
Hari demi hari di lalu oleh Aya yang saat ini masih tinggal bersama kedua orang tua Asha sahabat dari kecil dan juga merupakan tetangganya.
Tidak terasa 3 bulan pun berlalu setelah musibah yang merenggut kedua orang tua Aya.
Rumah kedua orang tua Aya kondisinya masih sama, tidak ada pembangunan, cuma puing-puing bangunan sudah di bersihkan oleh Aya yang di bantu oleh warga yang lain.
Ayah Asha selaku kepala desa sudah berusaha meminta bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumah untuk Aya, tetapi karena berbagai hal sangat susah mengupayakan pembangunan kembali rumah kedua orang tua Aya itu.
Walaupun rumahnya tidak kunjung di bangun kembali, tetapi Aya sudah sangat berterima kasih kepada kedua orang tua Asha, pemerintah desa maupun yang lainnya karena mereka sudah banyak memberikan bantuan baik materi maupun tenaga.
Sore itu cuaca tidak begitu bersahabat. Hujan yang sangat deras disertai kilat serta petir melanda desa itu. Semua orang mungkin tidak menyangka akan tiba-tiba hujan sederas itu pada sorenya karena sejak pagi sampai siang hari cuaca sangat cerah tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan.
Aya yang tadinya duduk di kursi yang ada di teras rumah, buru-buru masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu rumah karena hujan yang sangat deras disertai kilat dan petir.
Aya masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi hujan yang turun dari jendela kamarnya.
Tatapan Aya memang tertuju kepada air hujan yang jauh, tetapi pikirannya sudah melayang kemana-mana, begitu banyak hal-hal yang di pikirkan oleh Aya saat ini. Termasuk bagaimana kehidupan dia kedepannya dan apa yang harus dia lakukan. (itu semua ada dalam pikirannya akhir-akhir ini)
Beberapa hari ini Aya memang sering melamun merenungi nasibnya. Kadang kalau dia tidak mendapatkan jawaban pada diri sendiri Aya pergi ke makam kedua orang tuanya dan bercerita di sana.
Aya mulai merasa tidak enak kepada kedua orang tua Asha karena sudah 3 bulan dia tinggal dengan percuma di sana. Kedua orang tua Asha memang sangat baik kepadanya, bahkan mereka memperlakukan Aya layaknya anak sendiri, dan mereka juga gak merasa keberatan atau pun mempermasalahkan kalau Aya tinggal lama di rumah mereka, tetapi akhir-akhir ini Aya merasa tidak enak sama mereka apalagi Aya sudah cukup lama tinggal di sana, dan akan menjadi beban untuk mereka.
Aya memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam. Dan tiba-tiba....
"Duaaaarrr...Duk Duk...Deeer...(suara petir terdengar sangat keras)
"Astaghfirullah ya Rabb...(ucap Aya kaget yang seketika membuka matanya dan mengurut dadanya)
__ADS_1
Aya berdiri, lalu dengan cepat menutup tirai jendela.
"Ai..Aya...kamu gak apa-apa...? (tanya seseorang dari balik pintu kamar dan itu adalah ibu Asha)
"Ya Tante Aya baik-baik aja (jawab Aya seraya berjalan ke arah pintu kamar)
Aya membuka pintu, dan terlihat lah ibu Asha yang berdiri bersama ayah Asha di sana.
"Aya baik-baik saja kok Tante, om (ucap Aya meyakinkan)
"Syukurlah kalau begitu, om sama Tante cemas tadi karena petir sangat kencang. (ucap Ayah Asha)
"Iya Ai, Tante sama om yang ada di dalam kamar aja sampai kaget dan Tante langsung teringat kamu yang tadinya ada di teras depan, makanya Tante dan om buru-buru lihat kamu. Dan syukur lah ternyata kamu sudah masuk dan ada di dalam kamar. (ucap ibu Asha seraya membelai lembut kepala Aya yang tertutup hijab)
"Ya sudah nak, kamu lanjut istirahat aja. Om sama Tante juga mau kembali ke kamar.
Lalu Ayah dan ibu Asha pun pergi dari sana.
Setelah keduanya terlihat masuk ke dalam kamar Aya pun menutup kembali pintu kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Karena matanya tidak kunjung terpejam Aya pun duduk, lalu membetulkan posisi bantal dan gulingnya, lalu Aya pun menyenderkan tubuhnya.
Aya menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan matanya.
"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan untuk hidup hamba selanjutnya ya Allah...! Hamba mohon ya Allah, berilah hamba petunjuk dari mu...(do'a Aya di dalam hatinya)
Berlahan Aya membuka matanya, lalu menatap dirinya di pantulan kaca cermin yang ada di pintu lemari.
__ADS_1
"Apa sebaiknya saya kembali ke kota saja ya...? di sana saya bisa bekerja dengan begitu saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri...! (Batin Aya)
Aya melihat kedua kakinya (bersila) di atas tempat tidur. Lalu Aya mengambil foto kedua orang tuanya yang diletakannya di meja kecil samping tempat tidur.
"Ayah ibu, Aya minta maaf ya, Aya terpaksa meninggalkan ayah dan ibu untuk sementara, dan Aya harap ayah dan ibu tidak marah kepada Aya karena nantinya Aya tidak bisa mengunjungi ayah dan ibu setiap hari seperti biasanya.Tetapi Aya janji Aya akan mengunjungi ayah dan ibu saat Aya sudah punya waktu luang. Do'a Aya ya ayah ibu semoga keputusan ini adalah keputusan yang tepat untuk Aya. Dan do'a kan juga supaya Aya bisa membangun kembali rumah kita ya ayah ibu. (Aya mengatakan itu sambil mengusap foto kedua orang tuanya)
Aya sudah terlihat cukup tegar kali ini, dan sepertinya Aya juga sudah menerima dengan ikhlas tentang takdir perjalanan hidupnya.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update setiap hari tanpa jeda....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan juga tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Semoga menjadi pembaca setia dari Novel Author yang berjudul "Warna Kehidupan Aya" ini ya....
...🥰🥰🥰...
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
...Terima kasih 🙏...
...😘😘😘...
__ADS_1