Valen For You

Valen For You
IGD


__ADS_3

Arena berkuda saat itu tampak sepi. Steve sudah bersiap dengan pelengkapannya, begitu juga dengan Alden.


Ya, Steve meminta Alden untuk menemaninya berkuda dalam arti sesungguhnya. Alden sebenarnya tidak mahir dalam berkuda. Tapi karena Steve memaksa, Alden akhirnya mengikuti kemauan Steve.


"Kamu tampak sangat keren dengan kostum itu." Steve memuji Alden yang sudah bersiap dengan kudanya.


"Ya, sudah lama saya tidak berkuda." jawab Alden kaku.


Mereka tidak sadar jika ada seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka.


"Den.. kenapa wajahmu begitu tegang? Apa kamu sakit?" Steve berhenti sejenak untuk memperhatikan Alden yang sedang membawa kudanya.


"Tidak Tuan. Mungkin karena saya sedikit tegang." Alden mencoba tersenyum.


Tapi saat itu juga, Alden melihat seseorang dengan pakaian serba hitam berlari ke arah Steve.


Pria itu menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Alden yang mendapat sinyal tidak baik, dia reflek mendorong Steve ke samping hingga kuda yang di pegang Steve terkejut dan berlari ke lapangan.


Tindakan Alden tepat. Steve jatuh tersungkur, tapi sebagai gantinya bagian perut Alden terkena benda tajam yang di bawa oleh orang itu.


Alden mencoba mengejar orang itu. Dia berhasil menangkap dan menindihnya.


"Suruhan siapa kamu?" Alden menghajar pria itu dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang pergelangan tangan orang itu.


Pria itu mencoba melawan Alden. Dia coba menggerakkan tangannya yang sudah di kunci oleh Alden.


"Alden, biarkan saja." teriak Steve panik. Dia sudah melihat darah segar membasahi kaos Alden.


Alden masih berusaha keras mengancam pria itu, bahkan dia sudah berhasil membuang benda tajam yang karatan itu jauh-jauh. Tapi sedetik kemudian, Alden pingsan di atas badan pria yang sudah babak belur di bawahnya.


Pria itu segera mendorong Alden, lalu kabur karena satpam datang menghampiri mereka.


"Alden.. astaga.. cepat panggil ambulance." teriak Steve panik. Dia tidak berani sembarangan membawa Alden karena takut lukanya makin parah.


*


*

__ADS_1


*


Rumah Sakit Husada


Steve turun dalam ambulance. Sejak tadi dia hanya memanggil nama Alden sambil memegangi tangannya. Steve sangat takut karena Alden mengeluarkan banyak sekali darah. Dan dari percakapan perawat di ambulance sepanjang perjalanan, mereka tidak yakin jika Alden akan bertahan sampai rumah sakit.


Perawat langsung membawa Alden ke IGD. Perawat itu tentu mengenali jika orang yang sedang tidak sadarkan diri yang mereka bawa adalah anak Ben Sebastian. Jadi,mereka langsung menghubungi Sam supaya Sam bisa melihat keadaan Alden.


Samuel berlari segera setelah asistennya memberitahukan jika Alden ada di IGD. Dia langsung masuk dan melihat kondisi Alden.


"Ini yang di pakai untuk menusuknya." Seorang perawat memberikan benda tajam yang karatan pada Sam.


"Sial." umpat Sam. Sam langsung mensterilkan diri , dan menggunakan pakaian operasinya sebelum menyentuh Alden.


"Dia selalu saja membuat masalah."


Bagi Sam, menjahit luka Alden bukan masalah yang besar. Masalahnya adalah alat yang karatan itu bisa berbahaya untuk Alden.


"Mom.." igau Alden.


"Siapa yang membawa dia? Apakah Valen ada di depan?" tanya Sam dengan wajah tegang.


Sam sudah tidak bertanya lagi karena mulai meneliti luka Alden yang cukup dalam.


"Apakah kita perlu donor darah?" tanya perawat yang melihat Sam kesulitan.


"Tidak perlu. Golongan darahnya langka. Ambil saja cairan pengganti darah."


"Tapi, Tuan yang di depan golongan darahnya sama." ucap perawat dengan ragu-ragu.


"Tidak usah ambil resiko, cepat ambil yang saya perintahkan." teriak Sam kesal. Dia mulai panik karena Alden tidak stabil.


Perawat keluar dari IGD. Dan Steve langsung mencegatnya.


"Apa saya perlu transfusi?" tanya Steve dengan cemas.


"Tidak perlu, Tuan. Permisi." perawat itu berlalu dari Steve.

__ADS_1


Steve terduduk lemas. Penampilannya sudah sangat berantakan. Darah yang berasal dari tubuh Alden sudah mulai mengering di tangan dan pakaiannya.


"Alden.. semoga kamu tidak apa-apa." Steve mengambil dompet Alden yang berada di sampingnya. Tadi sebelum masuk, mereka melepaskan atribut Alden dan menitipkannya pada Steve.


"Daaaaad.." teriakan itu menggema ke seluruh koridor.


Steve yang baru saja membuka dompet Alden langsung menutupnya kembali. Dia langsung berdiri begitu anaknya mendekat.


"Dad tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" Zoe mengecek Steve dari atas ke bawah. Dia panik karena ada darah di tangan dan baju Steve.


"Dad baik-baik saja. Alden yang terluka parah." Steve terlihat menyesal.


"Syukurlah, Dad." ucap Zoe lega.


"Mana, Valen?"


"Dia pingsan begitu Zoe kasih tau kalau Alden ditusuk."


"Tuan..Anda harus kembali ke kantor sekarang. Ini informasi soal orang yang menusuk Alden." seorang pria datang di belakang Zoe untuk mengajak Steve pergi.


"Zoe, kamu jaga Alden dulu. Dad pergi sebentar."


Zoe mengangguk. Dia menatap Daddy nya yang berjalan dengan orang suruhannya meninggalkan rumah sakit.


Zoe masih menunggu Alden di depan IGD, sedangkan Valen ada di mobil dengan asisten Zoe.


Tak lama, lampu IGD berubah jadi Hijau. Sam keluar masih dengan pakaian operasinya. Dia hendak mencari Valen, tapi yang ada hanya seorang wanita dengan pakaian yang sangat seksi.


"Dokter, bagaimana keadaan Alden?" tanya Zoe sambil memegang tangan Sam.


"Anda siapa?"


"Zoe Stevenson. Tetanggamu dulu." kata Zoe sambil menatap Sam.


Sam tentu ingat dengan Zoe, tapi kenapa Zoe yang menunggu Alden? Kenapa Zoe terlihat begitu panik?


"Aku hanya akan memberitahu keadaan Alden pada Valen. Mana dia?" tanya Sam penuh curiga.

__ADS_1


"Dia.. di mobil." ucap Zoe terbata. Samuel bahkan tidak menggubris Zoe dan hanya meninggalkan wanita itu tanpa memberitahu tentang kondisi Alden.


__ADS_2