When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah

When Miss Nyolot & Mr. Arrogant Dipaksa Menikah
Pembicaraan Serius


__ADS_3

Marsha baru saja melangkahkan kaki keluar dari gedung kantornya saat Bertrand tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Gue mau ngomong sama elo! Bisa?" Tanya Bertrand tanpa basa basi.


"Bisa!" Jawab Marsha.


"Ikut gue!" Kata Bertrand. Marsha mengikuti lelaki itu tanpa bersuara. Bertrand membukakan pintu depan mobilnya. Marsha masuk dan duduk di dalam mobil Bertrand. Bertrand segera menyusul masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya ke suatu tempat.


Bertrand menghentikan mobilnya. Mereka berhenti di sebuah cafe & resto yang jauh dari keramaian. Tempat yang asri dan nyaman, terdapat kolam dengan jembatan di tengahnya, serta taman bunga yang di tata apik. Tempat ini seperti taman mini yang indah. Kursi dan meja tersusun rapi dalam pondok-pondok yang terbuka. Bertrand berjalan menuju tempat yang paling ujung dan agak jauh dari pengunjung lain. Marsha mengikuti dari belakang. Waitress mengikuti mereka dan setelah tamunya duduk dia memberikan daftar menu. Marsha hanya memesan minuman, begitupun dengan Bertrand.


Sejenak mereka hanya saling diam. Hingga akhirnya Bertrand membuka suara.


"Aku tahu kamu pasti tidak bisa menolak permintaan kakek mu, dan aku pun sama. Tapi, jangan kira aku dengan suka rela mau menikah dengan mu! Kamu salah! Aku cuma gak mau di coret dari daftar ahli waris!" Ucap Bertrand Ketus


"Kamu fikir aku mau begitu saja dengan sukarela menikah dengan kamu? Kamu salah besarrrr!!! kamu sama sekali bukan tipe ku! Aku terpaksa menerima perjodohan ini karena gak mau di cap anak durhaka!!" Ketus Marsha tak mau kalah.


mereka saling memandang keki, lalu membuang muka kearah yang berlawanan.


"Oke! jadi benar, dia juga pastinya tidak bisa menolak keinginan kakeknya. Adiwijaya dan Hutama sama-sama dua orang yang tidak bisa dan tidak boleh di tolak. Percuma menolak, mereka akan semakin keras berupaya untuk membuat kami menerima permintaan mereka!" Batin Bertrand di dalam hati. Bertrand menarik nafasnya. Baru saja dia akan membuka suara, Waitress datang membawa pesanan mereka. Bertrand menunggu sampai Waitress itu pergi dan menjauh dari tempat mereka.


"Gue mengajak elo kesini bukan untuk cari ribut, tapi membicarakan perjodohan yang di atur keluarga kita. Jadi, intinya sama! Elo ataupun gue gak mampu untuk menolak permintaan keluarga kita, opss bukan permintaan, tapi perintah agar kita menikah!" Kata Bertrand. Marsha mengangguk lesu.


"Jadi gimana menurut elo?" Tanya Bertrand. Sejenak Marsha terdiam.


"Kita terpaksa melakukan pernikahan ini, Hubungan kita juga gak baik, selain gue gak kenal elo dan elo juga sebaliknya. kita sama-sama gak bisa bisa menerima perjodohan ini, dan juga gak punya kemampuan untuk menolak. Tapi kita terpaksa harus menjalani ini. Gue gak tau pernikahan seperti apa nantinya yang akan kita jalani. Jadi, gue ingin sebelum pernikahan ini terjadi, kita membuat perjanjian yang berisi poin-poin yang akan kita buat dan kita sepakati bersama, agar nantinya tidak ada pihak yang di rugikan!" Kata Marsha jelas.


"Gue mau menjalani pernikahan ini, tapi hanya satu tahun! Karena gak mungkin seumur hidup gue dan elo terikat sesuatu yang sama-sama gak pernah kita inginkan. Dan gue setuju sama elo, kita harus membuat perjanjian di atas kertas sebelum menjalani semua ini nantinya!" kata Bertrand lagi.


"Oke, gue setuju! Satu tahun!" ucap Marsha. Dia pikir satu tahun bukan waktu yang lama. walaupun tak bisa di bilang sebentar.


"Elo ada bawa pulpen dan kertas?" Tanya Bertrand. Marsha mengangguk. Dia mengeluarkan pulpen dan kertas dari tas nya. Bertrand menulis sesuatu di sana. Lalu dia meminta Marsha menulis poin yang Marsha inginkan.

__ADS_1


"Gue belum memikirkan semua poin yang gue inginkan, gue gak bisa menulisnya sekarang." kata Marsha.


"Tak masalah, elo tulis apa yang elo ingat terlebih dahulu. Gue juga belum final dengan semua poin-poin itu. Tapi secepatnya elo fikirkan apa aja poin penting elo, dan kita akan menyalinnya di selembar kertas bermaterai!" Kata Bertrand. Marsha setuju.


"Sip!!! Kalau gitu cukup pembicaraan kita hari ini. Nanti secepatnya gue kasih poin-poin dari gue." Kata Bertrand.


"Oke!" Jawab Marsha.


