
Menteri mulai menampakkan sinarnya, di sambut kicau burung di halaman rumah, menandakan malam telah berlalu dan berganti dengan pagi. Waktu dimana semua orang akan memulai aktivitasnya.
Namun, berbeda dengan seseorang yang ada di dalam kamar yang sangat besar dan mewah itu, di mana di sana terlihat seorang pria dewasa bersama seorang anak kecil masih belum ada pergerakan sama sekali dari keduanya. Keduanya masih terlihat tidur dengan sangat pulasnya. Walaupun alarm yang ada di dekatnya sudah berbunyi berkali-kali namun keduanya tetap tidak terbangun, bahkan suara yang di timbulkan oleh alarm tampak tidak menggangu tidur mereka berdua sama sekali.
Angga dan Aretha.
Ya mereka berdua adalah Angga dan Aretha putrinya. Keduanya masih sama-sama terlelap dalam selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh keduanya, sambil memeluk bantal guling yang ada di sisi masing-masing mereka berdua masih saja terlelap.
Di luar kamar
Bik Santi sudah mondar mandir sejak tadi di depan kamar mewah itu, bahkan bik Santi sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar itu dan memanggil orang yang ada di dalam kamar. Namun tidak ada jawaban dari dalam sana.
Bik Santi melihat jam yang ada di dinding dan bik Santi mulai cemas karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum... Tuan, non Aretha...(ujar bik Santi setelah mengetuk pintu dengan keras dan dengan nada suara yang sedikit berteriak)
Bik Santi diam, dia berusaha mendengarkan suara dari dalam kamar itu, namun bik Santi tetap tidak mendengar apa-apa dari dalam sana.
Ya jelas bik Santi tidak akan bisa mendengar apa-apa dari dalam sana, karena kamar itu kedap suara. Seseorang yang ada di luar kamar jelas tidak akan bisa mendengar suara orang yang ada di dalam kamar. Tapi berbeda dengan itu, saat seseorang ada di dalam kamar dia bisa mendengar suara orang yang ada di luar kamar begitulah desain kamar yang Angga tempati saat ini.
Kamar itu sengaja di desain ulang oleh Angga beberapa tahun ini, sejak dia kembali menempati rumah itu. Karena banyaknya masalah yang terjadi kepadanya menjadikan Angga pribadi yang tertutup, jadi untuk menuangkan semua emosinya Angga pun menggunakan kamar itu, supaya tidak ada orang yang tau.
Bik Santi sudah menunggu di depan kamar dengan putus asa, bik Santi sudah pasrah kalau pun nantinya Angga marah kepadanya.
Bik Santi berdiri tepat di depan kamar itu tanpa bergerak. Menunggu majikannya dan anaknya keluar dari kamar itu, karena hanya itulah yang bisa di lakukan oleh bik Santi saat ini.
Di dalam kamar
Aretha tampak sudah mulai gelisah, dia tampak memiringkan tubuhnya ke sisi kanan dan kiri beberapa kali, sepertinya untuk mencari sisi ternyamannya. Namun itu tidak berlangsung lama, berlahan Aretha membuka matanya, lalu "Uwaaaa... (Aretha menguap dengan mulut yang terbuka sangat lebar) Aretha mulai mengucek-ngucek matanya dan berlahan membuka sepenuhnya.
Aretha menoleh ke sisi tempat tidur yang ada di sampingnya dimana di sana ada sang papa yang masih tampak terlelap dengan sangat nyenyak.
Aretha bangun dan duduk di atas tempat tidur itu, Aretha memutar tubuhnya menghadap ke arah sang papa.
"Papa...papa bangun...(ujar Ara mencoba membangunkan Angga dengan mengguncang-goncang kan tubuh Angga dengan tangan mungilnya)
Angga tidak bergeming, Aretha menatap dengan bingung, lalu Aretha pun kembali mengguncang-goncang tubuh papanya dan kembali memanggil "Papa"...
__ADS_1
"Em...ya sayang papa udah bangun ko. (ujar Angga yang mulai membuka matanya sedikit melihat ke arah putrinya yang sudah duduk di sampingnya)
Aretha tersenyum sambil menatap papanya yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya itu.
