Warna Kehidupan Aya

Warna Kehidupan Aya
Episode 21


__ADS_3

Semua mata tertuju kepada Aya saat ini, Aya terdiam dan mematung. Air matanya sudah membasahi pipinya, Aya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Pikiran Aya sudah sangat kacau saat ini, dari tadi setiap orang yang dia tanyai tentang kedua orang tuanya hanya diam, mereka menggelengkan kepalanya bahkan ada yang sengaja menghindar dan juga tiba-tiba menangis sambil memeluknya, mengatakan sabar kepadanya.


Aya seperti orang yang sudah putus asa saat ini. Dari kejauhan Asha hanya menatap Aya, Asha sepertinya tidak mampu melangkahkan kakinya untuk mendekati Aya saat ini.


Saat melihat keadaan rumah Aya yang saat ini, dan juga ada kain putih di depan rumahnya Asha sudah bisa menebak apa yang terjadi saat ini. Karena itu Asha tidak mau mendekat ke Aya, Asha sudah bisa menebak pasti Aya akan bertanya kepadanya kalau seandainya dia mendekati Aya saat ini. Dan pastinya Asha tidak akan bisa menjawab pertanyaan Aya itu.


Ibu Asha bersama ibuk-ibuk yang tadinya berada di dalam rumah saat ini berjalan untuk menghampiri Aya yang diam mematung menatap rumahnya yang sudah hampir rata dengan tanah itu.


Saat sudah berada di dekat Aya, ibu Asha langsung memeluk Aya. Aya yang di pelukan langsung menoleh ke arah orang yang memeluk nya sambil berkata.


"Ibu...(ucap Aya)


Aya menyangka orang yang memeluknya adalah ibunya.


"Maaf tante Aya pikir tadi ibu (ucap Aya saat menyadari kalau yang di peluknya itu adalah ibu Asha.)


"Ya Ay gak apa-apa kok. Apa kamu sedang mencari ibu dan ayah...? (tanya ibu Asha)


"Iya Tante, apa Tante tau di mana ayah dan ibu Aya...? (ucap Aya dengan penuh harap)


"Em...ya Tante tau di mana ayah dan ibu kamu saat ini, ya udah kamu ikut Tante ya (ucap ibu Asha dengan penuh hati-hati)


"Em... baiklah Tante (ucap Aya dengan menganggukkan kepalanya)


"Ayo (ajak ibu Asha)


Ibu Asha pun merangkul Aya. Mereka pun berjalan ke arah rumah Asha yang berada tidak jauh dari sana. Karena rumah Asha itu di kelilingi tembok makanya saat Aya ada di depan rumahnya dia tidak melihat di sana juga ramai orang.


Aya tampak kaget saat sudah berada di halaman rumah Asha, di sana terdapat banyak orang dan ada bendera putih yang tergantung di tiang rumah.


Aya menghentikan langkahnya.


"Tante kenapa di sini sangat ramai, dan itu...!! (Aya menunjuk ke bendera putih yang ada di tiang rumah) Kenapa di sana di pasang bendera putih Tan. (kata Aya lagi sambil menatap ibu Asha)


Ibu Asha yang di ajukan pertanyaan seperti itu, cukup bingung untuk memberikan jawaban apa saat ini. Ibu Asha berusaha untuk tetap tenang, karena ibu Asha tidak mau membuat Aya kaget dengan semua ini.


"Aya kamu ikut Tante dulu aja ya, nanti kamu pasti tau jawabannya. (kata ibu Asha)

__ADS_1


Pikiran Aya saat ini sudah berkecamuk apa lagi Aya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya barusan.


Aya yang sudah mulai bisa menebak apa yang terjadi dengan semua yang di lihat nya, berjalan dengan cepat ke arah pintu utama rumah Asha.


Aya tidak menghiraukan lagi semua tatapan mata orang-orang kepadanya.


"Assalamualaikum...(ucap Aya saat sudah berada di depan pintu rumah)


"Wa'alaikumsalam...(jawab semua orang yang ada di dalam rumah)


Aya melihat ke arah dalam rumah, dan seketika Aya mematung menatap apa yang di lihatnya saat ini.


