
"Sha,, Elo kenapa sih? Akhir-akhir ini gue liat elo lebih pendiam dan wajah elo lesu banget?" Tanya Mario saat mereka sedang makan siang di cafetaria.
"Mungkin gue lagi capek aja akhir-akhir ini." Jawab Marsha malas.
"Elo ada masalah ya?" Tanya Mario lagi.
Marsha menggeleng.
"Gak pa-pa kalau gak mau cerita. Tapi kapanpun elo butuh teman ngobrol dan teman untuk mengeluarkan semua uneg-uneg elo, Gue siap kapanpun elo butuh!" Kata Mario tulus.
Marsha mengagguk.
"Thanks buat perhatian elo!" Ucap Marsha pelan. Mario mengangguk. Dia gak akan memaksa Marsha untuk cerita, Karena khawatir membuat gadis itu tidak nyaman.
...***...
"Sha, nongkrong dulu yuk? elo buru-buru pulang gak?" Tanya Mario yang langsung menghampiri Marsha saat jam kantor telah selesai.
Marsha tak menjawab, dia berfikir sejenak. Sebenarnya dia benar-benar capek saat ini, tapi pulang ke rumah pun akan menambah kegundahan hatinya tentang perjodohan yang di atur kakeknya.
"Bolehlah!" Jawab Marsha akhirnya. Dan merekapun pergi dengan berboncengan motor ke sebuah cafe yang tak jauh dari kantor.
"Sha.. Marsha!!" Panggil Mario pelan sambil menepuk pelan lengan Marsha yang sedang melamun.
"Eh, kenapa?" Tanya Marsha bingung.
"Kamu melamun? Tuh mbaknya nanya kamu mau pesan apa?" Kata Mario.
"Eh maaf, aku pesan sama kaya kamu aja!" Ucap Marsha. Mario mengangguk.
"Ya udah mbak, samain aja pesanannya." Kata Mario. Waitress tersebut mengangguk, dan segera berlalu.
"Kamu lagi ada masalah ya? Semoga bisa di selesaikan dengan baik ya.." Kata Mario sambil menepuk lengan Marsha pelan. Marsha mengangguk.
"Hmm, Yo, gue boleh tanya sesuatu?" Tanya Marsha.
"Apa? Tanya aja!" Ucap Mario.
"Hmm, kalau elo diminta untuk melakukan sesuatu, tapi sebenarnya gak sejalan dengan elo? Elo bakal gimana?" Tanya Marsha.
"Ya, tergantung, sesuatu itu apa, dan siapa yang meminta." Jawab Mario.
"Misalnya, orang tua kamu minta sesuatu, tapi mengorbankan masa depan yang kamu inginkan. Kamu bakal gimana?"
"Jika itu baik, aku mungkin bakal nurutin maunya orang tua aku, gak ada orang tua yang menjebak anaknya, apa lagi kita tau selama ini orang tua kita selalu memberikan yang terbaik buat kita kan? Kadang yang kita fikir buruk atau gak baik, belum tentu lho Sha kenyataannya seperti itu." Kata Mario.
Marsha menarik nafas. Ya, Mario benar, selama ini keluarganya selalu memberikan yang terbaik untuknya, apapun itu. Baik dari materi maupun non materi, semua selalu difikirkan dan diperhatikan oleh kakek, mama, papa juga kakaknya. "Tapi kali ini, Ahhh!! Aku harus bagaimana!" Fikir Marsha. Mario memperhatikan ekspresi Marsha. Dia tau ada beban di fikiran gadis itu.
"Jadi, ada permintaan dari keluarga yang mengganggu fikiran kamu?" Tebak Mario. Marsha mengangguk lemah. Mario mengaggu-anggukan kepalanya. Ia mencoba memahami posisi Marsha. Waitress datang mengantarkan pesanan mereka.
"Kita makan dulu yuk! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat!" Ajak Mario.
"Kemana?"Tanya Marsha.
"Ada deh, Pasti kamu suka! Yuk, cepat habisin makannya sebelum hari terlalu gelap saat kita tiba disana." kata Mario.
...***...
__ADS_1
Mario membawa Marsha ke sebuah tempat yang sangat luas seperti gudang yang dikelilingi tembok besar. Penjaga gudang seperti mengenal Mario dan mengizinkan Mario masuk ke kawasan tersebut.
"Ayo turun!" Kata Mario sambil menghentikan mesin motornya.
"Ini dimana? Ngapain ke sini?" Tanya Marsha.
"Udah, turun, Yuk!!" Ajak Mario. Marsha menurut. Dia turun dari motor. Mario segera menggandeng tangan Marsha. Dia mengajak Marsha setengah berlari menuju belakang gedung, membuka kunci pintu tembok belakang dan membuka pintunya. Marsha terperangah. Ternyata di belakang gedung tersebut terbentang lautan, ada sebuah dermaga disana.
"Sini!" ajak Mario untuk menuruni dam yang yang terdapat di sepanjang tembok gudang bagian belakang. Ada sedikit area pantai yang tersisa, dengan pasir bercampur cangkang kerang. Angin laut mambelai wajah Marsha, sangat segar.
"Ya, ampun!!! Ini bagus banget pemandangannya!" Kata Marsha takjub.
"Aku, kalau lagi suntuk sering banget kesini, sendiri! Dan baru kali ini bawa seseorang!" Kata Mario.
