
Marsha tengah memilah milih beberapa keperluan yang akan dia beli di sebuah swalayan. Sambil mendorong troli, dia berpindah dari lorong satu ke lorong lainnya melihat dan mencari produk yang dicarinya.
Saat tengah asik memilih, tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang.
"Siapa?" Kata Marsha. Seseorang itu seperti menahan tawa. Marsha diam selama beberapa detik, lalu dia segera menginjak kaki orang tersebut membuat orang itu mengaduh dan melepaskan tangannya di mata Marsha.
"waddow!!!" teriak orang itu.
Marsha segera berbalik badan dan mencari tahu siapa yang sudah mengisenginya.
"Mario??!!" Teriak Marsha.
"Iya, gue!!!" Kata Mario sambil cengengesan.
"Elu sih, ngapain juga pake ngisengin gue!!"
"Abis elu asyik banget belanjanya sampe gak nyadar ada gue!" Kata Mario.
"Iih, emang siapa elo sampe gue harus nyadarin keberadaan elo?" Sengit Marsha.
"Elo sendiri, Sha?" Tanya Mario.
"Berdua sama bayangan!" jawab Marsha asal.
"Ahh, elo, gue temani elo belanja ya! sini gue dorong!" Kata Mario sambil mengambil alih troli Marsha.
"Terus elo gak belanja?" Tanya Marsha.
"Gue tadi cuma mau cuci mata sambil beli minuman, terus lihat elo, ya udah gue samperin."
Mereka bercerita sambil mengelilingi swalayan. Kadang berhenti lama disalah satu rak, kemudian berpindah ke tempat lain. Sampai semua yang Marsha cari sudah berada di dalam troli.
"Udah semua, gue mau bayar dulu!" Kata Marsha. Mario mengangguk dia segera mengarahkan troli ke kasir. Tak perlu mengantri untuk membayar karena kondisi swalayan yang tak terlalu ramai.
"Sha, elo sudah ini mau kemana? ada acara gak?" tanya Mario.
"Gak ada sih, paling langsung pulang aja, kenapa emang?" Tanya Marsha balik.
"Minum yuk, kita nyantai di cafe depan!" Ajak Mario saat Marsha sudah selesai membayar semua belanjaannya.
"Hmm, boleh! Tapi gue taroh belanjaan dulu di mobil ya!" Kata Marsha. Mario mengangguk, dia membantu Marsha membawa bungkusan belanjaannya.
"Mobil elo?" Tanya Mario saat dilihatnya Marsha membuka bakasi sebuah mobil mewah.
"Ya gak lah! Punya orang tua gue." Jawab Marsha.
"Berati ortu elo tajir juga punya mobil keren begini."
"Udah ah, jadi ngafe gak?" Tanya Marsha.
"Eh, jadi dong!" Kata Mario.
Mereka segera menuju salah satu cafe yang ada di depan jalan.
"Gimana kerja di bagian yang baru?" Tanya Mario sambil mengaduk coffe ice miliknya.
"Ya gitu deh, makin sibuk kerjaannya banyak!" Jawab Marsha sambil menyeruput minuman dingin yang ia pesan.
"Tapi elo cocok aja kan sama teman seruangan?"
"Hmm, sejauh ini masih belajar sendiri, soalnya mereka juga pada sibuk kan?"
"Iya juga sih!, Btw elo tinggal dimana sih, Sha? Sekitar sini?" Tanya Mario penasaran.
"Gak jauh dari sini sih!"
"Kapan-kapan ajak gue maen ke rumah elo dong."
"Gak janji ya, soalnya kakak gue galak! males banget gue!"
"Oya? Kakak elo yang kemaren nelpon waktu kita bonceng itu?" Tanya Mario.
Marsha mengangguk.
"Elo berapa sodara sih, Sha?" Tanya Mario lagi.
"Cuma dua sih, Yo. Kakak gue cowok,dan gue anak kedua cewek. Kalau Elo?"
"Sama kok kaya Elo!" Jawab Mario pendek.
__ADS_1
"Sha, elo apa aslinya emang kaya gini atau sama gue aja?" Tanya Mario penasaran.
"Apa?" Tanya Marsha bingung.
"Maksud gue, elo itu cuek, jarang nanya kalau ga di tanya. Terus elo juga gak pernah terbuka siapa elo, bahkan sampai hari ini gue juga gak tau rumah elo, padahal udah hampir 6 bulan kita temenan." Kata Mario.
Marsha tak langsung menjawab, dia kembali menyeruput minumannya.
