
Dalam waktu singkat Angga pun sampai ke rumah nya, Angga berlari dan masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dia kendarai berhenti tepat di pintu utama rumah.
"Bik...Bik Santi...(teriak Angga yang sudah berada di dalam rumah dan berlari menaiki satu persatu anak tangga yang menuju lantai 2 rumah di mana kamar mereka berada.)
Bik Santi yang mendengar suara teriakan dari majikan laki-lakinya itu langsung berlari ke luar kamar karena saat itu kamar tidak dalam keadaan tertutup. Jadi bik Santi bisa mendengar suara teriakan majikannya itu dengan sangat jelas, walaupun kamar itu di desain dengan kedap suara.
"Tuan...(kata bik Santi saat melihat Angga yang sudah berada dekat dengannya)
Angga yang juga sudah melihat bik Santi berdiri di depan ambang pintu kamarnya langsung menghampirinya. Bik Santi berdiri sambil memegang kertas, buku kecil dan satu amplop di tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi bik...? (tanya Angga dengan suara bergetar)
"Bibik juga gak tau tuan, seperti yang sudah bibik jelaskan tadi. Ini bibik menemukan ini di atas meja rias nyonya tuan. (ujar bik Santi sambil menyerahkan apa yang di pegangnya)
Tanpa berkata-kata lagi, Angga langsung mengambil apa yang di berikan oleh bik Santi.
Satu persatu Angga melihat apa yang di berikan oleh oleh bik Santi. Masih saat membaca ekspresi wajah Angga mulai berubah, wajah Angga sudah terlihat merah padam menahan amarahnya.
"Tuan... Ayo kita cari nyonya sekarang juga tuan. (ujar bik Santi)
"Gak perlu bik, kita gak perlu mencari dia. (kata Angga dengan nada suara yang menahan marah)
"Tapi tuan, bagaimana dengan nona Aretha, dia masih sangat kecil tuan dan masih memerlukan mamanya. (Ujar bik Santi dengan rasa khawatirnya)
__ADS_1
Angga berjalan berlahan masuk ke dalam kamar, mendekati putrinya yang sedang terlelap di dalam boks bayinya.Sedangkan Bik Santi, dia juga berjalan mengikuti tuan atau majikan laki-lakinya itu.
"Mulai sekarang Aretha maupun saya tidak membutuhkan perempuan itu lagi bik (ujar Angga sambil membelai wajah bayi Aretha putrinya)
"Tapi tuan...(bik Santi tidak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba Angga menatapnya)
Angga berdiri dengan tegap
"Mulai sekarang tidak ada lagi yang boleh menyebutkan nama bahkan mengenang perempuan itu bik. Di dalam hidup saya maupun Aretha sudah tidak ada lagi perempuan itu. (ujar Angga dengan tegas sambil menatap anaknya)
"Satu lagi bik, (Angga menghadap ke bik Santi) Tolong Bereskan semua barang-barang saya dan juga Aretha, karena hari ini juga saya akan pindah ke rumah kedua orang tua saya, dan saya akan tinggal di sana. Saya merasa sesak tinggal di rumah ini sekarang. (tegas Angga lagi)
"Baik tuan (jawab bik Santi)
Bik Santi pun pergi dari sana, meninggalkan Angga dan putrinya di kamar itu. Bik Santi ingin memberikan ruang untuk ayah dan anak itu.
"Bik Santi, tolong handel semuanya ya. Saya dan Aretha duluan ke rumah papa dan mama. (ujar Angga, sambil menggendong bayi Aretha)
"Baik tuan (jawab bik Santi, dengan anggukan kepala juga)
"Satu lagi bik, tolong jangan bawa satu pun barang yang menyangkut perempuan itu. (tegas Angga lagi)
"Baik tuan (jawab bik Santi lagi dengan anggukan kepalanya pertanda mengerti dengan apa yang di katakan oleh majikannya itu)
__ADS_1
Angga pun pergi dari sana dengan membawa serta Aretha bersamanya.
Bik Santi hanya menatap majikan dan anaknya itu pergi, menatap penuh kasihan punggung laki-laki itu, karena bik Santi sendiri sangat mengerti apa yang tengah di rasakan oleh majikannya saat ini, karena sejatinya bik Santi pun sudah lebih dulu merasakan apa yang di rasakan oleh Angga dan berada di posisi yang sama seperti Angga saat ini. Ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai tanpa penjelasan yang jelas. Cuma bik Santi pada saat itu di tinggal oleh suaminya dia tidak memiliki anak seperti Angga.
Air mata bik Santi menetes dengan sendirinya tanpa di minta. Bik Santi sangat sedih melihat majikannya yaitu Angga dan juga putrinya Aretha yang masih bayi, dan masih memerlukan sosok seorang ibu.
Angga tipikal cowok yang sangat keras, kalau seandainya dia sudah menegaskan dan menekankan sesuatu, siapapun tidak akan bisa merubahnya lagi.
Bik Santi mengusap air matanya yang membasahi pipi, lalu menyegarkan hatinya sendiri. Lalu kembali membantu orang-orang yang tengah mengepak barang-barang majikannya itu untuk di bawanya ke rumah kedua orang tua Angga yang saat ini masih kosong setelah kepergian kedua orang tua Angga.
Walaupun tidak berpenghuni, rumah itu tetap di rawat oleh Angga, ada orang yang di percaya Angga untuk selalu membersihkan dan merawat rumah itu.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
__ADS_1
...Terima kasih 🙏...
...😘😘😘...