
Rumah Ben Sebastian tidak berubah setelah sekian lama Alden tidak menginjakkan kaki ke sini.
Valen merangkul lengan Alden, sedangkan Alana digendong oleh Alden. Pelayan mengantar mereka masuk setelah meminta ijin dari Ben. Mereka masuk dengan hati-hati. Rasanya cukup berat mengingat terakhir ke sini, Valen dan Alden malah membuat Ben sakit.
Ben masih duduk di kursi roda, sedangkan Lidia duduk di sofa sebelah Ben. Mereka memandang 2 orang yang baru saja datang membawa bayi perempuan yang lucu dan gemuk.
"Dad, Alden dan Valen datang untuk mengenalkan Alana." Alden membuka suara di tengah keheningan yang terjadi.
Diam. Tidak ada satupun yang bicara. Ben terus memandang bayi di tangan Alden yang sedang tertawa sambil bermain ring donat.
"Dad, Valen minta maaf karena sudah membuat semua kekacauan ini. Valen gak masalah kalau Dad dan Mom gak mau terima Valen, tapi tolong terima cucu Dad.." "Ini Alana." Valen langsung saja bicara to the point. Dia mengambil Alana dari Alden, lalu membawa dia ke hadapan Lidia.
Lidia tidak dapat menahan perasaannya lagi. Dia menerima Alana, lalu menggendongnya dan bermain dengannya.
"Alana sayang,, ini oma.. kamu cantik dan gemuk sekali.." Lidia menciumi pipi Alana dengan perasaan bahagia.
"Opa juga mau gendong." ucap Ben dengan nada iri.
Lidia segera mendudukkan Alana di pangkuan Ben.
Kedua orang tua Alden sibuk sendiri bermain dengan Alana hingga melupakan keberadaan Valen dan Alden.
Mereka baru sadar setelah Alana menangis. Alden mengambil Alana lagi dari Ben untuk menenangkannya.
"Valen, duduk sini." panggil Lidia.
Valen mendekat dan duduk tepat di samping Lidia.
Lidia mengambil tangan Valen, lalu dia menggenggamnya erat.
"Mom minta maaf juga. Mom sudah dengar dari Sam tentang perjuanganmu melahirkan Alana." ucap Lidia penuh penyesalan.
__ADS_1
"Mom..." Valen tidak kuasa menahan air matanya. Dia terharu bercampur senang karena itu artinya Lidia sudah memaafkan Valen.
"Mom dan Dad sudah memaafkan kalian." "Alden, Mom rindu padamu."
Lidia berdiri untuk memeluk Alden. Alden sudah dapat pelajaran dari kesalahannya yang menghamili Valen di luar nikah. Kehidupan mereka selama ini juga tidak mudah.
"Maafkan Alden Mom, Dad. Alden menyesal." Dengan rendah hati Alden mengakui kesalahannya yang lalu.
"Menginap dulu di sini, Den. Dad ingin bicara banyak padamu." Ben memegang pergelangan tangan Alden. "Dad juga masih ingin main dengan cucu Dad."
Alden menengok ke arah Valen, dan istrinya mengangguk setuju.
"Bi, cepat siapkan makan malam spesial. Pastikan juga masak makanan kesukaan Alden." perintah Lidia pada pelayan mereka.
"Kalian istirahat dulu saja. Sam mungkin tidak akan pulang, jadi kita makan malam sendiri saja." ucap Ben pada Alden dan Valen.
"Oke Dad,, Alana sepertinya sudah mengantuk." Valen berdiri untuk menggantikan Alden menggendong Alana.
"Dad dan Mom mau ke rumah sakit untuk menengok anak Sam.. siapa namanya sayang?" tanya Ben yang lupa dengan cucu lelaki mereka.
Mereka tertawa mendengar omelan Lidia. Sejak pensiun, Ben sudah tidak seperti dulu. Dia jadi lupa beberapa hal yang penting.
"Ayo, kita ke sana saja. Aku sudah gak sabar liat Renzo." Lidia mendorong kursi roda Ben di bantu oleh suster, meninggalkan Alden, Valen dan Alana.
*
*
*
"Sayang, kamu kenapa?" Valen menghampiri Alden yang berdiri di balkon sambil melihat ponselnya. Alden berbalik, lalu dia menatap Valen dengan pandangan sedih.
__ADS_1
"Apa kamu bisa menghubungi Zoe?" tanya Alden pada Valen yang baru selesai mandi.
"Kenapa jadi tiba-tiba mencari Zoe?" "Aku sudah lama gak dengar kabar dia." Valen juga baru sadar jika Zoe tiba-tiba menghilang bak di telan bumi. Selama satu taun ini, Valen terlalu fokus pada Alana sehingga melupakan sohibnya itu.
"Ya, aku mencari Tuan Steve. Dia tiba-tiba gak bisa dihubungi, sama seperti Zoe. Apa mereka ada masalah?"
Deg. Valen teringat percakapan dia dengan Zoe terakhir kali sebelum pingsan dan melahirkan Alana. Billy Stevenson. Ayah Alden. Kenapa Valen bisa lupa?
"Val.." panggil Alden.
"Eh, gimana Den?" jawab Valen gugup.
"Kamu dengar gak si?"
"Iya, dengar. Aku gak tau soal Zoe atau Om Steve." Valen melengos. "Aku mau cek Alana dulu." Dia kembali ke dalam kamar dengan alasan Alana. Bagaimana jika Alden tau jika ayah kandungnya selama ini ada di dekat dia bahkan selalu membantu dia? Apa yang terjadi dengan Zoe selama setahun ini? Valen berpikir keras sampai dia tidak sadar jika Alden sudah berada di sampingnya.
"Katanya mau cek Alana, kenapa diam saja di sini?" tanya Alden curiga. Dia kembali melihat Valen melamun dan hanya berdiri di depan ranjang. Dia bahkan tidak melihat Alana.
"Val, apa kamu sembunyikan sesuatu?"
"Aku? Sembunyikan apa?" Valen mencoba bersikap senatural mungkin. Dia melingkarkan tangannya pada leher Alden. "Aku bingung saja kenapa kamu bertanya soal Zoe."
"Hey, apa kamu cemburu?" Alden memegang dagu Valen dengan lembut.
Valen mengangguk pelan.
"Aku hanya khawatir dengan Tuan Steve, sayang." ucapnya sembari mendekatkan wajah pada Valen.
'Tok..tok.. tok'
"Tuan Alden, Nyonya sudah memanggil anda untuk makan."
__ADS_1
Alden berhenti tepat saat bibirnya sudah hampir menyentuh Valen.
"Nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang kita sebaiknya keluar." Valen mengusap pipi Alden, lalu menjauh dari pria itu.