"Hmm, Gue emang paling males bawa teman ke rumah, paling kalau ketemu ya di luar, gak mau ribut sama pertanyaan dari keluarga gue yang terlalu over protective. Lagi pula gue senang kalau yang mau temenan sama gue, ya karena gue, bukan hal lainnya."
"Hal lainnya? maksudnya?"
"Misalnya, karena kakak laki-laki gue ganteng, teman cewek pada dekatin gue biar dicombalangin! Intinya dekatin gue karena ada maunya gitu!"
"Emang ortu elo kerja apa, Sha?"
"Kerja cari duit!" Jawab Marsha.
Mario tertawa mendengarnya. Dia tau Marsha seperti tidak ingin bercerita tentang dirinya dan keluarganya.
"Oke deh, gue gak bakal tanya lagi!" Kata Mario. Dia menyeruput minumannya sambil menatap gadis di hadapannya. Marsha ini cantik. Tidak terlalu tinggi, masih bisa di bilang imut. Jarang dandan, tapi gak pucat atau kusam, kulitnya putih bersih.
"Sha, kalau gue ajak elo jalan boleh gak? Kadang gue suntuk banget pengen jalan gak ada teman."
"Emang elo gak ada teman nongkrong?"
"Ada, tapi ya sesekali. Soalnya gue juga jarang kemana-mana. Pulang kantor ya bakal langsung pulang."
"Hmm, boleh sih, gue juga kadang kemana-mana sendiri."
"Elo gak pacaran Sha?" Tanya Mario.
"Sekarang belum, gak tau nanti, gue punya teman aja sudah ribet, apa lagi kalau mesti pacaran! Bikin mumet!"
"Ribet sama kakak elo?"
"Ho oh!"
"Jadi penasaran gue sama kakak elo!"
"Gak usah penasaran, nanti juga lama-lama elo tau! Eh, gue laper ni, pesan makan yuk sekalian!" Kata Marsha.
"Btw kok elo bisa nyasar kesini? bukannya rumah elo berlawanan arah?" Tanya Marsha setelah waiter itu pergi.
"Gue tadi abis ketemu orang dekat sini, terus pulang mampir bentar mau beli minum, dan ternyata ada elo di dalam."
"Oowh!" Jawab Marsha pendek.
"Elo gak mau nanya gue apa gitu, Sha? pengen tau tentang gue?" Tanya Mario. Marsha tergelak. Sudah berkali-kali Mario mengatakan hal itu padanya.
"Pengen banget gue tanyain ya?" Tanya Marsha sambil tersenyum.
"Gue merasa elo kaya ogah dekat sama gue karena seperti gak mau tau apapun tentang gue gitu!" Kata Mario lagi.
"Bukan gitu, gak semua orang senang di tanya siapa keluarganya, anak siapa, makanya gue gak pernah mau nanya, selagi gue nyaman sama seseorang, gue pasti bakal temenan kok, tanpa peduli apapun latar belakangnya." Kata Marsha.
"Dan elo nyaman gak temenan sama gue?" Tanya Mario penasaran.
"Kalau gue gak nyaman, gue gak bakalan makan bareng elo sekarang!" Kata Marsha. Mario terkekeh mendengarnya.
"Thanks ya, baru kali ini gue nemu cewek unik kaya elo!" Kata Mario.
"Gak antik sekalian?" Tanya Marsha, lalu mereka tertawa bersama.
Waiter datang mengantarkan pesanan mereka.
"Yuk makan! kalau udah dingin gak enak." Kata Marsha sambil menyuap makanannya. Mario mengikuti Marsha.
"Sha, kok elo bisa cepat gitu ya dipindahin ke bagian lain?" Tanya Mario.
"Emang kenapa?"
"Yah, kan elo baru itungan bulan, ada yang bertahun-tahun tapi masih aja di meja yang sama dari pertama masuk kerja."
"Hmm, gue juga gak tau, tapi kata pak Ronald gue sengaja dipindahin buat ngurus proyek baru, dan gue dianggap mampu!"
"Mungkin karena elo ikut rapat waktu itu? Eh, tapi beneran elo gak pernah jalan sama pak Andrew kaya yang gue pernah bilang gue lihat elo sama pak Andrew." Tanya Mario penasaran.
"Ih, capek deh gue kasih tau!" Kata Marsha malas membahas hal itu lagi.
__ADS_1
"Emang elo gak naksir sama pak Andrew? masih bujang loh, kan cewek-cewek banyak banget di kantor langsung nyari perhatian setiap kali pak Andrew lewat."
"Enggak!" Jawab Marsha cepat.
"Serius?" Tanya Mario tak percaya.
