
Ring... kering...
Telepon yang ada di hadapan Frans pun berdering, dan itu membuat Frans yang tadinya sedang fokus mengerjakan pekerjaannya seketika terperanjat karena kaget.
Frans mengurut dada yang datar karena kaget. Lalu secara berlahan Frans pun mulai menggapai telepon yang masih berdering itu.
☎️ (Angga) Kemana saja kamu, sampai lama banget baru mengangkatnya...! (Ujar Angga dari sambungan telepon itu dengan nada suara yang seperti membentak)
☎️ (Frans) Ma...ma...maaf pak....(ujar Frans dengan terbata-bata karena takut)
☎️ (Angga) Keruangan saya sekarang (ujar Angga lagi tanpa menghiraukan apa yang di ujar Frans barusan)
Frans baru membuka mulutnya untuk kembali bicara tetapi sambungan telepon itu sudah terputus. Frans heran dan menatap gagang telepon yang baru saja dia jauhkan dari telinga nya.
"Habislah saya...! Sepertinya pak bos sangat marah (ujar Frans yang berbicara sendiri)
Frans meletakkan gagang telepon itu ketempat nya, lalu Frans bergegas pergi dari tempat duduknya berjalan menuju ruangan Angga yang tidak jauh dari sana, hanya beberapa langkah saja.
Frans menarik nafasnya lalu menghembuskan secara berlahan, Frans yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Angga dan bersiap untuk mengetuk pintu berusaha menenangkan dirinya sebelum masuk.
Setelah sedikit tenang, baru lah Frans mengetuk pintu ruangan bosnya itu yaitu Angga.
Frans mengetuk pintu tiga kali, lalu setelah mendengar suara yang mempersilahkan dia masuk barulah Frans membuka berlahan pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Frans berjalan berlahan mendekati Angga lalu berdiri di sisi meja kerja Angga dan menghadap kepadanya.
"Ada yang bisa saya bantu pak...? (tanya Frans dengan menatap ke arah Angga yang saat ini hanya fokus pada berkas-berkas pekerjaan yang ada di hadapannya)
"Apa kamu sudah selesai menata ulang jadwal saya...? (tanya Angga tanpa melihat ke Frans yang ada di hadapannya)
"Sudah pak saya sudah menyelesaikan semuanya. (Jawab Frans tegas)
"Baik kamu boleh keluar sekarang (ucap Angga lagi)
"Apa...! itu aja, jadi gue kesini dengan buru-buru dan gemetaran hanya untuk di tanya itu saja...! wah...pak bos memang aneh. (gumam Frans dalam hati)
Frans masih diam terpaku berdiri di sana, dia menggelengkan kepalanya larut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih di sini...! apa kamu gak denger apa yang saya katakan barusan. (bentak Angga dengan menatap tajam kepada Frans)
Frans seketika kaget dengan suara bentakan Angga, lamunannya juga seketika Buyar berhamburan.
"Ma...ma... maaf pak, ba... baik saya per... permisi...(Ujar Frans dengan terbata-bata)
Angga tidak berkata apa pun dia hanya menatap Frans dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Dengan tubuh yang bergetar dan keringat dingin yang mulai muncul, Frans pun langsung berbalik badan ingin pergi dari sana, tetapi karena tergesa-gesa Frans tanpa sengaja menabrak kursi yang ada di depan meja kerja Angga.
"Maaf pak (ujar Frans dengan gugup)
Lalu dengan cepat dia membetulkan posisi kursi itu kembali.
"Saya permisi pak (ujar Frans lagi, dan yang jelas tidak di tanggapi oleh Angga karena Angga hanya menatapnya saja)
Frans berlalu pergi dari sana, dengan langkah seribu Frans pun keluar dari ruangan Angga.
Frans baru bisa bernafas lega setelah dia berhasil menutup kembali pintu ruangan Angga, Frans berdiri di depan pintu itu sambil mengurut dada dan mengatur pernafasannya.
