
Beberapa jam kemudian
Mobil yang di kemudikan oleh pak Sudir itu sudah memasuki gerbang kampung. Di gerbang itu terpampang jelas tulisan *Selamat datang di kampung parit indah*
Saat melihat tulisan itu, tiba-tiba raut wajah Aya tampak sangat senang, bibirnya tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman.
"Alhamdullilah akhirnya sampai juga, Em...Hanya hitungan detik dan aku akan bertemu dengan ayah dan juga ibu. (ucap Aya di dalam hati)
Aya tampak sudah mulai gelisah, karena aya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, Dari raut wajah Aya saat ini sangat terlihat jelas rasa kangennya kepada kedua orang tuanya apa lagi Aya sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan kedua orang tuanya secara langsung.
"Ada yang meninggal ya pak...? Itu kok ada kain putih di sana....? (tanya Asha saat melihat kain putih yang tergantung tepat di gerbang jalan kecil menuju rumahnya)
"Iya nak Asha (jawab pak Sudir dengan sedikit ragu)
"Innalillahiwainnailaihirojiun (ucap Aya dan Asha bersamaan)
"Siapa yang meninggal ya pak...? (tanya Aya yang tatapannya terarah kepada pak Sudir)
Asha juga melihat ke arah pak Sudir sekejap lalu Asha kembali melihat ke arah depan.
Pak Sudir diam, dan melihat ke kaca spion yang ada di dalam mobil, melihat ke Aya dan Asha yang ada di bangku belakang. Aya yang masih melihat ke arah pak Sudir tersenyum saat melihat pak Sudir melihat ke arah nya.
"Siapa pak...? (tanya Aya lagi)
Pak Sudir kembali menatap lurus ke depan, dan sedikit memelankan laju mobil nya.
"Em... A a a Anu nak...(pak Sudir dengan suara terbata-bata)
Belum juga menyelesaikan ucapannya tiba-tiba
π±Kring...kring...
Ponsel pak Sudir pun berdering, karena ada panggilan masuk.
"Maaf nak Aya, nak Asha, bapak angkat telepon dulu (ucap kak Sudir)
"Ya pak silahkan (ucap Aya dan Asha bersamaan)
Pak Sudir mengambil ponselnya yang masih berdering itu dari saku celana yang di pakainya. Dengan perasaan lega pak Sudir mengangkat panggilan itu.
Pak Sudir pun mulai berbicara dengan orang yang menghubunginya.
π± "Assalamualaikum...pak...(ucap pak Sudir setelah menekan tombol untuk mengangkat telepon di ponselnya dan menempelkan ponsel itu ke telinga)
__ADS_1
Pak Sudir diam, mendengarkan orang yang menghubunginya berbicara. Dan sesekali pak Sudir hanya berkata.
"Baik pak. Iya pak. (sambil menganggukkan kepalanya)
Tidak lama pak Sudir pun menjawab salam dari orang yang menghubunginya dan setelah memastikan sambungan telepon itu sudah terputus pak Sudir pun kembali memasukkan ponselnya di saku celana yang digunakannya.
Setelah memasukkan ponselnya, pak Sudir melirik sekilas ke arah kaca spion, dan pak Sudir melihat Aya dan Asha sudah asik sendiri, Asha yang sibuk dengan ponselnya dan Aya melihat-lihat ke arah luar mobil.
"Alhamdullilah... untung ada yang menelpon, kalau tidak saya tidak tau harus menjawab apa tadi saat nak Aya bertanya seperti itu. (ucap pak Sudir di dalam hati, sambil mengurut dada nya yang terasa lega)
Pak Sudir menatap kembali kaca spion, dan pak Sudir melihat ke arah Aya yang tampak sangat bahagia karena bisa kembali pulang.
Pak Sudir tidak bisa menahan air matanya saat melihat senyuman Aya, dan dengan cepat pak Sudir mengalihkan pandangannya menatap arah depan, dan berusaha untuk menahan diri dan tidak terlihat sedih.
Pak Sudir kembali fokus mengemudi, membelokkan mobil memasuki kawasan rumah Aya dan Asha. Dengan sedikit memperlambat laju mobil itu pak Sudir tampak berpikir sangat keras karena pak Sudir tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aya saat tau semuanya nanti.
