, Alden memang sekeren itu. Dia juga sangat manly." "Tapi, aku mendukungmu dengan Jason." ucap Zoe dengan semangat.
"Zo, kamu kenapa sih? Kok malah mendukung aku dengan Jason?" "Suamiku itu Alden." Valen menekankan kata Alden supaya Zoe sadar dan tidak lagi membawa nama Jason.
__ADS_1
Zoe mengerucutkan bibirnya. Dia memandang Valen yang terlihat sedikit kesal karena perkataannya tadi. "Maaf, Beb. Iya.. iya.. Suamimu Alden dan dia pria terkeren yang sangat cocok untukmu." rayu Zoe.
"Kamu aneh sekali, Zo.. Kamu seolah tidak terima kalau aku dengan Alden." ucap Valen tapi hanya dalam hati. Dia masih tidak enak karena Alden dan kini pikiran Valen bertambah karena sikap aneh Zoe.