Valen For You

Valen For You
Kehidupan baru Valencia


__ADS_3

Rumah baru


Valen menatap bangunan di depannya cukup lama. Kepalanya pusing karena matahari yang menyengat sekaligus shock dengan kondisi rumah baru yang telah Alden sewa.


Rumah itu jauh dari kata mewah. Ini bahkan terlihat memprihatinkan. Cat depan sudah mengelupas dan pudar, sedangkan halamannya sempit dan tidak bisa untuk memarkirkan mobil. Valen sudah pernah ke sini sebelumnya beberapa waktu lalu, karena ini adalah kontrakan lama Alden.


Alden membuka pintu dan menarik Valen untuk masuk ke dalam. Valen segera merasakan hawa yang lembab dan bau yang kurang enak. Rumah ini pasti sudah lama kosong dan tidak di pakai.


"Den, apa kamu yakin kita akan tinggal di sini?" Valen coba menyadarkan Alden. Masalahnya, dia tidak bisa tinggal di tempat sempit dan kumuh seperti ini. Tempat ini bisa mengganggu kesehatannya dan juga bayi mereka.


"Bersabarlah, Val. Aku sedang berusaha mengumpulkan uang dulu." Alden merangkul pundak Valen yang tampak sedih dan kecewa.


"Den, apa di sini juga aman?" Valen memandang Alden dengan tatapan bingung.


Ya, Alden akan bekerja pada malam sampai dini hari. Jadi, Valen akan sendirian di rumah. Valen harus memastikan keamanan dirinya juga.


"Aman sayang... Asal pintu nya di kunci."


"Kamu janji kan, ini hanya sebentar saja? Aku tidak mau jika terlalu lama di sini." Valen tetap meng komplain pilihan Alden.


Alden dengan santai menarik koper mereka ke kamar tanpa mempedulikan ucapan Valen lagi. Jika terus di tanggapi, Valen akan terus mengomel.


Valen menghempaskan badannya di ranjang yang cukup sempit. Dia memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Sayang, ini sangat panas.. apa tidak ada ac?" tanya Valen tanpa menengok ke arah Alden.


Atap yang rendah plus kehamilannya membuat Valen cepat berkeringat. Alden mengambil kipas angin dari kardus. Dia segera menancapkan itu ke dan mengarahkan pada Valen supaya istrinya tidak kepanasan.


"Cuma kipas angin?" tanya Valen lagi.

__ADS_1


"Aku sudah bilang kan, untuk bersabar. Kita perlu adaptasi, Val."


"Kita?" "Seperti nya aku yang perlu adaptasi. Kamu kan sudah pernah tinggal di sini." Valen bangun dan kembali mengomel pada Alden. Jika saja Alden menerima uang dari Aeris, Valen mungkin akan dapat tempat tinggal yang lebih layak daripada ini. Lagi- lagi nasi sudah menjadi bubur. Valen tidak dapat memutar waktu.


"Oke, belajar lah adaptasi, Valencia." Alden memperhalus ucapannya karena tampak wajah Valen yang begitu stress.


"Aku tidak ingin rumah super mewah, Den. Aku hanya ingin tempat yang layak." "Dan menurutku, tempat ini tidak layak." Valen mendekati Alden yang sudah berkeringat sejak tadi.


Sebelum membawa Valen, Alden sudah pergi ke rumah ini untuk membongkar barang-barangnya yang sudah berdebu. Ini dia lakukan supaya Valen tidak perlu lagi merapikan barang-barang nya.


"Nanti tembok depan akan aku cat ulang. Lampu depan juga akan aku tambah supaya lebih terang." "Soal AC, nanti saja menunggu aku gajian." Alden sudah merancang beberapa hal dalam otaknya yang harus dia realisasikan.


"Kamu yakin bisa lakukan, semua?" tanya Valen sedikit ragu.


"Hey, kamu tidak tau siapa suami mu?" Alden menyipitkan matanya yang sudah sipit.


"Ya, kamu adalah Alden si bad boy." jawab Valen asal.


"Tapi, kamu suka kan?" goda Alden.


"Tergantung."


Alden memegang pipi Valen dengan kedua tangannya, lalu mengecup lembut bibir wanita itu.


"Masih belum menyukaiku?" tanya Alden lagi.


"Ya, aku menyukaimu, Alden." Valen lebih dulu mencium Alden. Jika Valen tidak menyukai Alden, dia tidak mungkin sampai hamil anaknya. Valen memang tergila-gila pada Alden sejak first kiss mereka. Hanya Alden yang dapat membuat jantung Valen berdetak dengan cepat dan melupakan semua masalah yang ada.


"Sayang, ingat kamu sedang hamil." Alden menghentikan Valen yang tampak bersemangat siang ini.

__ADS_1


Valen melepaskan Alden. Dia memperbaiki kaos dan rambutnya yang sudah berantakan.


"Kamu lapar, kan? Aku akan masak sesuatu untukmu. Kamu tunggu di sini." Alden membawa Valen untuk duduk di meja rias, sementara dia pergi ke dapur karena ini sudah jam 12 siang.


Alden dengan cekatan memotong bahan-bahan yang tadi dia sempat beli di supermarket. Hari ini dia akan masak sayur kangkung dan juga ikan goreng.


Valen yang memang sudah lapar, berjalan ke dapur karena penasaran dengan apa yang Alden lakukan. Apakah pria itu bisa masak?


"Den...kamu bisa masak?" tanya Valen seraya mendekati suaminya yang sedang menggoreng ikan.


"Aku selalu masak sendiri, Val." ucap Alden tanpa menengok ke arah Valen. Dia sedang berfokus pada 2 wajan sekaligus, supaya semua cepat selesai.


Valen cukup bersyukur karena itu artinya dia tidak perlu ke dapur untuk masak.


Tak lama, Alden sudah menyelesaikan 2 menu makan siang mereka.


Valen sebenarnya tidak cocok dengan menu yang disajikan, tapi perutnya sudah terlalu lapar untuk mencari makanan lain.


"Pelan-pelan, sayang.." Alden yang belum mulai makan, memperhatikan istrinya yang makan begitu lahap.


"Anakmu sepertinya suka sekali makan." jawab Valen dengan mulut penuh makanan.


Alden tertawa. Dia tidak menyangka seorang Valencia bisa juga makan sederhana seperti ini.


"Sehat-sehat ya.. anak Daddy.." Alden mengelus perut Valen yang masih datar.


"Sayang, sore ini aku akan langsung bekerja." Alden beralih pada Valen lagi.


"Ya, bekerjalah dengan rajin Daddy." Valen menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Kamu jangan ke mana-mana ya sayang... Kamu harus banyak istirahat." pesan Alden sambil memberikan segelas air untuk Valen.


Valen mengangguk. Kehidupan barunya dengan Alden pasti tidak akan mudah, tapi ini adalah pilihan Valen.


__ADS_2