
"Ini laporan hasil audit dan investigasi kami pak!" Kata pak Ronald sambil menyerahkan. laporan yang dibuat oleh timnya.
Andrew langsung mengambil berkas itu dan membacanya dengan teliti. Andrew menekan bel yang ada di mejanya. Tak lama sekretarisnya masuk ke ruangan Andrew.
"Segera siapkan rapat, semua harus hadir! saya tunggu satu jam ke depan." Perintah Andrew yang langsung direspon sekretarisnya itu.
"Oke, pak Ronal silahkan keluar dulu, persiapkan segala sesuatunya untuk diekspos saat rapat." Kata Andrew.
"Baik pak! Saya permisi dulu." Kata Pak Ronald.
...***...
Suasana di ruang rapat sangat tegang, tak ada yang berbicara. Andrew mengetuk-ngetuk jarinya di meja sambil menatap satu persatu karyawannya, sementara adiknya sendiri dengan santainya menjentik-jentikan kukunya, Mario yang di duduk di sebelahnya sesekali nyengir melihat kelakuan Marsha yang begitu santuy.
"Sudah 10 menit! Ada pembelaan?" Kata Andrew.
Seorang Divisi akhirnya membuka suara. Dia tidak membela diri, tetapi mengakui kesalahan yang memang ia sengaja. Kepala divisi bersedia mengganti dan menerima sangsi dari perusahaan.
Andrew tersenyum mendengarnya. Dia menyerahkan selembar kertas kepada kepala Divisi tersebut, dan memintanya membuat surat pernyataan di atas materai.
"Temui kepala HRD!" Perintah Andrew.
Kepala Divisi tersebut mengangguk.
"Dengan adanya permasalahan ini, perusahaan akan melakukan rolling dan mutasi staf dan jabatan. Jadi semuanya harus bersiap-siap. Jangan pernah mengulangi kesalahan seperti ini. Jika ada Keberatan dengan kebijakan perusahaan silahkan sampaikan dengan bijak. Atau ada hal-hal lain yang menyangkut pribadi, sampaikan ke pada atasan masing-masing. Jangan melakukan kesalahan yang bukan hanya merugikan perusahaan, tapi juga diri sendiri.
Dan satu lagi, jangan sampai saya mendengar adanya permusuhan dan dendam antara pihak satu dengan yang lainnya karena temuan-temuan yang disampaikan hari ini! Saya harap semua bisa memahami dan memaklumi nya." Ucap Andrew dengan tegas. Dia lalu segera beranjak meninggalkan ruang rapat.
Semua akhirnya bisa bernafas lega.
"Maaf pak Ronald, karena kesalahan saya semua menjadi kena imbasnya." Kata kepala Divisi tersebut.
"Sama-sama pak, semoga kedepannya semua bisa berjalan baik dan sesuai aturan. Sebaiknya bapak segera temui kepala HRD, biar semua bisa di selesaikan."
"Saya tidak tau nasib saya seperti apa selanjutnya!" Katanya. Pak Ronald hanya diam saja mendengarnya.
"Saya rasa perusahaan tidak akan menghukum bapak begitu saja, mereka akan mempertimbangkan juga dengan prestasi dan dedikasi bapak sebelumnya untuk perusahaan. Biar bapak gak deg-degan lama, sebaiknya bapak segera ke HRD." Saran Marsha sambil tersenyum. Karena dia sudah tau keputusan yang Andrew ambil seperti apa.
...***...
"Sha!"
"Hmm..!"
"Aku curiga kamu beneran mata-mata deh! kok kamu sepertinya sangat mengenal perusahaan ini dibanding aku yang sudah lama nyemplung disini!" Kata Mario penasaran.
Marsha tak menjawab, mulutnya masih mengunyah makanan yang baru saja dimasukan ke dalam mulutnya. Mereka sedang beristirahat sambil menikmati makan siang di cafetaria yang disediakan perusahaan. Setelah mulutnya kosong, baru dia berbicara.
"Terus kalau iya gimana?" Tanya Marsha cuek.
"Aku serius loh, Sha!!!"
__ADS_1
"Tapi aku lagi pengin bercanda!"
"Apaan sih elo, Sha!!! Gak asik banget!!" gerutu Mario. Marsha tertawa.
"Lagian elo ada-ada aja!"
"Ya bukan gitu, tapi.. ah sudahlah!"
"Yang jelas itu tanda kalau aku ini benar-benar karyawan perusahaan yang kompeten dibandingkan kamu!" Kata Marsha sambil terkekeh.
"Eh, tapi tadi kata pak Andrew ada rolling dan mutasi, kira-kira kita bakal dilempar kemana ya?" Kata Mario.
"Elu pikir bola apa pake di lempar!" Kata Marsha lagi.
Mario yang gemes dengan sikap Marsha tak tahan untuk tidak mengkekep gadis itu. Marsha yang kaget langsung memukul lengan Mario yang mengkekepnya.
"Marioooo!!! lepasin gak!" Kata Marsha.
"Gak! Sebelom elo mau ngomong yang manis sama gue!!!" Kata Mario tak mau kalah. Marsha yang tak kehabisan akal menggigit lengan Mario.
