
Dengan perasaan yang masih ragu Aya melangkah untuk turun dari mobil, secara berlahan dan satu persatu Aya menurunkan kakinya.
Aya menoleh ke Angga yang berjalan ke pintu utama rumah mewah itu, sambil turun dari mobil. Setelah berada di luar mobil Aya pun mulai melebarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling kawasan itu, dan juga mengamati apakah ada orang lain di sana selain dari mereka berdua.
Suasana rumah itu terlihat sangat sunyi seperti rumah yang tidak berpenghuni karena tidak terlihat satu orang pun di sana, namun kalau di amati lagi lebih cermat rumah maupun taman yang ada di kawasan rumah itu sepertinya sangat terawat tidak seperti rumah yang tidak berpenghuni.
"Rumah siapa ini...? kenapa terlihat sangat sunyi...? (gumam Aya pada dirinya sendiri)
Cukup lama Aya berdiri di samping mobil itu sambil melebarkan pandangannya ke sekeliling kawasan rumah, dan tangannya masih memegang pintu mobil yang belum dia tutup.
Di depan pintu utama rumah
Angga sudah berdiri di sana sambil melihat kedua tangan di dada, melihat ke arah Aya yang masih berdiri di sisi mobil yang pintu nya bahkan belum dia tutup.
Setelah berusaha menenangkan dirinya dan saat ini pandangan Aya tertuju kepada Angga yang terlihat menatapnya.
Tampak saat ini Keduanya saling tatap, tatapan keduanya hanya bertahan beberapa menit saja, karena dengan cepat Aya mengalihkan pandangannya.
Aya menunduk, lalu dengan berlahan menutup pintu mobil.
Setelah pintu mobil benar-benar tertutup barulah secara berlahan Aya melangkahkan kakinya menuju dimana Angga berada saat ini. Dan tidak lama Aya pun sampai di dekatnya.
"Silahkan masuk...(ujar Angga setelah berhasil membuka pintu rumah mewah itu sambil menoleh sedikit ke Aya yang berdiri di sampingnya)
"Tap...tapi pak, eh...tuan (kata Aya dengan terbata-bata, namun tidak kuasa untuk melanjutkan perkataannya)
"Udah jangan banyak tapi-tapi, masuk lah ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan kamu, ini penting. (ujar Angga menjelaskan karena dia melihat Aya yang tampak takut untuk masuk)
"Baik pak, eh tuan. (kata Aya lagi)
__ADS_1
Lalu Aya pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki Angga.
"Silahkan duduk (ucap Angga, setelah keduanya sampai di sofa mewah yang ada di ruang tamu rumah itu, dan Angga pun juga langsung duduk di sana)
"Baik tuan terima kasih (ucap Aya)
Walaupun tampak ragu dan terlihat ketakutan, Aya pun duduk di salah satu sofa itu, meletakkan tas sampingnya di samping nya.
"Bukannya dari kemarin-kemarin saya sudah bilang jangan panggil saya pak atau pun tuan apa lagi di saat kita tidak berada di kawasan sekolah. Saya ini bukan majikan kamu ataupun bos kamu. (ujar Angga)
"Maaf pak, eh tuan... (ujar Aya dan seketika Aya pun langsung menutup mulutnya) Maaf...(ujar Aya lagi dengan tatapan mata yang terlihat memohon)
"Em... baiklah untuk saat ini saya maaf kan, tapi saya minta untuk kedepannya jangan panggil saya pak atau pun tuan...! Karena saya bukan lah bos atau majikan kamu. (jelas Angga)
"Lalu saya hanya manggil apa...? (tanya Aya yang tampak sangat berpikir keras)
"Baiklah, kalau begitu saya panggil papa Ara saja, apakah boleh...? (ujar Aya dan bertanya)
"Jangan panggil begitu juga (protes Angga dengan cepat)
"Lalu saya harus panggil apa...? (tanya Aya yang tentunya tidak di jawab oleh Angga, karena Angga hanya menatapnya saja, dan dari tatapan Angga itu Aya sudah tau kalau Angga tidak akan memberikan jawaban atas pertanyaannya barusan)
"Em....Atau saya panggil Mas saja, apakah boleh...? (tanya Aya lagi kepada Angga dan kali ini Aya tampak sangat bersemangat, bahkan seperti melupakan siapa orang yang ada di hadapannya dan yang di tanyanya.)
"Terserah kamu (jawab Angga singkat)
"Baiklah (ujar Aya)
Setelah pembicaraan itu, suasana pun hening tidak ada di antara keduanya yang berbicara.
__ADS_1
Aya kembali di rundung rasa takut dan cemas, di tambah lagi dengan tatapan Angga yang tapak lain saat menatap ke dirinya.
Keheningan berlangsung beberapa menit sampai Angga mulai membuka suara, bertanya kepada Aya apakah dia mau minum atau makan sesuatu...! dan Aya pun menjawab dengan kata tidak "tidak mas tidak usah repot-repot, saya tidak lapar atau pun haus. (begitulah jawaban Aya)
Setelah pertanyaan singkat itu Angga pun mulai mengajukan berbagai pertanyaan seputar pribadi dari Aya, mulai dari bertanya tentang orang tuanya, alamat atau desa asalnya, saudaranya dan lain sebagainya.
Dan dengan lugas Aya menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan oleh Angga, serta Aya juga menceritakan tentang kedua orang tuanya yang sudah tiada walaupun terasa berat untuk mengenang kembali namun karena Angga bertanya Aya pun menjawab dan menceritakannya.
Angga sedikit kaget mendengar cerita Aya, dia tidak menyangka kalau selama ini Aya adalah anak yatim-piatu yang hidup seorang diri.
Sebenarnya Angga sempat di beritahu oleh Ibuk kepala sekolah tempat di mana Aya mengajar saat ini tentang identitas Aya di saat dia memilih Aya untuk menjadi penerima bantuan untuk dikuliahkan, Namun saat itu Angga tidak begitu mempedulikan, dia cuma langsung menyetujui apa yang sudah di pilih oleh Ibuk kepala sekolah. Karena menurut Angga Ibuk kepala sekolah itu lebih tahu apa yang terbaik untuk kemajuan sekolah yang di kelola nya.
Sekolah TK itu memang milik keluarga Angga, mereka yang mendirikan serta membangunnya, tetapi Angga hanya sebagai pemilik saja bukan pengelola, pengelola sekolah jelas sekali sudah di serahkan oleh Angga kepada Miss Bella selaku kepala sekolah TK itu, yang merupakan orang kepercayaan Angga yang sudah dia kenal cukup lama dan sangat dekat dengan keluarganya, terutama sama almarhum Mamanya karena Miss Bella merupakan sahabat alamrhum mamanya.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
...Terima kasih 🙏...
...😘😘😘...
__ADS_1