Valen For You

Valen For You
Merindukan Alden


__ADS_3

"Sam tunggu."


Sam berhenti melangkah. Dia tidak menengok pada Alden, tapi dia sedikit paham dengan maksud Alden yang memanggilnya.


"Kita bicara di luar saja." Sam memberi kode pada Alden untuk mengikutinya keluar.


Mereka berdua memutuskan bicara di sebuah kamar VIP yang kosong. Sam melipat kedua tangannya sambil bersandar ke tembok.


"Ada apa, aku tidak punya banyak waktu."


"Aku mau minta tolong padamu untuk mencari Valen." Alden menatap Sam dalam. Dia sangat berharap Sam bisa menolongnya mencari Valen.


"Kenapa Valen?"


"Aku gak tau alasan dia pergi. Kami tidak ada masalah apapun."


"Kamu yakin? Lalu yang tadi itu apa?" Sam memicingkan matanya karena bingung dengan Alden. Baru saja dia melihat Alden dan Zoe berpelukan. Meskipun Sam tau jika Zoe itu adalah adik Alden, tapi sepertinya Zoe berharap lebih. Tatapan Zoe pada Alden jelas menggambarkan semuanya. Dan lagipula Valen tidak tau hubungan Alden dan Zoe sebenarnya. Wanita itu pasti mengira ada sesuatu antara Alden dengan Zoe.


"Sam, kalau aku harus berlutut padamu, aku akan lakukan, asal kamu bantu aku." mohon Alden dengan wajah memelas.


Sam baru pernah melihat Alden begitu sedih. "Akan aku usahakan." "Aku akan pergi sekarang." Sam berjalan menuju pintu. Tapi dia berbalik lagi sebelum keluar dari ruangan. "Jaga majikanmu dengan baik. Jangan sampai dia jadi seperti Dad." pesan Sam sebelum pergi.


Sam langsung pergi ke ruangannya. Dia membuka laptop dan segera melacak ponsel orang tua Valen. Menemukan Valen itu bukan soal yang sulit. Dia bisa melakukan itu hanya dalam hitungan menit saja.

__ADS_1


Sam mendapatkan alamat Valen di sebuah apartemen di pinggir Jakarta. Tapi, Sam punya firasat buruk ketika membaca pesan antara Valen dan Mom nya. Ada banyak istilah kedokteran yang mereka pakai.


Siapa yang sakit? batin Sam.


Sam menyalin nomer ponsel Valen dengan cepat. Dia lalu menelepon istri Alden untuk bertanya tentang keadaannya.


"Halo, ini siapa?" suara di ujung sana terdengar serak.


"Ini Samuel Sebastian."


"Sam? Gimana kamu tau kalau aku ganti nomer?" ucap Valen terbata.


"Itu tidak penting." "Kenapa kamu kabur dari Alden?"


"Sam, aku sibuk." Valen akhirnya bersuara.


"Sibuk menangis?" sindir Sam. "Kamu sakit apa?"


"Memang aku gak bisa membohongi seorang Samuel." terdengar suara pilu dari Valen. "Intinya aku belum siap untuk memberitahu Alden soal ini, karena aku gak tau apakah aku bisa selamat atau.." Valen tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kamu sudah kritis seperti ini, apa kamu gak berniat kasih tau Alden??" Sam sebenarnya ikut merasakan sedih, karena nasib percintaan Alden begitu sulit.


"Aku sudah bilang ingin berpisah dengannya untuk sementara. Setidaknya sampai anak ini dan aku bisa selamat." aku Valen yang sudah menangis.

__ADS_1


Sam menghela nafas panjang. Dia bersandar pada kursi kerjanya. Situasi ini sungguh rumit. "Val, aku bukan ingin menakut-nakutimu. Tapi, jika kamu gak selamat, Alden bisa frustasi." "Pikirkan Alden, Val. Jangan pikirkan dirimu sendiri." "Mom Alden meninggalkan dia juga tanpa penjelasan. Jadi, sebaiknya kamu jangan bikin Alden untuk menyesal seumur hidupnya karena tidak bisa merawat kamu." pesan Sam.


Di detik berikutnya, Sam hanya mendengar suara tangisan Valen, lalu telepon terputus.


*


*


*


Valen menangis lagi. Setiap mengingat Alden, dia langsung ingin menangis. Tidak dapat dipungkiri, Valen merindukan Alden. Tapi, pikiran Valen berbeda dengan Sam. Justru kalau Alden mengetahui penyakitnya ini, Valen takut jika nanti Alden akan sedih, marah atau bahkan kecewa padanya.


Valen juga tidak ingin Alden terlalu sedih kehilangan dirinya jika nanti dia meninggal.


"Val, kamu kenapa?" Ester yang baru saja sampai ke apartemen langsung berlari ke kamar ketika mendengar suara tangisan Valen. Dia duduk di ranjang, lalu memeluk putrinya dengan erat.


"Mom, Valen harus gimana?" tanya Valen sambil terisak.


"Kenapa sayang?"


"Mom, Valen sayang Alden. Tapi Valen gak mau Alden sedih karena penyakit ini."


"Sayang, keputusan kamu sudah tepat. Pria itu juga gak mencarimu. Jadi biarkan saja. Yang penting kamu dan bayi ini sehat." Ester mengelus perut Valen dengan penuh kasih sayang. Semarah-marahnya Ester dan Bram pada Alden, tapi mereka sangat menyayangi anak Valen alias calon cucunya kelak.

__ADS_1


Ester hanya perlu meyakinkan Valen supaya Valen tidak sedih lagi karena memikirkan Alden. Sepertinya Bram masih tidak setuju jika Valen melanjutkan hubungan mereka setelah masalah ini selesai.


__ADS_2