
Keesokan harinya
Aya sudah bersiap, mobil yang menjemputnya juga sudah terparkir di depan, Aya berpamitan kepada ayah dan ibu Asha.
Ibu Asha meneteskan air mata melepas kepergian Aya karena selama Aya tinggal bersama mereka dia sudah sangat dekat dengan Aya dan menganggap Aya seperti anaknya sendiri sama dengan Asha.
Aya masuk kedalam mobil, lalu melambaikan tangannya ke ibu dan ayah Asha.
Mobil pun berangsur menjauh, Aya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Aya memeluk boneka beruang yang di berikan oleh almarhum ibunya.
Mobil terus bergerak berlahan dan mulai keluar dari perkampungan. Aya memejamkan matanya.
"Ayah ibu Aya pamit, do'akan Aya di sana ya ayah ibu semoga Aya tetap kuat melanjutkan hidup ini dan bisa jadi orang sukses seperti yang selalu di katakan oleh ayah dalam candanya. Aya janji nanti Aya akan kesini lagi untuk mengurangi ayah dan ibu. Walaupun Aya tidak bisa tiap hari mengunjungi ayah dan ibu tapi ayah dan ibu akan selalu ada di hati Aya. Aya tidak akan pernah putus mendo'akan ayah dan ibu, karena hanya do'a yang bisa Aya berikan untuk ayah dan ibu. (ucap Aya dari dalam hati)
Aya berlahan menarik nafasnya lalu menghembuskan secara berlahan, Aya membuka matanya memandang jauh ke depan. Aya berusaha untuk tetap tenang dan tidak meneteskan air matanya.
Selama di dalam mobil Aya memang lebih banyak diam, melihat Aya seperti itu ibuk Siska tetangga Asha sesekali mengajak dia mengobrol.
Beberapa jam sudah mereka di perjalanan.
Ibuk Siska sekeluarga sudah tidur, tapi Aya masih tetap terjaga dia melihat pemandangan yang di suguhkan selama dalam perjalanan.
Aya mengingat perjalanan pertama kali dia meninggalkan kampung halamannya, Aya tersenyum menikmati indahnya pemandangan.
Dan tidak terasa mobil yang mengantarkan mereka sampai di terminal, mereka semua turun dari dalam mobil mengambil barang bawaan mereka lalu masuk ke dalam bus sesuai tujuan mereka.
Aya duduk di bangku pinggir dekat kaca mobil bersama anak Ibuk Siska.
Tidak menunggu waktu lama bus yang mereka tumpangi pun mulai berjalan berlahan karena penumpang bus sudah penuh.
2 jam pelajaran bus pun berhenti di rumah makan, semua penumpang turun begitu juga dengan Aya.
Setelah shalat Aya makan siang bergabung dengan keluarga Ibuk Siska. Di sela-sela makan mereka menyempatkan mengobrol, Aya juga menanyakan dimana anak Ibuk Siska akan bersekolah dan juga alamat tempat tinggal nya di kota.
Satu jam lebih mereka beristirahat lalu bus pun kembali melanjutkan perjalanan dan kali ini bus hanya berhenti sejenak di SPBU untuk mengisi bahan bakar.
Cukup lama perjalanan akhirnya bus pun sampai di ibu kota, bus berhenti di terminal. Semua penumpang turun lalu mengambil barang bawaan mereka.
Aya berpamitan kepada keluarga Ibuk Siska lalu masuk ke dalam taksi untuk menuju kediaman Asha.
__ADS_1
20 menit perjalanan akhirnya Aya pun sampai di depan rumah Asha, Aya turun dari taksi mengelurkan barang bawaannya yang di bantu oleh supir taksi lalu Aya pun membayar taksi sesuai nominal yang di sebutkan oleh supir taksi.
Taksi itu pun pergi, Aya menyeret kopernya ke teras rumah Asha.
Tok tok...
"Asha, Assalamualaikum...
Aya mengetuk pintu rumah Asha, sambil memanggil namanya.
Beberapa kali Aya mengetuk dan memanggil tapi pintu rumah Asha tidak kunjung di bukakan.
"Apa Asha belum pulang dari kamusnya...! (Aya melihat jam yang melingkar di tangannya) Tapi ini sudah sore gak mungkin Asha belum pulang kuliah. Em...atau jangan-jangan Asha lagi di kafe tempat dia bekerja, kalau benar begitu pasti dia akan pulang malam...! Aduh bagaimana ya, mana ponsel saya masih rusak lagi bagaimana mau menghubunginya. Ya sudah lah saya coba tunggu saja dia di sini. (ucap Aya yang berbicara pada dirinya sendiri)
Aya meletakkan kopernya di dekat dinding, lalu Aya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu.
