
Matahari sudah terbenam dan langit pun berangsur mulai gelap. Aya terlihat berjalan keluar dari rumah seorang diri, lalu melangkahkan kaki mungilnya menuju tanah tepat di samping rumah keluarga Asha.
Tanah tempat rumahnya berdiri dulu, sebelum kejadian pilu yang menimpanya.
Aya berdiri di sana melihat kondisi rumah yang sempat ingin di bangun kembali oleh warga desa namun karena kekurangan biaya membuat bangunan nya terhenti hingga kini.
Rumah yang masih setengah jadi, dan saat ini bangunan rumah itu sudah di tumbuhi oleh semak belukar di sekelilingnya.
Dengan hati yang pilu Aya menatap bangunan rumah itu, tanpa dia sadari ada seseorang yang juga berdiri di belakangnya. Dia adalah Angga.
"Ngapain sih...?
Dengan sedikit berbisik di telinga Aya, Angga yang sudah berada di samping Aya mengatakan itu.
Aya yang tidak menyadari ada orang di sana langsung tergelonjak kaget, dengan refleks berbalik badan hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan....
Angga yang berdiri di belakangnya dengan cepat meraih tubuh Aya membawanya ke dalam pelukannya sehingga Aya tadinya ingin terjatuh bisa terselamatkan, namun karena berada dalam dekapan tubuh Angga seketika membuat dua orang itu sama-sama terdiam mematung.
Untuk beberapa saat Aya berada di dalam pelukan Angga diam terpaku, dan saat Aya benar-benar menyadari dengan cepat Aya pun menarik tubuhnya melepaskan diri dari pelukan Angga, dan Angga pun juga dengan cepat melonggarkan dekapan tangan nya di tubuh Aya sehingga dengan mudah Aya melepaskan diri.
"Maaf ya mas saya gak sengaja.
Dengan malu Aya langsung berbalik badan dan membelakangi Angga.
"Aduh... kok bisa-bisanya sih aku meluk dia, mana jantungku gak bisa di ajak kompromi gini lagi, kenapa berdetak kencang seperti ini, pasti dia merasakannya. (kata hati Aya)
Aya mengusap kasar wajah nya, untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran yang terlintas di benak nya. Aya menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara berlahan.
Beberapa saat kemudian barulah Aya merasa lebih tenang dan detak jantungnya pun kembali normal seperti biasa.
Keduanya saling diam beberapa saat, Angga melihat kedua tangannya di dada menatap ke depan mengamati bangunan rumah yang di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Ini rumah siapa...?
Pertanyaan itu keluar dari mulut Angga, tanpa menoleh ke orang yang dia tanya, untuk hanya sekedar mencairkan suasana yang hening itu.
Aya menoleh ke Angga sejenak lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan, aya menarik nafas dalam untuk menyiapkan diri sebelum menjawab pertanyaan Angga barusan.
"Ini rumah ayah dan ibu mas.
Sejak Aya menghentikan ucapannya, memejamkan matanya lalu menarik nafas dan menghembuskan secara berlahan, supaya hatinya tetap tenang.
"Dulu, saya ayah dan ibu tinggal di sini mas, tapi bangunan rumahnya tidak seperti ini, bangunan ini di buat setelah beberapa musibah itu terjadi, musibah yang meratakan rumah kita termasuk merenggut nyawa kedua orang yang saya cintai.
Air mata yang sejak tadi di tahan oleh Aya pun akhirnya jatuh membasahi pipinya. Namun dengan cepat Aya menyeka air matanya itu. Karena Aya tidak mau Angga melihat sisi lemah nya.
Aya diam dia seakan tidak kuasa lagi untuk mengatakan apa-apa lagi.
Angga melirik ke arah Aya yang berdiri di depan nya, lalu kembali fokus melihat ke depan. Angga sepertinya menyadari apa yang terjadi kepada Aya saat ini namun dia berpura-pura tidak menyadari itu semua.
Ujar Angga sambil melangkah satu langkah ke depan, dia tampak mensejajarkan berdirinya dengan Aya, namun Angga tidak menoleh sedikit pun kepada Aya dia hanya melihat lurus ke depan seperti seseorang yang sedang mengamati bangunan rumah itu dengan cermat walaupun hari sudah mulai gelap.