"Aww!!! Sakit Sha!!!" Jerit Mario tak tertahan. Seketika dia melepaskan kekepannya.
"Makanya, jangan usil!" Kata Marsha. Dia segera bangkit dari duduknya.
"Eh, Sha, mau kemana? aku belum kelar makan ini!"
"Balik ke ruangan!" Kata Marsha. Lalu dia meninggalkan Mario di cafetaria.
...***...
"Ya cuma teman aja kak, gak lebih!"
"Oya? Kamu yakin?" Tanya Andrew.
"Iya kak. Aku gak ada perasaan apapun sama Mario. Cuma teman aja. Lagian kakak kenapa sih?" Tanya Marsha.
"Kakak cuma gak mau patah hati dan kecewa!"
"Maksud kakak?"
"Kakak minta kamu sementara fokus dengan pekerjaan kamu. Jangan mikirin urusan percintaan dulu. Paham?" Kata Andrew serius.
Marsha menatap kakaknya, dia merasa heran dengan sikap Andrew. Tapi dia juga bisa merasakan nada Andrew yang serius dan tidak boleh di bantah.
"Iya kak!" Jawab Marsha pelan.
"Good!!" Jawab Andrew sambil mengacak pelan rambut adiknya.
"Kalau ada masalah di kantor, jangan ragu untuk kasih tau kakak, kamu harus bisa belajar cepat tentang seluk beluk perusahaan keluarga kita. Kamu akan kakak pindahkan ke bagian lain!" Kata Andrew lagi.
"Iya kak!" Jawab Marsha pelan. Dia tak akan pernah bisa menolak keinginan keluarganya, selama itu tidak menyangkut hal yang prinsipil.
__ADS_1
"Mungkin kamu merasa kakak terlalu otoriter saat ini, tapi percayalah, kakak cuma mau yang terbaik untuk kamu. Ingat semua kata-kata kakak!"
"Iya kak, aku tau!" Jawab Marsha.
"Ya sudah kamu balik ke ruang kerja kamu. Kerja yang fokus!" Kata Andrew lagi.
Marsha mengangguk. Dia segera keluar dari ruangan Andrew dan kembali ke ruang kerjanya.
...***...
Andrew tercenung memikirkan apa yang akan terjadi dengan Marsha nanti. Saat jam makan siang, secara tak sengaja dia melihat Marsha dan Mario sedang makan siang bersama, dia bisa melihat bagaimana kedekatan adiknya dan Mario. Melihat hal itu, dia menjadi sangat takut karena teringat pembicaraannya dengan kakeknya waktu itu tentang keinginannya menjodohkan Marsha dengan anak teman karibnya.
Dia khawatir ada benih-benih cinta antara adiknya dan stafnya itu. Marsha pasti akan patah hati jika dia tau dia justru sudah di jodohkan dengan pria lain yang bukan pilihannya.
Dia sangat yakin dan percaya rencana kakek tentang perjodohan ini tidak main-main. Karena kakek sudah mempersiapkan dengan matang.
Marsha anak yang penurut, tapi dia juga memiliki sisi lain yang keras. Andrew tidak bisa membayangkan jika Marsha justru menolok untuk di jodohkan, karena kakek juga pasti akan sama kerasnya.
"Maafkan kakak Sha, kakak gak tau harus bagaimana dengan situasi ini!" Keluh Andrew.
...***...
"Sha, kamu dari mana? aku dari tadi nyariin loh!" cecar Mario sambil berbisik.
"Toilet!" jawab Marsha pendek.
"Kok lama banget!"
"Perut gue gak enak, makanya gue buru-buru pergi. Gak asyik kan kalau tadi aku langsung bilang ke toilet waktu di cafetaria?" Kata Marsha.
"Hehe, bener juga ya!" Kekeh Mario.
"Udah ah, jangan ngobrol terus. Gak enak sama yang lain. Kalau ketahuan pak Arnold bisa di marahin kita!" Kata Marsha sambil fokus ke komputer yang ada di hadapannya.
...***...
"Sebenarnya ada apa ya? dari kemaren kak Andrew kelihatan banget sangat khawatir sama aku, tapi dia gak mau ngomong!" Gumam Marsha.
Marsha bisa melihat dan merasakan ke khawatiran Andre melihat kedekatannya dengan Mario.
"Apa kak Andrew tau sesuatu tentang Mario ya? Tapi apa? Terus kenapa? Sejauh ini Mario baik kok, kerjanya juga bagus."
"Aah, tau deh, yang penting sejauh ini gue benarkan gak punya rasa sama sekali dengan Maria atau lelaki manapun. Aku fokus sama kerjaan dan tujuan aku buat menabung!" Katanya Marsha lagi. Dia tersenyum membayangkan impiannya dibisnis properti bisa terwujud.
...***...
Terima kasih sudah bersedia mampir dan meluangkan waktu membaca novel karya saya😊💐🙏
Mohon dukung karya saya dengan klik suka, berikan vote dan tinggalkan saran dan kesan di kolom komentar ya kak😊😊😊
Sekali lagi, Terima kasih😊💐🙏
__ADS_1