Valen For You

Valen For You
Lebih nyaman seperti ini


__ADS_3

Seminggu sudah Steve berpikir dan berada dalam dilema. Dia belum memutuskan untuk memberitahu Alden, atau tetap menyimpan rahasia ini. Steve keluar ke teras untuk memandang anaknya dari kejauhan.


Ya, Alden sudah pulih dan kembali bekerja. Dan saat ini Alden terlihat sedang mencuci mobil Steve.


"Pagi Tuan. Apakah anda mau pergi sekarang?" sapa Alden dengan ramah begitu melihat Steve berdiri di teras.


Suasana hati Alden tampaknya sedang happy hari ini.


Steve membalas senyuman Alden. Dia tidak pernah bosan memandang wajah anaknya yang sangat mirip dengan Mira.


"Nanti saja." "Apakah kamu sudah sarapan?" Steve duduk di teras.


"Sudah Tuan. Hari ini istri saya belajar memasak." ucap Alden senang.


Steve mengangguk.


Pantas saja hari ini Alden tampak bahagia. Sepertinya hubungan Valen dengan Alden semakin baik. Steve jadi ikut senang.

__ADS_1


"Den, bagaimana dengan Ben dan Sam Sebastian? Apakah kamu sudah berbaikan dengannya?"


"Saya belum menemui mereka, Tuan." "Mereka pasti masih marah dengan kelakuan saya." "Saya juga tidak ingin menambah pikiran Daddy." Alden sudah menyelesaikan satu mobilnya. Kini tinggal mobil Zoe yang perlu dia bersihkan.


"Sepertinya mereka sangat sayang padamu, terutama Sam." ucap Steve dengan penuh penekanan. Sam tidak hentinya meracuni pikiran Steve supaya Steve jangan bicara pada Alden.


Alden berhenti dan memandang Steve dengan heran. Sampai detik ini, Sam bahkan tidak pernah menghubunginya.


"Kemarin, Sam yang menolong kamu. Dia meninggalkan pekerjaannya untuk menyelamatkan adiknya." jelas Steve yang juga mendapat informasi dari salah seorang perawat.


Alden tidak terlalu menggubris Steve. Dia sudah kehilangan rasa percaya pada sebuah keluarga. Saat ini dia hanya ingin berdua saja dengan Valen tanpa ada gangguan dari siapapun. Bagi Alden, itu sudah cukup.


"Maksudnya, kamu tidak ingin keluarga Sebastian jadi keluargamu?" Steve kembali bersemangat karena ada celah dirinya bisa menjadikan Alden sebagai penerusnya suatu saat nanti.


"Ya,, jika mereka tidak menganggap saya lagi, saya tidak masalah."


"Daaad.. kenapa harus bicara seperti ini pagi-pagi?" protes Zoe. Dia sangat tidak nyaman jika Steve terlalu kepo pada orang lain.

__ADS_1


"Dad tidak kepo. Ini supaya Dad bisa akrab dengan Alden." Steve mencubit pipi Zoe dengan gemas.


"Oh iya, Dad." "Boleh Zoe pinjam Alden untuk temani Zoe ke mall sebentar?" Zoe melingkarkan tangannya pada Steve dengan manja.


"Kemana teman-temanmu?"


"Mereka tidak bisa, Dad. Mereka sedang sibuk."


"Ya sudah. Tolong belikan juga Alden kemeja dan jas. Besok malam ada acara penting." "Dad mau bawa Alden." pesan Steve pada Zoe.


"Okay Dad, siap." Zoe mencium pipi Steve sambil memeluknya sekali lagi. Setelah itu, Zoe segera menghampiri Alden yang tengah mencuci mobil Zoe.


"Den, temani aku ke mall ya?"


"Tapi ini belum selesai, Nona."


"Sudah, kita pakai mobil yang lain saja." Zoe menarik tangan Alden ke arah sebuah mobil Tesla yang terparkir manis di bagian dalam garasi.

__ADS_1


Steve memandang kembali dari bangkunya, interaksi antara Zoe dan Alden. Mereka begitu terlihat akrab. Sebenarnya mereka bisa menjadi keluarga yang cukup kompak. Tapi, setiap pilihan Steve akan punya 2 sisi. Sisi positif atau negatif. Steve tidak boleh salah langkah lagi kali ini. Kesalahan yang lalu itu sudah cukup. Jika Steve dapat mengulang waktu, dia tidak akan meninggalkan Mira dan menikah dengan Mommy Zoe. Dan memang betul, setiap tindakan buruk pasti ada akibat buruk juga. Steve sedang mengalami hasil dari apa yang telah dia lakukan terhadap Mira.


__ADS_2