
Marsha mendadak kaku saat pintu lift di hadapannya terbuka. Dia terkejut saat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya, sepasang manusia yang berciuman di dalam lift sampai tak sadar jika pintu lift telah terbuka. Memang sepasang manusia tersebut tengah membelakanginya. Dan Marsha lebih terkejut lagi saat melihat wajah pelaku lelaki saat membalik badan menghadap nya. Lelaki itu sama terkejut nya dengan Marsha.
"Sha, kok lo gak langsung ke a... " kalimat Rista menggantung di udara saat melihat Marsha menampar seseorang. Buru-buru dia menghampiri Marsha dan berdiri di sebelahnya.
"Plakkk!!!" Marsha menampar kuat wajah lelaki itu hingga wajahnya terpaling dari Marsha.
"K-kamu disini?" panik Alvin tergagap.
"Ini yang kamu bilang acara keluarga? iya??? " bentak Marsha dengan wajah memerah.
"Kamu siapa??? main tiba2 nampar orang?" Sentak perempuan yang bersama Alvin sambil mendorong tubuh Marsha hingga membuat Marsha termundur.
"Kamu mau tau aku siapa?? Tanya sama bajingan ini!" balas Marsha.
"Vin, kamu kenal dia?" Tanya perempuan itu.
__ADS_1
"D-dia Marsha." Jawab Alvin lemah tanpa berani memandang Marsha.
"Marsha? teman kuliah yang kamu ceritain itu? yang setiap waktu gak berhenti nelpon bahkan saat kita sedang sama-sama?" Tanya wanita itu lagi.
Alvin hanya diam, tidak menjawab, wajahnya menatap Marsha dengan rasa bersalah.
"Teman kuliah? Bukannya Marsha pacar elo dari SMA? Bukan begitu Vin? " Tanya Rista sambil berjalan lebih maju ke hadapan Alvin.
Alvin semakin serba salah, dia memegang tengkuknya menatap sekeliling, mereka mulai menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disekitar mereka.
"Gak ada yang perlu di jelasin Vin, apa yang sudah aku lihat hari ini cukup menjelaskan semuanya, ternyata kamu serendah itu, bisa-bisanya kamu bercumbu di dalam lift tanpa rasa malu, selamat!!!kalian memang cocok, sama-sama rendah!" Ucap Marsha sambil menahan emosi dengan wajah yang memerah.
"Plakkk!!!" Tiba-tiba Amara menampar wajah Marsha dengan kuat.
"Jaga mulut kamu!!! Saya & Alvin sudah menikah, bahkan saya mengandung anak Alvin, jadi bukan kami yang rendahan, tapi kamu, yang berhubungan sama suami orang! " Tunjuk Amara kasar pada wajah Marsha.
__ADS_1
"M-menikah, h-hamil? " Marsha tergagap tak percaya dengan wajah yang tidak bisa disembunyikan ekspresi terkejutnya mendengar ucapan Amara.
"Iya, kenapa? kaget? atau pura-pura gak tau? perlu aku kasih bukti? " ucap Amara lagi sambil merogoh sesuatu dari tas yang ada di tangannya. Dia mengeluarkan ponselnya, menggeser sesuatu di layar ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada Marsha. Ya foto pernikahan Alvin dan Amara. Jadi, benar, Amara dan Alvin sudah menikah.
Mata Marsha memanas dan terasa perih, tidak bisa, ia harus pergi dari sini, ia tidak boleh terlihat lemah. Marsha merasa dipermainkan dan dibodohi oleh Alvin. Tanpa kata, Marsha segera berbalik badan dan pergi dengan setengah berlari meninggalkan tempatnya tadi. Rista yang melihat Marsha pergi segera menyusul sahabatnya itu.
"Sha, tunggu! " kata Rista saat sudah berhasil mengejar Marsha di basement, tempat dimana ia meninggalkan mobilnya.
"Maaf, Ris! tapi gue ingin sendiri! " ucap Marsha sambil menyusut air matanya yang sudah tak bisa di tahannya lagi itu.
"Sha, kondisi elo lagi kacau! Gue gak akan bisa biarin elo sendiri bawa kendaraan kaya gini! biar gue temani! " Kata Rista sambil merebut kunci mobil dari tangan Marsha.
"Elo mau kemana, Sha?" Tanya Rista saat mereka sudah berada di dalam mobil. Marsha hanya diam. Membuang pandangannya ke luar jendela.
Rista Mendesah pelan. "Maafin gue Sha, gue gak tau bakal kaya gini, ini di luar rencana gue, gue beneran gak tau kalo kenyataannya bakalan lebih buruk dari yang gue kira, tapi akan lebih baik elo tau di awal tentang Alvin dari pada terlanjur nanti." Ucap Rista, hanya di dalam hati.
__ADS_1
---____---