"Oya? Emang kamu tau dari mana ada tempat sebagus ini?" Tanya Marsha.
"Sini!" Kata Mario sambil menarik lengan Marsha.
"Coba kamu naik ke sini!" Kata Mario sambil membantu Marsha menaiki sebuah batu yang ada di balik sebuah pohon.
"Coba kamu teriak yang kencang!!!" Kata Mario.
"Ha??" Kata Marsha.
"Teriak! Aaaaaaaaa!!!!!!" Kata Mario.
Marsha masih berdiri kaku, ragu untuk melakukan seperti apa yang Mario lakukan.
"Udah, kok ragu gitu, teriak aja, gak bakal ngurangin kecantikan kamu kok!" Kata Mario.
"Aaaaa!!!!!!!!" Teriak Marsha tertahan.
"Ayooo, coba lagi yang lepas teriaknya!!!" Kata Mario.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!" Kata Marsha, kali ini dia lebih lepas.
"Ayo,, teriak lagi, sampai rasa sesak di hati kamu berkurang, dan kamu bisa kembali berfikir dengan tenang!" Kata Mario.
Marsha kembali berteriak, berkali-kali! Sampai ia benar-benar merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Thanks, Yo!" kata Marsha tulus.
"Ur Welcome!" Jawab Mario tak kalah tulus.
Angin memainkan rambut Marsha, menutupi sebagian wajahnya, tapi tak mengurangi sedikitpun kecantikan Marsha.
Mario duduk di pasir, Hari mulai senja, dia menatap lurus ke hamparan laut di hadapannya. Marsha mengikuti Mario duduk di samping lelaki itu. Langit berwarna keemasan. Mereka berdua duduk dalam diam menikmati keindahan yang terbentang di hadapan mereka. Suasana yang hening dan tenang turut menenangkan kegundahan di hati Marsha. Hanya suara riak ombak kecil yang sesekali terdengar.
Ponsel Marsha berbunyi memecah keheningan. Marsha meraih ponselnya dan melihat nama Andrew tertera di layar.
"Sha, kamu dimana?" Tanya Andrew begitu Marsha menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
"Iya kak, aku di.." Kata Marsha bingung.
"Iya, kamu dimana?" Tanya Andrew.
"Aku lagi sama teman, bentar lagi pulang!" Jawab Marsha.
__ADS_1
"Kakak jemput ya?" Kata Andrew, terdengar rasa khawatir dari nada bicaranya.
"Gak perlu kak, aku mau pulang kok." Jawab Marsha.
"Ya sudah, kamu hati-hati!" Pesan Andrew. Marsha memutus panggilan tanpa menjawab pesan Andrew.
Mario mendengar pembicaraan Marsha. Dia segera bangkit begitu Marsha menyelesaikan teleponnya.
"Yuk pulang, nanti kemalaman!" Kata Mario sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Marsha berdiri. Marsha meraih tangan itu, dan bangkit dari duduknya.
...***...
"Beneran cuma di antar sampai sini?" Tanya Mario saat Marsha memintanya untuk mengantarnya ke sebuah swalayan.
"Iya, disini aja, sekalian ada yang mau aku beli!" Ucap Marsha. Padahal sebenarnya Marsha sudah meminta supir keluarganya untuk menunggunya di sini.
"Ya sudah, Aku pulang, tapi aku beneran gak pa-pa?" Tanya Mario.
"Aku sudah jauh lebih baik, terima kasih ya!" Kata Marsha tulus. Mario tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya. Lalu melajukan motornya ke jalanan.
...***...
Marsha membawa satu kantong belanjaan saat keluar dari swalayan. Dia melihat salah satu mobil keluarganya terparkir di halaman swalayan tersebut. Marsha segera menuju ke mobil tersebut dan membuka pintunya.
"Jalan pak!" Kata Marsha tanpa melihat siapa yang berada di belakang setir.
"Pindah ke depan dulu!" Kata sosok di belakang setir. Marsha mengangkat wajahnya menatap ke depan.
"Loh, Kak Andrew, kok kakak yang jemput?" Tanya Marsha.
"Iya, kakak sengaja, Kakak khawatir sama kamu!" Kata Andrew.
"Aku gak pa-pa kak, aku sudah jauh lebih baik!" Jawab Marsha.
"Ya sudah, sini pindah ke depan!" Kata Andrew lagi. Marsha membuka pintu mobil dan berpindah duduk di samping Andrew.
"Sudah makan?" Tanya Andrew sambil menjalankan mobilnya. Marsha mengangguk.
"Tadi kamu dari mana? sama siapa?" Tanya Andrew.
"Aku jalan sama Mario kak!" Jawab Marsha jujur. Andrew mengangguk.
"Kamu cerita masalah kamu sama Mario?" Marsha menggeleng. Andrew menatap adiknya. dalam.
"Maafin kakak ya, kakak gak bisa bantuin kamu!" Kata Andrew pelan.
"Bukan salah kakak!" Jawab Marsha.
"Sudah tau apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Andrew lagi.
Marsha mengangguk.
"Apapun itu, semoga yang terbaik ya..!" Kata Andrew sambil menggenggam tangan adiknya memberi kekuatan.
"Makasih kak!" Jawab Marsha pelan sambil memaksakan senyum di wajahnya.
...***...
__ADS_1