Aya menoleh sejenak kepada Angga yang sudah berada di sampingnya.
"Karena ada suatu kendala mas, makanya bangunan rumah ini tidak dapat di selesaikan. Sebenarnya Om selaku kepala desa sudah berusaha membantu supaya bangunan rumah ini dapat di selesaikan mas, Namun pada akhirnya kita menemukan jalan buntu makanya bangunan rumah ini tidak dapat di selesaikan.
Aya menjelaskan dengan air mata yang berlinang sambil melihat ke depan.
"Oh begitu, tapi kalau saya boleh tahu apa kendalanya...? Apa karena biayanya...?
"Bukan mas, ini masalah hak milik tanah ini mas.
"Maksud nya...?
__ADS_1
Angga dengan cepat menoleh ke Aya, dia menatap Aya. Angga tampak kaget dengan apa yang dia dengar.
"Begini mas di saat ayah dan ibu membeli tanah ini mereka membelinya begitu saja kepada orang yang katanya pemilik tanah ini. Ya namanya orang kampung yang tidak berpendidikan jadi di saat orang itu bilang kalau tanah ini tidak memiliki surat-surat jadi ayah dan ibu percaya saja. Dan singkat cerita ayah dan ibu pun membangun rumah di sini, dari saya lahir kita sudah tinggal di sini tanpa ada permasalahan apa pun. Dulu ayah dan ibu sudah di tawarkan oleh om untuk mengurus surat-surat tanah ini namun ayah menolaknya karena ayah berkeyakinan kalau walaupun tanpa surat-surat pun itu tidak masalah, dan tanah ini milik kita. Tetapi setelah ayah dan ibu meninggal dan om beserta warga desa membangun kembali rumah di tanah sini datang seorang laki-laki menemui saya dan om selaku kepala desa, laki-laki itu mengaku kalau dia pemilik tanah ini dan dia bilang kalau dia maupun anggota keluarga nya yang lain tidak pernah menjual tanah ini kepada siapapun. Dan untuk menguatkan pernyataan itu dia membawa surat tanah resmi dan itu sudah di cek sama om. Karena saya tidak ingin ribut atau ada hal-hal lain makanya saya lebih memilih untuk mengalah saja, dan meminta om dan warga desa untuk menghentikan pembangunan rumah ini. Lalu tidak lama setelah itu saya pergi ke kota.
"Kenapa kamu tidak memperjuangkannya sih, kan kamu tau kalau ayah kamu yang membeli tanah ini. Seharusnya kamu mempertahankan nya.
"Bagaimana caranya mas saya mempertahankan nya, saya tidak punya bukti sedikit pun kalau tanah ini milik kedua orang tua saya, lagian saya juga gak tahu ayah dan ibu beli tanah ini sama siapa, om maupun warga yang lain juga tidak tahu. Makanya saya lebih memilih untuk mengalah.
"Tapi kenapa orang itu baru datang mengakui kalau tanah ini milik nya setelah ayah dan ibu kamu sudah tidak ada, kenapa tidak dari dulu-dulu...? kan kalian sudah bertahun-tahun tinggal di sini...!
"Saya tidak tahu mas, saya juga sempat bertanya seperti itu kepada orang itu tapi dia hanya bilang kalau dia dan keluarganya baru kembali ke desa ini lagi, dia bilang dia dan keluarganya sudah bertahun-tahun hidup di rantau.
"Sudah lah mas kita gak usah bahas ini lagi, ini sudah berlalu dan saya juga sudah ikhlas kok. Ayo kita pergi dari sini, ini sudah semakin gelap. (sambung Aya menatap Angga)
Tanpa mendengar persetujuan dari Angga Aya pun langsung berbalik badan lalu berjalan meninggalkan Angga begitu saja.
Angga mengerutkan keningnya karena melihat Aya pergi begitu saja, lalu tidak lama Angga pun berbalik badan dan melangkah untuk pergi juga dari sana. Dengan kakinya yang panjang akhirnya Angga pun bisa menyusul Aya dan saat ini kedua berjalan bersebelahan menuju rumah kedua orang tuanya Asha.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
...Terima kasih 🙏...
__ADS_1
...😘😘😘...