Valen For You

Valen For You
Bucin bukan suatu kejahatan


__ADS_3

Susana di mobil begitu canggung. Jason akhirnya tau jika Valen akan naik taksi online. Dia memaksa untuk mengantarkan Valen pulang.


Valen enggan untuk menunjukkan di mana rumahnya. Jason pasti kaget ketika tau bahwa Valen sekarang tinggal di rumah yang begitu kecil.


"Jason.. seharusnya kamu tidak mengantarkan aku pulang." ucap Valen di tengah keheningan yang melanda.


" Val, aku mana tega membiarkan kamu pulang sendiri. Nanti kalau kamu diculik gimana?"


"Aku tidak mau merepotkan, Jas."


"Sudah.. sudah.. tidak ada kata repot." "Ini kita belok mana?" tanya Jason sembari kembali melihat ke arah depan.


"Belok kanan saja."


'Krrukk.. kruuk'


'Aduh, tidak sekarang Baby.' Valen memegangi perutnya untuk meredam suara keroncongan yang tiba-tiba berbunyi. Memang sejak tadi siang Valen tidak makan. Sekarang sudah jam 7 malam. Sudah pasti anaknya protes.


Jason yang mendengar itu hanya tersenyum. Tanpa banyak bicara lagi, dia melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Dan dia bukan belok ke kanan, tapi justru belok ke kiri. Tak lama, dia menghentikan mobil di sebuah restoran Jepang.


"Aku lapar. Temani aku makan dulu, ya?" ucap Jason yang sudah membuka pintu mobil.


Dia bergerak cepat untuk membantu Valen membuka pintu mobil wanita itu.


"Astaga Jas, aku bisa sendiri." protes Valen yang tidak suka dengan perlakuan Jason.


Jason tidak menggubris omelan Valen. Dia juga tetap memperlakukan Valen bak orang yang spesial. Jason juga membukakan pintu restoran untuknya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam dan duduk saling berhadapan.


Valen yang tadinya ragu-ragu untuk makan dengan Jason, kini malah begitu semangat memilih menu. Dia bahkan memesan beberapa porsi tanpa malu-malu.


"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Jason sambil menyerahkan buku menu pada pelayan.


"Ya.. maunya jangan pakai lama." perintah Valen.

__ADS_1


"Kamu tidak berubah, Val." Jason menopang dagu sambil memandangi Valen yang sudah melepas maskernya. "Tetap cantik."


"Dan kamu tidak berubah juga, Jas. Tetap bucin." sindir Valen.


"Bucin itu bukan suatu kejahatan, kan? Jadi itu tidak masalah." jawab Jason tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kamu bisa aja."


Percakapan mereka berlanjut sampai makanan datang. Jason tau jika Valen menyukai makanan Jepang, tapi dia tidak menyangka jika Valen ternyata memesan cukup banyak.


"Kamu akan habiskan semua ini?" tanya Jason bingung. Valen memesan chicken katsu, udon, tempura dan beef yakiniku.


Valen mengangguk. Dia sangat lapar dan nafsu makannya bertambah 2x lipat dari biasanya.


"Ya, kamu justru makin cantik kalau chubby seperti ini." puji Jason. Perasaan bertahun-tahun yang lalu pada Valen tidak berubah. Meskipun Jason masih kecil, sosok Valen memang menjadi wanita impiannya. Bagi Jason, Valen adalah definisi wanita yang sempurna. Cantik, pintar, juga mandiri.


"Jason, jangan melihatku seperti itu. Makan saja." kata Valen dengan mulut penuh makanan.


"Val, apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Jason to the point.


Jason langsung menyodorkan air. Dia juga pindah tempat duduk untuk mengusap punggung Valen.


Valen menyingkirkan tangan Jason. Dia sungguh berani sejak tadi melakukan skinship dengan Valen.


"Sorry, Jas." ucap Valen ketika sudah berhenti tersedak.


"Kenapa kamu terkejut ketika aku tanya soal kekasih?"


"Jas,, kalau sudah punya kekasih, apa kamu akan berhenti mengejar ku?" kali ini Valen melontarkan pertanyaan balik pada Jason.


"Tidak. Sebelum janur kuning belum melengkung, aku akan tetap mengejar mu." ucap Jason yakin.


'Aku bahkan sudah punya suami dan akan punya anak.' batin Valen.


Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jason. Dan Jason pun mengganti topik pembicaraan menjadi soal kuliah dan pekerjaan. Dia juga bertanya kenapa Valen menjadi stylish padahal setahu Jason, Valen bergelar dokter kulit sekaligus dokter kecantikan.

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin mencoba hal baru?" "Kamu benar-benar luar biasa, Valen." "Aku jadi semakin menyukaimu." Jason mengambil kesimpulan setelah Valen bercerita jika dia ingin mencoba keterampilan baru dan keluar dari zona nyaman.


"Jas, sorry soal tadi. Aku baru saja bekerja, jadi belum tau apa yang harus kulakukan."


"No problem, Val. Aku justru senang bisa bertemu denganmu di sana." Jason hendak mengambil tangan Valen, tapi Valen lebih dulu menarik tangannya karena ponselnya berdering.


Alden calling...


"Sebentar.." ucap Valen pada Jason.


"Ya, ada apa Den?"


"Di mana kamu sekarang? Zoe ada di club. Apa kamu sudah di rumah?"


"Belum. Aku masih di luar. Tadi Zoe pulang lebih dulu karena ingin menemui Jasper. Sebentar lagi aku pulang."


"Kamu dengan siapa?" tanya Alden curiga. Dia mendengar suara music yang cukup keras di tempat Valen.


"Aku sedang makan dengan teman SD ku. Ini sudah selesai dan aku mau pulang."


"Perempuan atau laki-laki??" seperti biasa, Alden menaikan nadanya sehingga suaranya pasti terdengar oleh Jason.


"Laki-laki." jawab Valen jujur.


"Cepat pulang sekarang!" bentak Alden.


Valen membereskan barang-barangnya dengan panik.


"Aku harus pergi, Jas. Thanks ya.."


"Val, aku antar kamu."


"Tidak usah. Lain kali saja." tolak Valen.


Jason membiarkan Valen pergi. Kenapa Valen begitu ketakutan setelah menerima telepon? Apakah dia baru saja menelepon pacarnya?

__ADS_1


'Valencia, aku tidak akan menyerah." Jason tersenyum penuh arti.


__ADS_2