Asha dan Aya menurunkan kaca mobil, menyapa orang yang mereka lalui.
"Rame banget ya Ay...! Sepertinya semua orang yang ada di kampung sini berkumpul di sini semua deh...! coba kamu lihat ay, banyak banget kendaraan di sini. (ucap Asha yang melihat ke arah Aya)
"Iya Sha, sepertinya begitu. (ucap Aya yang juga melihat ke arah Asha)
"Kok bisa seramai ini ya pak, apa mereka semua kesini untuk melihat orang yang meninggal itu ya pak...? (tanya Asha)
"Sepertinya iya nak Asha (ucap pak Sudir singkat)
"Ya udah pak gak apa-apa, lagian rumah kita sudah dekat. (Kata Asha)
"Iya pak, ya udah kita turun sekarang Sha (kata Aya)
Asha menganggukkan kepalanya, lalu keduanya mulai membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Aya berjalan memutari mobil menghampiri Asha yang ada di sisi kiri mobil.
Pak Sudir yang melihat Aya dan Asha keluar dari mobil juga ikut keluar dan menghampiri Aya dan Asha.
"Pak tolong keluarkan koper kita berdua pak. (ucap Asha setelah melihat pak Sudir yang menghampirinya)
"Ya nak Asha (kata pak Sudir)
Dengan cepat pak Sudir mengeluarkan koper Asha dan Aya dari bagasi mobil, lalu membawa keduanya ke dekat Aya dan Asha.
"Terima kasih ya pak (ucap Aya lalu meraih kopernya yang di pegang pak Sudir)
"Ya nak Aya, Eh... Udah biar bapak aja yang bawakan koper kalian berdua. (ucap pak Sudir sambil menarik kembali koper yang ingin di ambil oleh Aya)
__ADS_1
"Loh kok gitu, gak usah repot-repot pak, sini biar kita bawa sendiri aja (kata Aya yang merasa tidak enak)
"Udah nak Aya biar bapak aja, lagian bapak juga kesana...! Udah ayo jalan (kata pak Sudir dan mulai melangkah maju menuju rumah mereka yang tidak jauh dari sana.)
"Baiklah pak, terima kasih sebelumnya, maaf merepotkan. (kata Aya, yang juga mulai melangkah)
Pak Sudir pun menganggukkan kepalanya, lalu ketiganya mulai berjalan.
Asha menggandeng tangan Aya, sedangkan pak Sudir berjalan di depan sambil menarik dua koper di kedua tangannya.
Ketiganya sudah sampai di tikungan jalan menuju rumah Asha dan juga Aya. Dan dari sana sudah terlihat jelas rumah Aya dan Asha karena sudah tidak tertutup oleh tembok pembatas lagi.
Aya dan Asha tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Mata keduanya terbuka lebar saat melihat rumah Aya yang sudah menjadi arang dan hampir rata dengan tanah. Dan di sana juga sangat ramai orang.
Asha dan Aya juga kaget saat melihat di depan rumah Asha juga sangat ramai, bahkan ada bendera putih yang tergantung di depan rumahnya.
Keduanya sama-sama diam tidak ada yang mengeluarkan suara satu pun.
Air mata keduanya sudah berlinang, dan keduanya masih menatap apa yang mereka lihat.
Aya maupun Asha berusaha melangkahkan kakinya, tetapi langkah mereka terasa sangat berat.
Beribu pertanyaan muncul di kepala Aya saat ini, lalu sambil menahan rasa sesak di dadanya Aya pun berlari ke arah rumahnya yang sudah jadi arang dan hampir rata dengan tanah itu.
"Ayah... ibu....(panggil Aya dengan berteriak dan berlari mendekati rumahnya)
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat πͺ untuk menulis βοΈ dan bisa Update setiap hari tanpa jeda....
...π€π€π€...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan juga tanda Favorit β€ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Semoga menjadi pembaca setia dari Novel Author yang berjudul "Warna Kehidupan Aya" ini ya....
...π₯°π₯°π₯°...
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
__ADS_1
...Terima kasih π...
...πππ...