Di dalam
Angga kembali melanjutkan pekerjaannya dan kembali fokus dengan berkas yang ada di hadapannya. Satu persatu berkas pekerjaan yang ada di hadapannya di cek dengan teliti oleh Angga, sama seperti biasanya.
Dan beberapa jam pun berlalu, Angga melihat jam yang melingkar di tangannya yang kekar itu, jam bermerek hadiah terakhir dari kedua orang tuanya yang selalu digunakannya sejak kepergian kedua orang tuanya.
Angga mulai membereskan meja kerjanya, menyusun dengan rapi tumpukan berkas yang ada di atas meja itu, mematikan layar komputer yang juga ada di atas meja itu.
Setelah semuanya terlihat rapi kembali, Angga meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja, mengambil kunci mobilnya yang juga ada di sana.
Angga bergegas, berjalan keluar dari dalam ruangannya.
"Siang pak (ujar Frans saat melihat Angga dan langsung berdiri dari duduknya)
"Ya siang... Oh ya, Kamu kosong kan jadwal saya hari ini saya mau pulang, karena saya ada urusan keluarga. (ujar Angga)
"Baik pak. (jawab Frans)
__ADS_1
Angga pun berlalu pergi dari sana setelah mendengar jawaban dari Frans sekretarisnya.
Frans hanya menatap heran kepada bosnya itu, berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran.
Frans orang baru di perusahaan yang di pimpin oleh Angga, jadi otomatis Frans belum mengenal baik atasannya itu yaitu Angga.
Sebenarnya Frans sudah mencoba mencari tahu tentang Angga, dari para karyawan yang ada di perusahaan itu namun Frans tidak mendapatkannya secara detail bahkan untuk makanan kesukaan Angga pun Frans tidak mengetahuinya dari para karyawan perusahaan karena kebanyakan dari para karyawan perusahaan mereka juga tidak mengenal baik sosok pemimpin mereka. Karena Angga tipikal orang yang tidak mau membawa urusan keluarga ke dalam perusahaan, bahkan putrinya sendiri Angga belum pernah membawanya ke perusahaan.
Frans melihat jam yang melingkar di tangannya
"Wah gak terasa ternyata sudah waktunya jam makan siang. (Gumam Frans pada dirinya sendiri)
Tanpa berbasa-basi lagi Frans mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerja lalu Frans pun berjalan ke arah lift, Frans masuk ke dalam sana lalu turun ke bawah ke lantai 1 yaitu loby perusahaan.
Setelah sampai di lantai 1 perusahaan Frans segera menuju tempat makan yang ada di dalam perusahaan itu yang memang sudah di sediakan oleh pihak perusahaan untuk memudahkan seluruh karyawan supaya tidak susah lagi untuk mencari makan di luar perusahaan dan harus mengeluarkan uang lagi untuk biaya makannya.
Sesampainya di sana, Frans tampak kagum dengan semua itu Frans tersenyum dan merasa sangat bersyukur bisa bekerja di sana, walaupun pimpinan perusahaan terlihat dingin namun dia sangat peduli dengan semua karyawannya, salah satunya dengan menyediakan tempat untuk makan para karyawan perusahaan secara gratis.
Frans mulai mengambil makanan yang ingin dia makan, ini adalah pengalaman pertama untuk Frans, karena Frans terbilang orang baru di perusahaan itu dan juga Frans belum memiliki pengalaman bekerja di mana pun, apalagi sebagai sekretaris.
Frans duduk di salah satu kursi yang kosong, lalu Frans pun mulai menikmati makanannya.
Berangsur-angsur tempat makan itu mulai ramai namun Frans tidak menghiraukan itu dia hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....
...🤗🤗🤗...
...Vote, Like dan Komen....
...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....
...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....
...Terima kasih 🙏...
__ADS_1
...😘😘😘...