Valen For You

Valen For You
Alana Sebastian


__ADS_3

1 tahun kemudian


"Sayaaang, cepaaaat.." Valen berteriak dari dalam mobil. Alden buru-buru keluar dari rumah sembari mengancingkan kemejanya sambil jalan.


"Apa sudah lahir anaknya?" Alden masuk ke dalam, lalu dia mengecup bibir Valen, kemudian setelah itu mengecup bibir Alana.


"Ya,, sepertinya sudah..kamu lama sekali." omel Valen. Dia memasangkan seat belt untuk Alden karena suaminya itu sedang menyisir rambut dengan tangan.


"Let's goo.." Alden menyalakan mobil dan mulai meluncur ke rumah sakit. Mereka pagi ini akan menengok anak dari Sam dan Rea. Ya, ketika Valen melahirkan Alana, ternyata Sam dan Rea sudah menikah. Mereka menikah secara sederhana mengingat kondisi Ben yang masih sakit.


"Sayang, bagaimana kalau kamu ketemu Daddy juga?" "Kita sama sekali belum berkunjung ke sana." suara Valen memecah keheningan.


"Aku belum siap, Val."


"Tapi, Daddy Ben belum lihat Alana." ucapnya sedih. Alden sudah mengantongi restu dari Bram, tapi sampai saat ini Orang tua Alden belum juga menghubungi mereka. Valen tidak tau kenapa Ben begitu lama untuk memaafkan Alden.


"Mom.. mom.." Alana berceloteh memanggil Valen yang tampak sedih.


"Iya sayang.. kita mau ketemu sepupu dan Opa kamu." Daripada mengurusi Alden yang keras kepala, Valen lebih baik main dengan Alana.


"Val..please.."


"No. Aku sudah sering mengalah, dan sekarang giliran kamu menuruti aku. Aku ingin ketemu dengan Daddy Ben."

__ADS_1


Alden menelan ludahnya. Sebenarnya bertemu dengan Ben bukan masalah, tapi yang jadi masalah adalah reaksi Ben pada Valen. Alden takut jika Ben atau Lidia bicara sesuatu yang menyakiti hati Valen. Tapi kenapa Valen tidak mengerti juga?


Sepanjang jalan itu, Alden terus diam, sedangkan Valen dan Alana sibuk main sendiri. Alden memarkirkan mobilnya khusus di ruang VIP untuk para dokter. Dia sudah bilang Sam akan pergi ke sini dan menemui anaknya. Sam mengijinkan Alden menengok karena ini adalah pertemuan pertama mereka setelah 1 tahun berpisah.


Alden menggantikan Valen untuk menggendong Alana. Sejak masuk rumah sakit Alana tidak berhenti menangis dan menjerit, sehingga Alden harus turun tangan. Anaknya itu akan diam begitu berada dalam gendongan Alden. Valen sampai heran kenapa anaknya begitu tenang jika bersama Alden.


Valen menarik nafas sebelum masuk ke ruangan Rea. Di dalam, Rea tampak sedang menyusui baby nya. Anak Leana ternyata laki-laki. Tapi, Valen dan Alden tidak menemukan Sam di sana. Rea hanya bersama dengan seorang perawat.


"Alden.. Valen.. kalian ke mana saja?" sapa Rea yang terkejut melihat kedatangan Alden dan Valen.


"Ceritanya panjang, Re." "Selamat ya Re atas kelahiran anak mu." Valen tersenyum ke arah Rea dengan tulus.


"Siapa nama anak kamu?" tanya Alden penasaran.


"Namanya Alana." kata Alden sambil menatap anaknya dengan penuh kasih sayang. Alden memilih nama Alana yang berarti perempuan cantik yang berani. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa menjadi perempuan yang kuat seperti halnya Valen dan juga berani seperti Alden. Ya, Alana tumbuh dengan sangat sehat dan dia juga sangat kuat menyusu. Itu sebabnya badan Alana sangat gemoy, membuat orang-orang gemas padanya.


"Hay, Renzo.. ini uncle dan auntie." Valen mendekat pada Renzo, anak dari kakak iparnya.


"Kalian datang?" Sam tiba-tiba menyeruak masuk, masih dengan pakaian operasi.


"Wah, anda sibuk sekali Dokter." sindir Alden. Rea baru melahirkan dan Sam sudah bekerja lagi. Di situ Alden sangat bersyukur. Meskipun dia masih jadi bawahan Bram, tapi dia bisa selalu ada untuk Valen.


"Ini anak kalian? Siapa namanya?" Sam tidak menanggapi Alden dan beralih pada Alana yang masih ada dalam gendongan Alden.

__ADS_1


"Alana Sebastian, Sam." jawab Valen.


"Sebastian?" tanya Sam bingung. Apakah Billy Stevenson belum memberitahu Alden dan dia tidak protes cucu pertamanya diberi nama belakang keluarga angkatnya?


"Sam, apa aku boleh ketemu dengan Daddy Ben?" tanya Valen to the point. "Aku ingin mengenalkan Alana dan juga ingin minta maaf."


"Tidak." jawab Sam cepat.


"Sayang,, jangan begitu. Dad juga kangen pada Alden, kan?" Rea menginterupsi mereka. "Biarkan mereka selesaikan masalah mereka. Supaya kita semua bisa berkumpul lagi, Sam."


Sam diam sebentar. Sebenarnya dia sudah tidak mempermasalahkan kesalahan Alden yang lalu. Dia sudah memaafkan Alden. Dan benar kata Rea. Ben akhir-akhir ini sering menanyakan Alden.


"Dad ada di rumah. Kalian ke sana saja."


"Thanks, kakak ipar. Aku tau kamu memang baik." Valen memegang pergelangan tangan Sam dengan wajah nanar.


"Ehem." Alden berdehem keras melihat tangan Valen yang memegang Sam.


Bersamaan dengan itu, Baby Renzo menangis juga.


"Sudahlah.. sana pergi ke rumah." usir Sam. Gara-gara suara Alden, Renzo jadi menangis.


Alden dan Valen segera keluar untuk menuju kediaman Sebastian. Mereka tidak sabar bertemu dengan Ben dan Lidia untuk menyelesaikan masalah mereka. Ya, mendengar Rea yang mengatakan Ben kangen padanya, Alden merasa ada secercah harapan untuk memperbaiki hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2