
"Kamu mau ke mana?" tanya Alden yang baru saja melihat Valen keluar dari kamar.
"Kerja."
"Val..aku tidak mengijinkan kamu pergi." Alden menahan tangan Valen.
"Aku akan tetap kerja, meskipun kamu gak suka." bantah Valen. Dia bahkan melemparkan pandangan yang menusuk tajam. Valen tidak takut sama sekali dengan pria itu.
"Gak bisa. Aku gak akan membiarkan kamu pergi." Alden tidak melepaskan Valen. Dia malah mencengkram tangan Valen dengan lebih erat.
"Den, kamu boleh menyakiti fisik ku, aku tidak masalah. Tapi, jangan sakiti hatiku juga." ucap Valen sinis.
Deg. Alden spontan melepaskan tangannya. Ekspresi wajahnya juga berubah seketika mendengar ucapan Valen.
"Baiklah. Pergi saja." Alden berlalu dan masuk ke kamar. Sudah 3 hari ini Alden tidur di luar karena Valen selalu mengunci pintunya. Alden bisa masuk ke kamar jika wanita itu sudah bangun atau pergi keluar.
Valen menengok ke arah pintu kamar yang sudah tertutup. Dia menghela nafas panjang, lalu dia buru-buru pergi keluar.
Di depan, ada sebuah mobil yang tidak asing sedang menunggu Valen. Kaca mobil terbuka dan Jason tersenyum lebar pada Valen yang berdiri di samping mobil.
"Gimana kamu tau rumahku?" tanya Valen bingung.
"Tentu saja tanya pada Zoe." jawab Jason santai.
Dia turun untuk membukakan pintu Valen.
"Silahkan masuk, princess."
Valen terdiam. Tapi, Jason sedikit mendorongnya sehingga Valen mau tidak mau masuk ke dalam.
__ADS_1
Jason berputar dan segera masuk ke bangku setirnya lagi.
"Kamu pasti belum sarapan. Ini aku bawakan untukmu." Jason mengambil sebuah kotak twinwall yang berisi sandwich dan potongan buah lengkap dengan sebotol susu.
Valen menerima kotak itu dengan ekspresi aneh. Kenapa Jason masih bucin padanya? Padahal dia sudah tau jika Valen sedang hamil?
"Makan dulu, Val. Aku tidak akan menjalankan mobilnya jika kamu tidak menghabiskan itu semua." ancam Jason.
"Jas.. kenapa kamu masih lakukan ini?"
"Ssst." "Aku akan tidur sebentar. Kamu makan saja." Jason menarik tuas kursi mobilnya untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman.
Ya, sebenarnya Jason tidak ingin tidur. Dia hanya ingin Valen makan dengan nyaman.
Valen mulai makan juga mengikuti kemauan Jason. Dia makan dengan cepat karena tidak ingin Jason menunggu lama.
Tapi belum ada 5 menit, Jason sudah penasaran dengan apa yang dilakukan Valen, karena mobilnya begitu hening dan tidak ada suara apapun.
"Jas, kenapa kamu lakukan ini semua?" tanya Valen saat sadar jika Jason sedang mengintip.
"Tentu saja karena aku itu temanmu." Jason membenarkan lagi posisi bangkunya. Dia memang tidak pandai sandiwara.
"Ini terlalu berlebihan, Jas."
"Dahi kamu kenapa?" Jason baru sadar jika dahi Valen sedikit merah kebiruan. Jason hendak menyentuh Valen, tapi Valen langsung menutupi dahinya dengan poninya.
"Ini bukan apa-apa."
"Apa suamimu yang melakukannya?" tanya Jason curiga.
__ADS_1
"Sudahlah, Jas. Aku sudah selesai." "Cepat jalan." perintah Valen. Dia meletakan lagi kotak makanan Jason pada tempat semula.
"Val, kamu bisa ceritakan apapun padaku. Anggap saja aku ini teman spesial mu."
"Jas.. aku tidak ingin bicara tentang Alden dulu. Aku hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang." mohon Valen.
Jason diam, tapi sedetik kemudian dia tersenyum.
"Ya, tapi kamu harus janji untuk ceritakan nanti saat makan siang."
"Makan siang?"
"Aku sudah membooking restoran untuk kita lunch." Jason memasangkan selt belt pada Valen.
"Jason!" bentak Valen. Dia tidak habis pikir dengan pria di sampingnya itu. Seharusnya Jason menghindari Valen karena status Valen sudah menikah. Tapi sebaliknya Jason malah jadi lebih memperhatikan Valen.
"Please, jangan seperti ini, Jas. Aku akan tetap bekerja sebagai bawahan. Tolong perlakukan aku selayaknya karyawan biasa." "Dan ingat, aku ini sudah menikah dan sedang hamil." jelas Valen dengan nada lebih rendah.
"Justru karena kamu karyawanku dan juga kamu sedang hamil, jadi aku harus memperlakukanmu dengan spesial pake telor." ucap Jason dengan wajah tanpa dosa.
Jason lalu mulai menjalankan mobil meninggalkan rumah kontrakan Valen yang kecil dan sederhana.
Mereka tidak sadar jika Alden mengintip dari balik jendela. Alden hampir merobek tirainya ketika Jason memperlakukan Valen dengan begitu perhatian.
"Kenapa jadi seperti ini, Val?"
Alden duduk di tepi ranjang. Sangat sulit menggambarkan posisinya sekarang. Valen tidak bisa dicegah untuk tetap bekerja. Mungkin Alden akan mengijinkan jika memang Valen ingin bekerja. Tapi, bagaimana dengan Jason? Apa pria itu bodoh? Mendekati wanita yang sedang hamil?
Untuk mengurangi beban pikirannya, Alden akhirnya memilih untuk membereskan kamar. Entah apa yang dilakukan istrinya di dalam kamar sejak kemarin. Dia bahkan membiarkan sprei berantakan, dan juga make up nya berserakan di lantai.
__ADS_1
Ketika melipat sprei, sebuah kartu nama terbang dan jatuh ke lantai tepat di depan kaki Alden.
Alden mengambil kartu nama itu. Billy Stevenson. Siapa lagi, Billy Stevenson? Kenapa Valen jadi begini? Atau aku memang terlalu cemburuan?