Bertrand memanggil waitress, membayar minuman mereka. Setelah itu dia beranjak. Marsha mengikuti Bertrand keluar dari tempat itu. Bertrand berjalan menuju mobilnya, membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Marsha membuka pintu di sebelah Bertrand dan duduk di samping cowok itu. Kening Bertrand berkerut.


"Ngapain elo ngikutin gue?" Tanya Bertrand.


"Ngikutin elo? Hei, gue kesini bareng elo, elo yang ngajak dan jemput gue di kantor, jadi elo wajib ngantar gue pulang!!!" Kata Marsha kesal.


"Gue fikir elo bisa pulang sendiri!" Ledek Bertrand.


"Gue gak tau ini dimana, lagi pula elo nyari tempat yang sepi begini! Elo lihat gak ada kendaraan umum yang lewat!" Dumel Marsha.


Bertrand menghentikan mobilnya, di tatapnya gadis yang tertidur di sebelahnya. Dia bisa melihat kelelahan di wajahnya, bahkan matanya terlihat lebih sayu dan sembab dari yang terakhir Bertrand lihat. Bertrand teringat pertama kali dia bertemu gadis ini, Marsha gadis yang lincah dan berani, bahkan tanpa sedikitpun rasa takut dia mendebat Bertrand. Dan jujur, Marsha sebenarnya gadis cantik, senyumnya selalu terukir setiap kali ada yang menyapanya. Bahkan Ardi juga mengakui Marsha cantik dan pernah jalan dengannya.Tiba-tiba Bertrand tersadar saat mengingat nama Ardi.


"Huh! Ngapain juga gue mikirin ni orang!" Gumam Bertrand. Dia kembali melajukan mobilnya. Mengantar gadis itu menuju rumahnya.


Bertrand berhenti di depan gerbang kediaman Marsha. Di bukanya jendela mobil saat seorang security menghampiri gerbang. Security tersebut mengingat wajah Bertrand yang beberapa waktu lalu berkunjung bersama keluarganya ke kediaman tuannya.


Security segera membukakan pagar, dan kebetulan mobil Adiwijaya tepat berada di belakang mobil Bertrand. Bertrand segera masuk ke halaman kediaman Adiwijaya dan keluarganya yang luas, di parkirkannya mobilnya di halaman. Mobil Adiwijaya melewatinya, dan berhenti tepat di depan pintu. Bertrand segera keluar dari mobilnya, dia menundukkan kepala saat Adiwijaya turun dari mobil pribadinya dan menoleh ke arah Bertrand. Tanpa ragu Adiwijaya menghampiri Bertrand.


"Bertrand, ada apa kemari? kok tidak kasih kabar dulu?" Tanya Adiwijaya.


"Iya kek, aku cuma mengantar Marsha!" Jawab Bertrand canggung.


"Marsha?" Tanya Adiwijaya dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Di dalam mobil kek, ketiduran!" Kata Bertrand salah tingkah.


"Owh!" Kata Adiwijaya sambil tersenyum menatap Bertrand penuh arti.


"Ya sudah, bangunkan saja! Kakek masuk dulu. Kamu juga silahkan mampir dan masuk dulu!" Kata Adiwijaya sambil menepuk bahu Bertrand.


Bertrand hanya menganggukkan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


""Kayaknya kakek Marsha salah paham!" Gumam Bertrand. Setelah Adiwijaya masuk. Bertrand membuka pintu di samping Marsha.


"Hei, Bangun!!!" Kata Bertrand sambil menower lengan Marsha.


"Hmm!" Gumam Marsha sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Ya elah, makin enak dia tidur, gimana banguninnya!" Gumam Bertrand. Tiba-tiba Bertrand melihat air mineral yang ada di atas dasbor, dia ambilnya botol air mineral tersebut, lalu dibuka dan di tuangnya isi botol tersebut ke tangannya, dan dipercikkannya ke wajah Marsha, berulang kali. Marsha menggerakkan wajahnya, tak lama dia mengerjab-ngejabkan matanya.


Dia merasakan wajahnya basah, dikumpulkan konsentrasinya, saat dilihatnya Bertrand yang masih memegang botol air mineral seketika wajahnya berubah galak.


"Elo nyiramin muka gue?" Tanya Marsha ketus.


"Siapa suruh elo gak bangun-bangun!" Jawab Bertrand tak kalah ketus.


Marsha melengos. Matanya terbelalak saat dia dan Bertrand ternyata sudah berada di depan rumah.


"Ngapain elo antar gue ke rumah? harusnya elu antar gue balik ke kantor!" Kata Marsha panik, dia segera keluar dari mobil Bertrand.


"Heh, udah untung gue antar ya elo pulang, bukannya bilang terima kasih malah nyalahin gue! Emang ada Elo ngomong minta antar kemana? yang ada elo enak-enakan tidur di mobil gue." Gerutu Bertrand.


"Ahh, masa bodoh, elo cepat pulang, sebelum ada yang lihat, nanti gue di kira macam-macam lagi pulang sama elo!" Kata Marsha sambil mendorong Bertrand masuk ke dalam mobilnya.


"Yang ada kakek elo malah udah ngobrol sama gue!" rutuk Bertrand, tapi hanya di dalam hati. Dia segera memutar mobilnya, dan pergi meninggalkan kediaman Adiwijaya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2