
Marsha baru saja selesai mengemas belanjaannya. Dia baru saja pulang dari supermarket yang tak jauh dari apartemen nya. Sementara Bertrand sedang tidak ada di apartemen. Tadi, saat Marsha berangkat ke supermarket, Bertrand juga berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus ia selesai kan, sehingga saat weekend begini pun dia tetap berangkat bekerja. Akhir-akhir ini Bertrand juga sering lembur dan pulang malam.
"Bosan sekali, mau ngapain yaa? " Gumam Marsha. Tadinya Marsha akan mengunjungi orang tuanya, ternyata mama dan papanya ada acara di luar kota. Begitu juga dengan orang tua Bertrand. Ada relasi yang mengadakan resepsi pernikahan anaknya. Sementara ART harian yang biasa bantu-bantu juga izin karena anaknya sakit. Jadilah Marsha hanya seorang diri di apartemennya.
"Beres-beres lemari ajalah! dari pada bengong ini, lagi pula tadi udah beli makanan buat makan siang nanti!" Marsha segera beranjak ke kamarnya.
Marsha segera beranjak ke kamar menuju walking closed. Dia mulai merapikan lemari pakaian. Dimulai dari lemari Bertrand. Kemudian lemari pakaian nya sendiri. Menyisihkan pakaian yang sekiranya tidak lagi di pakai. Biar nanti bawa ART nya.
Selesai merapikan pakaian. Marsya lanjut merapikan laci-laci yang ada di bagian bawah.
saat merapikan laci disisi lemari Bertrand, Tanpa sengaja sebuah foto jatuh diantara tumpukan map. Marsha mengambil foto. Sebuah foto polaroid. Ada Bertrand dan wanita yang bersamanya saat mereka ke Paris dulu, saling berangkulan dan tertawa dengan ekspresi bahagia.
Entah kenapa ada yang menyesak di dadanya saat melihat foto itu. Tak ingin lebih lama lagi, Marsha mengembalikan foto itu ke tempat nya semula.
Marsha berpindah merapikan laci disisi lemari pakaiannya. Membuka satu persatu amplop dan map yang ada di dalamnya. Sampai akhirnya Marsha menemukan buku nikahnya bersama Bertrand. Di bukanya buku nikah tersebut, tampak pas foto nya dan pas foto Bertrand yang bersanding disana, tertulis jelas namanya dan nama Bertrand di sana. Dia mengambil kertas yang juga terselip di map yang sama dengan buku nikahnya.
Perjanjian Pra nikah yang dulu disepakati nya bersama Bertrand. 1 Tahun. Waktu yang disepakati untuk menjalani pernikahan pura-pura. Bukan! Pernikahan ini sungguhan, sah secara hukum dan negara. Tapi dia dan Bertrand yang membuat perjanjian jika pernikahan ini berbatas waktu dan berpura-pura menjadi suami istri pada umumnya di hadapan orang lain.
Marsha melihat tanggal pernikahan yang tertera. Sudah lebih dari delapan bulan berlalu. selama itu juga dia dan Bertrand bersandiwara. Membohongi kakek dan orang tuanya, juga saudaranya, bahwa pernikahannya berjalan semestinya.
Marsha menarik napas panjang, dan menghembuskan nya perlahan. Entah apa yang terjadi di sisa waktu perjanjian itu. Mungkin Bertrand akan kembali bersama perempuan yang saat itu bersamanya di Paris. Lalu dia sendiri, Ahh! Marsha tidak punya bayangan sama sekali tentang masa depannya setelah ini. Dia tidak bisa membayangkan reaksi keluarganya nanti saat berpisah dengan Bertrand. Entah drama apa yang akan Marsha sajikan nanti untuk menyelesaikan semua yang sudah ia lakukan.
Marsha kembali merapikan semuanya. Ia melihat jam yang ada di ponselnya, sudah hampir jam dua, dan ia melewatkan waktu makan siangnya.
---____---
Marsha melihat jam di atas nakas. Sudah hampir jam 5, berati hampir dua jam ia tertidur. Tadi, setelah makan siang, Marsha merasa kepalanya sedikit pusing, setelah meminum aspirin, ia malah ngantuk. Beruntung saat bangun ia merasa sudah baikan kembali.
Marsha bangkit, merapikan tempat tidurnya. Setelah itu meraih ponselnya dan melakukan sesuatu disana. Marsha sedang tidak punya semangat untuk memasak, jadi ia putuskan memesan makanan siap antar. setelah itu ia kembalikan lagi ponselnya ke tempat semula. Ia butuh berendam untuk mengembalikan semangatnya sembari menunggu pesanannya di antar oleh kurir.
