Valen For You

Valen For You
Terlihat sangat tampan


__ADS_3

Alden hampir saja jantungan saat Steve alias majikan barunya tiba-tiba menelepon dan meminta Alden datang ke club. Dia bilang jika Alden harus menjemput anaknya yang sedang berada di sana. Tidak sampai di situ, ketika Steve mengirimkan foto dan nama putrinya, Alden merasa tidak percaya. Zoe Stevenson. Anak Steve adalah Zoe! Alden sampai harus menelepon Steve kembali untuk memastikan dia tidak salah membaca.


Karena itulah Alden berada di club. Dia juga sudah memberikan pelajaran untuk orang-orang yang kurang ajar pada majikannya itu. Ya, jika Zoe adalah anak Steve, berarti Zoe juga adalah majikannya. Alden berasa terjebak pada situasi yang sulit dan tidak menyenangkan. Dia sudah bertekad untuk jauh dari Milka, tapi malah sekarang dia harus dekat dengan Zoe.


Untung saja Valen sudah tertidur pulas karena kelelahan. Alden jadi tidak perlu mencari alasan untuk pergi ke club.


"Den, apa ini karena tadi Valen liat kita makan malam?" tanya Milka sedih.


"No, Mil. Gue udah dapat pekerjaan baru." ucap Alden sambil menatap Milka dalam. Sebenarnya dia kasihan karena Milka akan berjuang sediri di club ini.


"Jadi bodyguard dia?" Milka memandang ke arah mobil di mana Zoe sudah tertidur di dalam.


"Gue ketemu bokap nya. Dan gue ga tau kalau Zoe ini anak majikan gue yang baru." jelas Alden jujur. "Lo keluar aja kalo memang ga betah di sini." saran Alden.


"Yah, kita lihat nanti. Tenang aja, gue juga gak akan lama di sini." Milka tersenyum pada Alden. Dia senang karena Alden sudah mendapatkan pekerjaan selain di club. Dan dia senang juga Alden tidak marahan dengan Valen lagi.


"Gue anter balik dia dulu. Lo jaga diri ya.." Alden menepuk pundak Milka.


"Ya.Lo juga harus lebih sayang ke Valen. Jangan kecewain dia." pesan Milka sebelum Alden pergi.


Milka agak khawatir dengan Zoe. Ayahnya ingin Zoe menikah dan Alden bukan pria yang jelek. Milka takut jika justru Alden terjebak dengan Zoe.

__ADS_1


*


*


*


Zoe merasakan tubuhnya melayang. Dia membuka mata perlahan. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah dada milik seorang pria. Zoe lalu menengok ke atas. Dia melihat seorang pria tampan dengan mata tegas dan hidung mancung yang sedang membawanya. Zoe menutup mata sesaat, lalu kembali membukanya. Tetap dia melihat pria yang sama.


"Alden.." panggil Zoe.


Alden tidak bergeming. Dia membuka pintu kamar Zoe, lalu cepat-cepat menidurkan Zoe di ranjangnya.


"Alden, kenapa kamu di sini?" tanya Zoe lagi.


Zoe bangun dibantu oleh Steve. Dia lalu meminum sampai habis air yang diberikan Steve tanpa melepaskan pandangan dari Alden.


"Dad, kenapa Alden di sini?"


"Kamu sudah mengenal Alden?" tanya Steve bingung.


Zoe mengangguk. "Dia suami teman Zoe." jawab Zoe sambil bersandar pada head board.

__ADS_1


"Dia sopir yang Dad bilang tadi."


"Sopir?"


"Istirahat dulu, Zo. Besok kita bicara lagi." Steve berdiri. Dia tidak ingin bicara pada Zoe lebih banyak lagi karena ini bukan saat yang tepat untuk bicara soal Alden.


Steve juga harus segera pergi sebelum emosinya meledak pada anak semata wayangnya itu. Dia tentu ingat pesan istrinya sebelum meninggal yang mengatakan jika Steve tidak boleh bicara pada Zoe dalam keadaan emosi.


"Tunggu. Aku ingin bicara dulu pada Alden." teriak Zoe.


Alden menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk menatap Zoe.


"Sebaiknya anda istirahat dulu. Kumpulkan semua pertanyaan dan saya akan jawab semuanya besok." Alden tentu juga menyetujui ide Steve.


Dari sorot mata Zoe, Alden tau pasti gadis itu akan bertanya macam-macam padanya.


"Kalau begitu tidak usah bercerita. Temani saja aku di sini." pinta Zoe. Entah kenapa Alden terlihat sangat tampan malam ini. Mungkin ini karena masih ada pengaruh Alkohol dalam diri Zoe.


"Maaf, nona Zoe. Tapi istri saya sendirian di rumah. Saya harus menemani istri saya." jawab Alden dengan tegas dan jelas.


Dia berjalan keluar dari kamar Zoe mengikuti Steve yang sudah keluar lebih dulu.

__ADS_1


Zoe menarik selimutnya sambil memandangi kepergian Alden. Kenapa ayahnya itu bisa bertemu dengan Alden? Seulas senyum tipis muncul pada sudut bibirnya.


__ADS_2