
"Sha, hari ini mas pulang telat, mungkin agak larut malam, tapi nanti diusahain lebih cepat, kamu gak pa-pa sendirian? atau mau ke rumah kakek? nanti pulangnya biar di jemput. "
Bertrand dan Marsha tengah sarapan. Setelah masalah earphone tempo hari, Bertrand berhasil merubah panggilan Marsha terhadap nya. Sebenarnya bukan hal sulit juga buat Marsha, karena dia juga bisa menyapa aku saya kamu sih jika berada di lingkungan keluarga atau lingkungan formal lainnya, juga saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Hanya saja, Dia udah terbiasa ngomong elo gue dengan Bertrand, dan melihat kembali awal hubungan mereka, Marsha hanya sedikit aneh pada awalnya dengan sapaan itu.
Marsha menguyah perlahan makanan yang ada di mulutnya hingga habis, sebelum menjawab Bertrand.
"Langsung pulang kesini aja Mas, lagi pula capek kalo harus bolak balik, besok masih harus ke kantor. Aku pengen istirahat lebih cepat, kerjaan di kantor juga lagi banyak! "
Bertrand mengangguk. "Ya udah, tapi kalo nanti kamu berubah pikiran, tolong kabari mas ya kamu lagi dimana. " Marsha hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bertrand. Melanjutkan sarapan, kemudian setelahnya keduanya berpisah di basement untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing.
---____---
"Mas, aku udah di rumah."
__ADS_1
Pesan singkat Marsha masuk di tengah kesibukan Bertrand dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
Bertrand menyempatkan membaca dan membalas pesan istrinya.
"Ya, jangan telat makan malam, jangan rindukan mas ya, soalnya mas usahain cepat pulang 🤍"
Balas Bertrand dengan dilengkapi emoticon hati.
Marsha yang berada di apartemennya membaca balasan pesan dari Bertrand. Hanya membaca, tanpa berniat membalas.
"Sepi juga kalo gak ada si nyebelin itu." keluh Marsha.
Sebenernya, Marsha merasa aneh dengan hubungannya bersama Bertrand saat ini. Dia terkadang merasa seperti pasangan beneran dengan status pernikahan di atas kertasnya itu. Mereka tidur seranjang, bahkan terkadang dengan posisi berpelukan, eh bukan terkadang, tapi setiap malam. Marsha selalu mempersiapkan kebutuhan Bertrand, terutama sarapan pagi, terkadang Marsha menyiapkan bekal makan siang juga untuk Bertrand. Bertrand selalu memaksa Marsha salim setiap kali dia akan pergi, hingga akhirnya Marsha merasa terbiasa, bahkan akhir-akhir ini Marsha terkadang malah meraih tangan Bertrand dulu untuk di salimnya. Jangan lupa ciuman di kening setiap pagi dan setiap kali Bertrand akan pergi. Hanya sebatas itu sih, karena mereka tidak pernah melakukan sentuhan fisik lebih dari itu.
__ADS_1
Tapi tetap saja Marsha merasa aneh sendiri dengan hal itu. Mengenang bagaimana di awal mereka selalu ribut. Tapi makin kesini, Bertrand semakin dewasa, semakin mengayomi, bahkan Marsha merasa nyaman berada di dekat pria itu.
Angin bertiup, menyentuh kulit Marsha, seketika Marsha merasa dingin dan pori-pori di tangannya terbuka. Marsha segera masuk ke dalam dan menutup pintu balkon nya.
"Mending masak buat makan malam nanti. " gumam Marsha. Segera ia beranjak ke dapur apartemennya. Marsha membuka lemari pendingin, melihat beberapa bahan yang tersedia sebelum memutuskan akan memasak menu apa.
Marsha melihat bakso ikan, wortel, bunga Kol, tahu, dan daun bawang beserta seledri. Dia memutuskan untuk membuat bakso ikan saja.
--___--
Marsha menyuap malas makan malamnya. Sendiri di apartemen membuatnya kehilangan semangat makannya. Yah paling tidak, jika ada Bertrand Marsha masih ada teman cerita sambil menikmati makan malamnya.
Setelah selesai makan, Marsha memutuskan untuk masuk ke kamar. Dia ingin beristirahat lebih awal. Jam menunjukkan setengah sembilan malam. Dia meletakkan ponselnya di nakas yang berada di samping tempat tidur. Menarik selimut dan memejamkan mata.
__ADS_1
Tapi, sudah satu jam berlalu, setelah bolak balik ke kiri-kanan, bahkan sampai berputar posisi di atas kasur, Marsha tidak berhasil membuat dirinya terlelap. Marsha bangkit keluar dari kamar, lalu meraih remote TV sebelum menghempaskan tubuhnya di atas sofa, di pencetnya tombol remote untuk memilih tayangan yang menarik, tapi rasanya membosankan. Akhirnya ia pilih saja channel secara asal, dan menonton dengan ekspresi datar.
---____---