2 jam sudah Aya menunggu di sana, hari pun sudah mulai gelap. Aya melihat jam di tangannya.
"Lebih baik saya ke masjid yang ada di dekat sini aja dulu, mudah-mudahan setelah dari masjid nanti Asha sudah pulang. (ucap Aya lagi)
Aya mengambil barang bawaannya serta koper pakaiannya. Aya berjalan ke arah masjid yang kebetulan tidak jauh dari sana.
Selesai shalat, Aya pun kembali ke rumah Asha. Sesampainya di sana Aya masih melihat lampu rumah yang masih belum menyala, itu artinya Asha belum juga pulang.
Aya kembali duduk di bangku yang ada di teras rumah Asha.
Hampir 1 jam Aya menunggu di sana, dan akhirnya Asha pun pulang. Asha turun dari mobil, Aya yang melihat Asha langsung berdiri dari duduknya. Setelah mobil itu pergi Asha pun menghampiri Aya dengan santainya.
"Aya, kenapa sih kamu gak ngasih kabar dulu kalau mau kesini. Kalau begini kan gue jadi repot, mana gue terpaksa izin pulang duluan lagi di tempat kerja, sebetulnya gue gak enak sama bos dan karyawan yang lain tapi gara-gara ibu gue ngomel-ngomel nelpon gue terus dan mendesak gue untuk buru-buru pulang ya terpaksa deh gue pulang, untung bos gue baik memberi izin dan mau mengantarkan gue pulang. Lain kali jangan seperti ini lah Ai, bikin jengkel aja. (celoteh Asha sambil membuka pintu rumahnya)
"Maafin saya ya Asha, maaf sudah buat kamu repot. (ucap Aya)
Aya berusaha mengutkan hatinya, dia masih berusaha tersenyum saat Asha menatapnya dengan jengkel.
"Udah gak usah senyum-senyum, masuk (ucap Asha)
Aya hanya diam, mengambil barang serta kopernya lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum...(ucap Aya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah)
__ADS_1
Aya melebarkan pandangannya, rumah yang tetap sama seperti beberapa bulan yang lalu yang pernah dia tinggal di sini.
"Oh ya Aya, sepertinya kamu tidak bisa tinggal lama di sini karena kamar yang biasa kamu tempai kemarin udah gue sewakan sama teman kampus gue, dia saat ini pulang kampung katanya dia menjemput adiknya yang kemungkinan juga akan tinggal di sini. Dan gak mungkin kan kamu tidur di ruang tamu nanti mereka malah gak nyaman. Gue pikir kamu gak akan kembali lagi ke sini, jadi untuk menambah pemasukan gue makanya gue sewakan aja kamar itu ya dari pada kosong. (jelas Asha)
"Baiklah Sha, gak apa-apa. Tapi untuk malam ini boleh kan saya tidur di sini, saya tidur di ruang sini aja gak apa-apa. (ucap Aya)
"Ya pasti boleh lah, gak mungkin kan kamu cari kontrakan atau kamar kos malam-malam begini. (ucap Asha)
"Tapi ai, kamu gak marah kan...? gue gak bermaksud mengusir kamu apalagi gak ngizinin kamu tinggal di sini, cuma gue udah terlanjur menyewakan kamar itu, gue gak mungkin tiba-tiba membatalkan sewa kamar itu, lagian teman gue itu sudah 1 Minggu menempati kamar itu dan dia sudah membayar uang sewanya untuk 3 bulan ke depan. (jelas Asha lagi)
"Ya sha, gak apa-apa kok gue bisa mengerti. Oh ya ini ada titipan dari Tante dan om untuk kamu. (Aya memberikan barang titipan kedua orang tua Asha kepadanya)
Aya mengambilnya lalu membuka isi kardus itu.
"Ibu ini ada-ada saja, masak bahan makanan masti di kirimkan juga, apa dia lupa kalau anaknya malas masak. Bakalan terbuang sia-sia ini bahan makanan. (gerutu Asha)
Asha meminggirkan kotak itu.
Aya hanya diam melihat sifat Asha yang sangat jauh berubah saat ini, tidak seperti Asha yang dia kenal dulu.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update setiap hari tanpa jeda....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan juga tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Semoga menjadi pembaca setia dari Novel Author yang berjudul "Warna Kehidupan Aya" ini ya....
...🥰🥰🥰...
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
...Terima kasih 🙏...
...😘😘😘...
__ADS_1