"Sumpah!" Jawab Marsha sambil mengangkat kedua jarinya.
"Gimana gue naksir, orang dia kakak gue!" Kekeh Marsha dalam hati.
Mario geleng-geleng tak percaya, semakin salut dengan Marsha yang sama sekali tak tertarik dengan CEO mereka yang ganteng juga kaya dan memiliki jabatan tinggi.
"Emang tipe Elo yang gimana kalau yang seperti pak Andrew aja elo gak naksir?" Tanya Mario.
"Gak ada kriteria, yang penting gue nyaman, cocok, Udah!!!" Jawab Marsha, karena jujur dia sendiri tidak pernah membayangkan lelaki seperti apa yang dia inginkan menjadi pacarnya nanti.
"Masa sih?" Tanya Mario semakin tak percaya.
"Terserah elo mau percaya apa gak! Karena gue sendiri juga gak pernah mikirin hal itu!" Kata Marsha sambil terus menikmati isi piringnya yang tinggal sedikit.
"Ni cewek!!! Beneran Antik!" Fikir Mario.
"Elo udah makannya? Eh, gue pengen bungkus dah, elo tunggu bentar ya." kata Marsha sambil berjalan menuju kasir. Dia ingin membawakan untuk mama dan Andrew yang punya selera sama dengannya. Sekalian membayar makanan yang tadi sudah dia pesan bersama Andrew.
"Elo pesan buat siapa?" Tanya Mario.
"Buat kakak gue!"
"Elo dekat banget sama kakak elo itu?" Tanya Mario.
"Dia yang paling ngertiin gue!" Jawab Marsha. Mario mengangguk.
"Berati dekatin ni cewek harus dekatin kakaknya dulu, tapi kan kakaknya overprotektif banget! Baru gue bonceng anak sudah di telpon!" Gumam Mario.
"Hei, Lo ngomong apa?" Tanya Marsha yang melihat Mario menggumam.
"Gak, gak pa-pa!" Jawab Mario. Marsha mengernyit.
Waitress datang mengantarkan pesanan Marsha.
"Elo dah selesai, kita pulang sekarang nya, udah lumayan lama gue keluar!" Kata Marsha.
"Udah kok! gue mau bayar dulu!" Kata Mario sambil beranjak.
"Udah gue bayar tadi! udah ah, langsung pulang!" Kata Marsha sambil bangkit dari duduknya.
"Eh, kan gue yang ngajak, kok elo yang bayar? gue kan jadi gak enak!" Kata Mario.
"Udah, gak pa-pa!" Kata Marsha cuek.
"Elo kirim rekening, nanti gue transfer!" Kata Mario.
"Udah Mario!!! gak perlu! gue gak Keberatan kok bayarnya. Nanti lain kali bisa gantian." Kata Marsha.
"Hmm, ya udah deh, tapi lain kali gue bakal traktir elo ya!" Kata Mario senang, artinya akan ada kesempatan lain untuk dia pergi bareng Marsha.
"Iya! Btw gue langsung ke mobil ya, elo tadi pake apa? motor?" Tanya Marsha.
"Iya, gue pake motor! tuh!"
"Oke, kalau gitu gue duluan ya!" Kata Marsha. Mario mengangguk. Marsha segera berjalan menuju tempat dia memarkir mobilnya. Saat dia hendak membuka pintu mobil, seseorang disampingnya nyeletuk.
"Jalan sama cowok lain lagi? gampang banget!"
Marsha menoleh kepada seorang lelaki yang berada di dalam mobil yang terparkir disamping mobil Marsha. Dia langsung memandang tak suka begitu tau siapa yang sudah nyeletuk sembarangan.
"Maksud elo apa?" Tanya Marsha sengit.
"Kenapa? mau gue ulang lagi!" Katanya sambil tersenyum licik.
"Elo?!" Kata Marsha sambil menunjuk wajah Bertrand.
"Apa?" Tantang Bertrand.
Marsha mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. Dia menarik napas.
"Gue gak ada urusan sama elo, buang-buang waktu meladeni lelaki sok arogan, songong, tapi mulutnya lemesss bangetttt!!!" Kata Marsha sambil membuka pintu mobil dan segera menutupnya.
"Hei, maksud elo apa?" Tanya Bertrand sambil keluar dari dalam mobil dan menggendong jendela mobil Marsha. Marsha mengacuhkan Bertrand, dia menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya. Marsha melirik spionnya, dia tersenyum sinis melihat Bertrand yang sedang meneriakkan sesuatu sambil menunjuk mobilnya.
__ADS_1
...***...