Warna Kehidupan Aya

Warna Kehidupan Aya
Episode 89


__ADS_3

Pada pagi harinya, Aya dan Angga berpamitan untuk pulang ke kota kepada ayah dan ibu Asha sahabat baik Aya.


Sebelum saling berpamitan Angga juga sempat mengobrol berdua dengan ayah Asha, Angga juga memberikan sejumlah uang kepada ayah Asha untuk kepergian mereka nanti ke acara pernikahan nya dan Aya.


Angga sengaja mempercayakan segera nya kepada ayah Asha karena Angga tahu kalau dirinya nanti tidak akan bisa mengurus itu semua.


Aya dan Angga sudah berada di dalam mobil, Angga sudah duduk di bangku kemudi sedangkan Aya sudah duduk di bangku samping kemudi. Aya melambaikan tangannya kepada ayah dan ibu Asha lalu mobil yang di kendarai oleh Angga mulai bergerak berlahan meninggalkan kediaman Asha.


Sepanjang perjalanan menuju bandara Aya maupun Angga lebih banyak diam, bahkan saat sudah berada di dalam pesawat pun mereka berdua juga tidak banyak mengobrol, mereka berdua asyik dengan kesibukan masing-masing. Angga sibuk dengan ponselnya dan Aya sibuk dengan buku yang dia baca saat ini.


Tidak butuh waktu lama pesawat yang mereka tumpangi pun mendarat, dan saat ini Angga dan Aya berjalan berdampingan dengan membawa tas pakaian masing-masing menuju parkiran bandara di mana Angga menitipkan mobil nya di sana, Angga sengaja menitipkan mobil nya di sana untuk memudahkannya kembali ke rumah Tampa harus meminta di jemput atau menunggu jemputan.


"Sudah...?


Tanya Angga saat Aya sudah duduk dengan benar kembali di bangku mobil tepat di sampingnya setelah meletakkan tas pakaiannya di kursi belakang mobil.


"Ya mas sudah.


Aya berkata sambil menganggukkan kepalanya pelan, lalu Aya memasangkan seatbelt dan bersandar di sandaran bangku mobil.


Mobil mereka pun mulai melaju, meninggalkan kawasan bandara.


Angga menjalankan mobilnya secara berlahan, Angga tampak sangat kelelahan saat ini ini tampak dari raut wajahnya yang dan tatapan matanya yang sayu, makanya dia memacu mobilnya dengan berlahan.


"Kenapa kita lewat jalan ini mas...? Kan seharusnya kita ambil jalan yang satunya lagi, jalan itu lebih dekat loh mas untuk menuju kost saya.


Dengan heran Aya menatap Angga. Namun Angga yang di tatap hanya fokus melihat ke jalanan yang ada di depan.


"Kita langsung pulang ke rumah saja, mulai hari ini kamu tinggal di rumah kita. Sekretaris saya dan juga Bik Santi sudah memindahkan semua barang-barang yang kamu butuhkan ke rumah kita.


Tanpa menoleh sedikit pun Angga mengatakan itu dan itu membuat Aya membelalakkan matanya karena kaget.


"Tunggu, maksud mas kita tinggal di rumah yang sama...? (Aya bertanya untuk mempertegas apa yang dia dengar barusan) Tapikan mas kita belum...


Aya tampak tidak sanggup melanjutkan perkataannya, dia saat ini menatap Angga dengan sorot mata yang memiliki beribu pertanyaan.

__ADS_1


"Ya saya tahu kita belum menjadi suami istri, tapi apa salahnya kamu tinggal di rumah kita sebelum itu, toh nantinya kamu juga akan pindah ke sana...!


"Ya sih mas, tapi kan gak harus sekarang juga.


"Tapi kan pada akhirnya akan pindah juga...! Sudah lah itu kan hanya masalah waktu saja, toh kamu pindah sekarang atau nanti kan sama saja.


"Tapi...


"Sudah lah gak usah banyak tapi-tapi. Kamu ikut saja apa kata saya. (tegas Angga yang hanya menoleh sedikit ke Aya yang menatapnya)


Aya melengos, lalu menggelengkan kepalanya, dia merasa heran dengan tindakan Angga yang selalu saja mengambil keputusan tanpa harus bertanya kepadanya terlebih dahulu. Aya melipat tangannya, diam dan menatap lurus ke depan.