__ADS_1
---___---
Bertrand melihat jam yang melingkar di tanggannya. Sudah hampir jam 5 sore. Dia menggeliat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Pada saat akhir pekan begini, bukannya bersantai, justru hampir seharian, sejak pagi, Bertrand berada di kantor, sibuk berkutat dengan laptop dan berkas-berkas dan dokumen yang ada di meja kerja ruang kerjanya.
Banyak pekerjaan yang harus Bertrand selesaikan, dan dia harus kejar-kejatan dengan waktu. Ini adalah tantangan dari kakek. Demi bisa mewujudkan keinginannya.
Bertrand merapikan berkas-berkas dan dokumen tersebut, memilah beberapa yang akan di bawa pulang, kemudian memasukan ke dalam tas kerjanya. Dia akan melanjutkan sebagian kerjaannya nanti malam di apartemen nya.
----____----
Marsha baru melangkah ke luar dari kamar, saat dilihatnya Bertrand tengah tersandar di sofa.
"Kamu kapan pulang? udah lama? " sapa Marsha.
Bertrand mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis.
Marsha melihat ada bungkusan di atas meja.
"itu bungkusan apa? "
"Tadi ada kurir di depan pintu waktu aku baru nyampe, katanya kamu yang pesan, udah tekan bell gak ada yang buka pintu, pas telfon juga gak di angkat. Jadi aku yang terima! " Jelas Bertrand. Marsha hanya mengangguk mendengar penjelasan Bertrand.
"Mau aku buatin minum? " Tawar Marsha.
"Boleh, buatin minum yang segar yaa. " Pinta Bertrand.
Marsha kembali mengangguk, Ia mengambil bungkusan yang di atas meja, lalu membawanya ke dapur. Sementara Bertrand bangkit menuju kamarnya. Ia butuh mandi segera.
---____---
__ADS_1
Bertrand memperhatikan Marsha yang lebih banyak diam. Sebenernya akhir-akhir ini Bertrand merasa Marsha sedikit lebih pendiam. Jarang memulai pembicaraa jika tidak di mulai. Tidak pernah lagi membantah obrolan Bertrand. Terkadang Bertrand juga bisa kangen dengan sifat Marsha yang dulu. Jutek dan Nyolot.
Bertrand menutup laptopnya, selesai makan malam tadi, ia melanjutkan lemburannya yang masih belum selesai. Saat masuk kamar, Bertrand melihat pintu balkon yang terbuka, Bertrand melangkahkan kakinya kesana, tampal Marsha yang duduk sendiri di satu-satunya sofa yang ada di sana sambil menatap langit. Dia mendudukan dirinya di samping Marsha, Marsha menoleh sekilas, dan kembali menatap langit.
"Lagi ngapain?" Tanya Bertrand.
"Lihat bintang!" Bertrand mndongakkan kepalanya melihat ke langit, langit sedang cerah, sinar bintang terlihat gemerlap ditemani bulan yang sempurna.
"Kamu kenapa? ada masalah? " Tanya Bertrand fokus menatap Marsha.
Marsha menoleh saat mendengar pertanyaan Bertrand.
"apa? " Tanya Marsha balik.
"Aku lihat kamu beda, kamu jadi pendiam, ini kaya bukan kamu, kamu kenapa? kamu lagi ada masalah? kamu bisa cerita ke aku, siapa tau aku bisa bantu. "
"Gak, biasa aja" Jawab Marsha singkat.
"Tapi gak biasanya kamu gini, akhir-akhir ini kamu lebih kalem, gak kaya Marsha yang aku kenal."
"Bukannya kita emang gak saling kenal ya? Kita cuma saling tau beberapa hal, dan itu gak bisa di bilang kenal. "
Bertrand menghela nafasnya. Sepertinya benar, ada sesuatu yang terjadi dengan Marsha. Tapi sepertinya gadis ini tidak ingin membaginya.
"Udah malam, masuk gih, nanti kamu masuk angin kelamaan diluar. " ajak Bertrand.
Tapi Marsha hanya diam. Bertrand menunggu beberapa saat. Tapi tak ada pergerakan. Sampai akhirnya ditarik nya pelan tangan Marsha, di tunggunya hingga Marsha mengalah dan mengikuti Bertrand.
---___---
__ADS_1