Dua peti yang berdampingan ada di sana dan juga orang-orang yang memegang buku Yasin. Aya menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di dalam rumah, yang saat ini juga sedang menatapnya.


Ibu Asha memegang kedua pundak Aya, untuk menguatkan Aya. Sedangkan Asha juga berdiri dan mematung di belakang ibunya, matanya terbuka lebar menatap ke dalam rumah.


Aya melangkah ke dalam rumah secara berlahan, dari mulut nya terlontar kata ibu dan ayah walaupun suaranya sangat pelan.


Aya terus melangkah berlahan, orang-orang yang ada di sana memberikan jalan untuk Aya.


Aya meraba kedua peti yang ada di dekatnya, lalu Aya melihat ke arah ibu Asha yang juga sudah berdiri di sana bersama ibuk-ibuk yang lain.


"Tante kenapa di sini ada dua peti...? emang nya ini peti apa...? (tanya Aya dengan suara yang sudah serak)


Ibu Asha berjalan dan mendekati Aya, begitu juga dengan Ayah Asha yang juga ada di sana, keduanya mendekati Aya, ibu Asha memegang tangan Aya.


"Nak kamu harus kuat ya, om yakin kamu anak yang sangat kuat. Kamu harus mengikhlaskan semuanya. Sesungguhnya hidup mati seseorang itu Allah lah yang mengaturnya. Kita semua yang ada di sini juga demikian, kita cuma bisa menunggu kapan ketentuan Allah itu dan bagaimana cara nya. Kamu mengerti kan apa yang om maksud. (kata ayah Asha)


Air mata Aya sudah tumpah, dari apa yang di katakan oleh ayah Asha Aya sudah bisa menyimpulkan semuanya.


Aya menarik nafas dalam.


"Iya om Aya mengerti (ucap Aya di sela tangisan nya)


"Ayah, ibu maafin Aya...


Aya pun menangis sambil memeluk kedua peti itu secara bergantian. Ibu Asha yang juga tidak bisa menahan air matanya berusaha menenangkan Aya.

__ADS_1


"Ay kamu harus kuat dan ikhlas, supaya ayah dan ibu mu bisa pergi dengan tenang (bisik ibu Asha)


Dan seketika tangisan Aya pun melemah, dan Aya terduduk di sisi atas kedua peti itu. Aya menatap kedua peti yang ada di depannya itu. Ibu Asha menyeka air matanya, lalu merangkul tubuh Aya.


Aya sudah diam, tidak terdengar lagi suara tangisnya, tatapan Aya saat ini kosong. Asha berjalan dan duduk di samping Aya, Asha menggenggam erat tangan Aya.


Asha sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa saat ini, melihat apa yang di alami oleh sahabatnya itu membuat Asha juga ikut terpuruk. Mata Asha juga terlihat sembab karena Asha juga tidak henti-hentinya menangis melihat Aya yang menangis sejak tadi.


Karena hari sudah mulai sore, jenazah kedua orang tua Aya pun di bawa ke masjid untuk di shalat kan. Saat kedua jenazah berada di rumah sakit kedua jenazah itu sudah di mandikan, dan dikafani terlebih dahulu itu sengaja di lakukan mengingat kondisi kedua jenazah.


Sebelum kedua peti orang tuanya di angkat untuk di bawa ke masjid Aya sudah beberapa kali memohon untuk di bukakan tutup peti, karena Aya ingin melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.


Tetapi permintaan Aya itu tidak di kabulkan oleh Ayah Asha selaku kepala desa. Ayah Asha melakukan itu semata-mata demi kebaikan Aya.


Aya menangis di dalam pelukan Asha karena Aya tidak dapat melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.


Asha dan ibunya berusaha menenangkan Aya saat ini....


...*Bersambung*...


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update setiap hari tanpa jeda....


...🤗🤗🤗...


...Vote, Like dan Komen....


...Hidupkan juga tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....


...Semoga menjadi pembaca setia dari Novel Author yang berjudul "Warna Kehidupan Aya" ini ya....


...🥰🥰🥰...


...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....


...Terima kasih 🙏...


...😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2