Angga sudah membuka mata sepenuhnya, lalu Angga pun mulai duduk. Angga menarik tubuhnya lalu menyandar dengan meletakkan bantal serta gulingnya dibelakang panggungnya.
"Kok putri papa cepat banget sih bangunnya. (kata Angga sambil menatap Aretha yang duduk bersila di atas tempat tidur dan juga menatapnya)
"Iya dong pa, kan Ara mau ketemu Miss Aya. (ujar Aretha lalu memekarkan senyumannya)
"Kan hari ini hari libur sayang, jadi Ara tidak sekolah hari ini. Tanggal merah... (Ujar Angga, dengan menekankan kata tanggal merahnya)
"Kok gitu, kalau Ara tidak sekolah Ara tidak bisa jumpa Miss Aya dong pa...! (kata Aretha dengan nada suara yang sedikit panik)
"Kan untuk hari ini aja sayang, besok udah bisa ketemu lagi. (jelas Angga)
"Gak mau, Ara mau ketemu Miss Aya hari ini pa. (rengek Aretha)
"Gak bisa sayang, hari ini sekolah Ara tutup karena libur tanggal merah. (ujar Angga menatap manik mata putrinya yang terlihat menatapnya dengan penuh kekecewaan)
"Jadi bagaimana caranya Ara bisa ketemu Miss Aya pa...? (tanya Aretha sambil merangkak mendekati papanya)
"Kan besok bisa sayang. (ujar Angga sambil memeluk putrinya yang sudah berada di dekapannya)
"Tapi sayang, Miss Aya nya pasti gak akan mau, dia pasti sibuk di hari libur seperti ini. (jelas Angga juga menatap putrinya)
"Papa bohong, kan semalam papa janji... (tegas Aretha)
"Janji...? Emang papa janji apa...? (tanya Angga dengan penuh keheranan menatap manik mata putrinya)
"Janji jemput Miss Aya kalau Ara mau ketemu. (ujar Aretha menjelaskan)
"Kapan papa berjanji seperti itu...? (tanya Angga penuh keheranan)
"Ya semalam lah pa, kapan lagi (kata Aretha)
"Ah...Ara ngarang nih...! gak ada ya papa janji seperti itu. (kata Angga lalu menoel hidung Aretha)
"Ara gak ngarang, papa sendiri yang janji sama Ara (tekan Ara lagi)
__ADS_1
"Gak ada ah... Papa gak ada janji seperti itu. (ujar Angga)
"Ada...(kata Aretha)
"Gak ada (kata Angga)
"Ada (kata Aretha lagi)
"Gak ada (kata Angga lagi)
"Em...papa jahat, papa bohong. (ujar Aretha, memberikan mimik wajah cemberut, memalingkan wajahnya dari Angga dan melipat kedua tangannya ke dada)
"Loh kok gitu...(ujar Angga)
Angga berusaha membujuk putrinya yang merajuk itu, Angga menarik nafas dalam melihat tingkah putrinya yang memang sangat sulit di bujuk kalau sudah merajuk.
"Baiklah supaya putri papa yang cantik ini tidak cemberut lagi. papa turutin permintaannya. Tapi...(ujar Angga dan sengaja Menjeda perkataannya)
"Tapi apa pa...? (tanya Aretha, yang langsung memutar tatapan nya menatap sang papa)
"Kalau Miss Aya nya menolak Ara gak boleh memaksa ya. (jelas Angga)
"Baiklah pa, Ara janji...! (ujar Aretha, mengacungkan jari kelingking nya ke Angga)
"Ok papa pegang ya janjinya. (kata Angga lalu menyambut jari kelingking Ara dengan jari kelingking nya)
Angga pun membawa Ara turun dari tempat tidur, lalu keduanya berjalan untuk keluar dari dalam kamar. Setelah Angga meminta kepada Ara untuk pergi mandi terlebih dahulu ke kamarnya, karena pasti bik Santi sudah menunggunya.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
__ADS_1
...Terima kasih 🙏...
...😘😘😘...