Di dalam hati nya Aya mengumpat kesal kepada Angga, Aya tampak tidak suka dengan semua keputusan yang selalu di ambil oleh Angga seorang diri tanpa meminta persetujuan dari dia dulu.


Aya ingin sekali protes namun saat melihat sorot mata Angga membuat nyali Aya langsung ciut, dan semua kata-kata yang ingin di lontarkan nya seketika lenyap dalam pikirannya, seakan pergi terbang entah kemana.


Aya masih saja cemberut dia tampak masih belum terima dengan keputusan Angga yang meminta dia untuk tinggal satu rumah dengannya dari sekarang.


Mobil mereka berhenti karena lama merah. Setelah menarik rem tangan mobil lalu Angga menoleh ke arah Aya.


Aya tidak menjawab dia masih saja diam, tatapan nya lurus ke depan dan sedikit pun Aya tidak menghiraukan Angga yang menatapnya.


Baru saja Angga ingin membuka mulut lagi, untuk mengatakan sesuatu namun lampu jalan pun sudah berganti menjadi hijau, dan dengan cepat Angga pun langsung menjalankan kembali mobil nya.


Suasana di dalam mobil itu hening, tidak ada satu pun di antara mereka memulai berbicara. Dan tidak lama mobil yang di kendarai Angga pun mulai memasuki kawasan rumah nya, lalu mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah.


Angga mematikan mesin mobilnya setelah dia memastikan mobilnya terparkir dengan benar.


"Kamu tenang saja, walaupun kita tinggal satu rumah saya tidak akan bertindak di luar batas kepada kamu, lagian di rumah sini ramai bukan hanya kita berdua saja yang tinggal di sini, ada Ara bik Santi dan dua mbak pekerja rumah tangga. Jadi kamu gak usah menghawatirkan hal-hal yang tidak-tidak.


Setelah mengatakan itu Angga pun langsung keluar dari mobil, meninggalkan Aya yang masih duduk diam di dalam sana.


Beberapa detik kemudian Aya pun menyusul turun, dia berdiri di sisi mobil setelah menutup kembali pintu mobil dengan benar, Angga memutari mobil mendekat ke Aya dengan memegang dua tas pakaian, tas pakaian dirinya dan juga Aya yang di ambilnya di bangku belakang mobil.


"Ayo...

__ADS_1


Angga pun melangkah berjalan menuju pintu utama rumah. Dan tanpa berkat apa-apa lagi Aya pun mengikuti langkah kaki Angga, Aya berjalan tepat di belakang Angga. Aya tampak melangkahkan kakinya dengan sangat terpaksa.


Setelah pintu rumah di buka dan mengucapkan salam keduanya pun masuk ke dalam rumah. Mbak Ami yang membukakan pintu langsung mengambil alih dua tas yang di pegang Angga.


"Di mana Ara mbak...?


Tanya Angga karena Angga tidak melihat Ara.


"Non Ara dan bik Santi pergi ke taman belakang kompleks tuan, mereka menghadiri acara ulang tahun putri pak Arya (tetangga rumah Angga)


"Oh...ya sudah, tolong kamu antarkan nyonya Aya ke kamarnya yang sudah di siapkan. Saya mau istirahat dulu.


"Nyonya...(kata hati Aya)


Aya yang berdiri di samping Angga tampak kaget, dia menatap tajam kepada Angga. Tatapan Aya mengandung beribu pertanyaan untuk Angga, Dan Angga menyadari itu semua, namun Angga hanya diam dan berpura-pura tidak menyadarinya.


"Baik tuan, mari nyonya...


Mbak Emi langsung mempersilahkan Aya, keduanya pun berjalan berdampingan sedangkan Angga hanya menatapnya saja sambil tersenyum sok Coll.


...*Bersambung*...


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya, karena jejak yang di tinggalkan itu yang membuat Author semakin semangat 💪 untuk menulis ✍️ dan bisa Update lagi....


...🤗🤗🤗...


...Vote, Like dan Komen....


...Hidupkan tanda Favorit ❤ biar ada notif yang masuk setiap kali Author update....


...Nb: Tolong tinggalkan komen yang membangun ya, jangan komen yang membuat Author nya down....


...Terima kasih 🙏...


...😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2